Hyunjin menggenggam tangan wanita yang terbaring lemah di bangsal dihadapannya itu hingga si gadis mengerjap sampai membuka matanya perlahan.
"Hyunjinn.."
"Iya, ini aku, apanya? Apanya yang sakit?"
Bukannya membalas pertanyaan Hyunjin, Yura hanya meringis kecil memegangi perutnya. Mungkin masih sedikit terasa nyeri akibat benturan tadi.
"Perlu aku panggil dokter gak?" tanya pemuda itu yang dengan cepat diberi gelengan oleh Yura.
"Gak usah, aku baik-baik aja."
Aku?
Baiklah, mungkin mulai dari sekarang mereka harus terbiasa dengan panggilan itu.
Hyunjin menghela napasnya, mengelus pelan pucuk kepala Yura, merapikan anak-anak rambutnya yang berantakan kemudian mengecup sekilas dahi istrinya itu.
"Kamu tuh buat aku khawatir. Kenapa kamu nyiksa adek? Apa kamu gak mikirin keadaan adek di dalem gimana? Kenapa kamu pake korset segala?"
Yura mengalihkan pandangannya dari Hyunjin setelah mendengar pertanyaan beruntun dari suaminya itu. Ya, memang benar ia sengaja menggunakan korset. Tapikan itu dapat membuat perutnya sedikit tak terlihat buncit seperti orang hamil.
Melihat Yura yang seperti enggan menjawab, Hyunjin menarik kursi yang ada di dekat sana lalu mendudukan dirinya di sebelah bangsal Yura. Masih dengan tangan mereka yang saling bertautan.
"Raa.."
"Tanpa aku jawab juga kamu bakal tau kan jawabannya.."
"Janji sama aku setelah ini gak ada lagi korset-korsetan?!"
Gadis itu menghela napas pendek lalu menganggukkan kepalanya pelan. Lagipula kan kelulusan sudah selesai, ia tidak perlu menutupi perutnya lagi sekarang.
"Ra, Heejin tadi gak nyakitin kamu kan??" tanya Hyunjin yang membuat Yura terdiam, menatap Hyunjin ragu.
Apa Yura harus jawab tadi Heejin sempat mendorongnya sampai punggungnya terpentok keras di tembok dan sempat menampar pipinya sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah?
Tidakkah itu terdengar seperti Yura sedang berusaha mengompor-ngompori Heejin di depan Hyunjin?
"Tadi aku lihat pipi kamu merah sama itu sudut bibir kamu luka. Muka kamu gak sampe kena bola kan?"