O5. can i hug you?

1.9K 199 13
                                        

"Kamu bukannya belajar lebih giat, lebih mandiri malah kamu lebih seenaknya ya. Duit sepuluh juta seminggu kamu apain aja hah?! Kamu kira cari duit itu gampang?!"

Yura yang sedang dimarah papanya cuma bisa nunduk diem sembari meremat ujung kaosnya saja. Tubuhnya sudah gemetar hebat. Papanya kalau marah gak tanggung-tanggung. Uang sepuluh juta itu? Hilang. Hilang bersama kartu kreditnya.

Yura tidak tau bagaimana bisa tetapi ia baru menyadarinya sekarang. Ia baru sadar kalau kartu kreditnya yang berisi uang jajan dari papanya itu hilang entah dimana.

Dan si pencuri sudah menggunakan benda itu dengan nominal sebesar sepuluh juta.

"Pah, Yura gak—–"

"Diem! Masih berani kamu jawab?!!"

Yura nunduk lagi. Walaupun bukan sekali ini papanya marahin dia tapi ini yang paling sadis diantara yang lainnya.

Wajar sih, duit segitu banyaknya hilang dan diambil gitu aja siapa yang gak marah? Mana bukan cuma duitnya, kartu kreditnya juga ikutan hilang.

Tapi sayang papanya gak tau kalau kartu kredit putri bungsunya itu hilang. Terlalu marah sampai gak mau denger penjelasan Yura sedikit pun.

"Papa kira kamu bakal bisa belajar menghemat uang dan make uang untuk hal-hal yang penting aja. Kamu kira papa kerja cuma buat nafkahin kamu aja? Sekarang papa tanya, kamu apain uang sebanyak itu? Kamu pake pacaran? Hah?!"

Pengen nangis? Iya. Tapi Yura tahan. Gak akan mempan kalo nangis di depan papanya. Gak akan buat papanya berhenti marahin dia. Itu bahkan malah buat papanya semakin ada bahan buat marahin dia lebih keras lagi.

Disana ada Jaehyun yang ngeliat drama pertikaian antara anak dan bapak ini dengan hikmat. Bukannya Jaehyun gak mau bantuin Yura, dia juga takut bergerak kalo papanya lagi mode maung kayak gini.

"Kenapa diem aja?! Jawab papa!!"

Jaehyun mau ketawa, tapi masih bisa liat situasi kondisi.

"T-tapi tadi papa suru diem.."

"Yura kamu jangan buat papa jengkel ya! Kamu kenapa jadi kayak gini hah?! Kemaren papa dapet laporan katanya nilai kamu dari semester ke semester selalu turun. Pacaran boleh tapi jangan jadiin itu akibat kamu semakin buruk kayak gini!"

Yura mejamin matanya, nahan nangisnya, nahan gimanapun pokoknya air matanya gak boleh sampe keluar didepan papanya.

"Sebelum marah papa boleh tanya dulu kok kenapa uang segitu banyaknya bisa hilang. Aku punya mulut buat jawab pertanyaan itu, pah.." cicitnya dengan suara bergetar yang membuat sang papa mengangkat satu alisnya.

Yura menghela berat lau mengusap air matanya yang hendak keluar dari matanya.

"Aku tau aku salah, aku lalai jaga barang berharga. Tapi gak akan ada gunanya kalo papa marahin aku gini. Uang itu gak akan balik pah..!"

"JUNG YURA!!"

"Seharusnya papa bantuin aku, kartu kredit itu masih ditangan orang gak bertanggung jawab. Kalo gak mau dia gunain uang itu lebih ya blokir, bukannya marahin aku karena aku gak tau apa-apa dan aku gak bisa apa-apa.."

Dengan mata yang sudah berkaca-kaca itu Yura memberanikan dirinya manatap mata papanya yang menatapnya tajam itu.

Dia benar kan? Papanya boleh memarahinya, tetapi dengan marah ia tidak akan mendapat apa-apa. Uangnya tidak akan kembali begitu pula dengan kartu kredit Yura.

"Saat anak-anak lain dapet dukungan belajar dan semangat dari orang tuanya untuk ujian nanti, Yura enggak. Papa malah pergi, sibuk sama dunia papa sendiri, trus pulang-pulang udah marahin Yura.." ucap gadis Jung itu yang diakhiri tawa miris disertai air matanya yang mulai terjun bebas dari matanya.




Mistake ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang