21. the graduation

1.5K 149 11
                                        

Siapa sangka, hari yang paling dinanti-nanti semua siswa dan siswi ini menjadi hari yang paling didoakan musnah oleh Jung Yura. Hari dimana ia harus berpenampilan normal, layaknya anak gadis pada umumnya, dengan perutnya yang sedikit membuncit. Apakah bisa?

Dengan dress berwarna navy selutut itu, Yura cemas. Pasalnya, karena tubuhnya yang terbilang kurus itu berhasil menampakan perutnya yang sekarang ini sedang mengandung tiga bulan hendak memasiki bulan keempat itu.

"Kenapa dress lo gak senada sama gue?"

Mendengar sebuah protes dari makhluk yang tiba-tiba muncul di balik pintu masuk membuat Yura menoleh ke arahnya kemudian mengerutkan dahinya bingung.

"Lo aja gak pake jas," balasnya.

Yap, Hyunjin belum memakai jasnya. Kan dia mau tampil ngisi acara untuk acara nanti, jadi dia hanya memakai celana jeans berwarna hitam, kaos putih, dan juga sneaker putih.

Dia, sangat, tampan kalau Yura boleh jujur.

"Y-ya kan setidaknya pakaian kita senada. Nanti gue pake jas putih."

"Kenapa harus? Jin, kita dimata anak-anak sekolahan itu bukan suami istri loh. Mereka semua taunya lo sama Heejin dan gue sama Jaemin.." ucap Yura.

Hyunjin mendengus malas lalu menutup pintu kamarnya. Ia kemudian menatap gadis yang berstatus istrinya itu kesal sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Gue tau, tapi buat apa disembunyiin lagi? Setidaknya mereka harus tau kalo kita udah gak berhubungan lagi sama pacar-pacar kita yang lama. Kalo lo gini terus gimana hubungan kita bisa maju?"

pranggg!!!

"EHHH! AYAM AYAM! WOY! UDAH GILA LO KAMPRET!"

Hyunjin tersentak kaget bahkan sampai punggungnya menabrak pintu. Siapa yang tak kaget, Yura tiba-tiba melempar cermin kecil miliknya itu sampai pecah berkeping-keping di lantai.

"Coba satuin lagi biar kaya semula.." ujar Yura yang membuat Hyunjin mengerutkan dahinya bingung.

"Ya gak bisa lah, kan retakannya keliatan," jawab Hyunjin yang membuat gadis itu tersenyum sarkas.

"Iya, kayak hubungan kita. Yang awalnya utuh kayak gini..." Yura menunjuk cermin meja rias di depannya, "karena ada masalah jadi pecah kayak gitu," ia kemudian menunjuk cermin yang pecah belah di lantai kamarnya.

"Walaupun lo coba perbaiki pun gak akan kembali utuh lagi kan, ada retakannya kan??"

Hyunjin bungkam, yang dikatakan Yura itu benar. Ya, benar sekali. Tapi ini berbeda situasi, berbeda kondisi. Apakah nanti mereka akan tetap seperti ini setelah anak mereka lahir? Tetapi dingin-dinginan seperti ini?

Yura menghela napasnya kemudian berjalan ke arah pecahan cermin itu, ia lalu memunguti beling-beling kaca yang berserakan di lantainya, sampai telapak tangannya tak sengaja tergorek pecahan itu.

Gadis itu tak berekspresi, tak merasakan sakit apapun, hanya darah segar yang terus keluar dari telapak tangannya. Hyunjin hanya memperhatikan gerak-gerik istrinya itu. Setelah selesai Yura membuangnya di tempat sampah lalu mengelap tangannya yang berdarah itu dengan tissu.

"Apa itu ilustrasi lain lo nahan sakit selama sama gue? Lo gak bahagia sama gue? Bahkan lo keliatan biasa aja pas tangan lo berlumuran darah gitu..?"

"Karena emang gak sakit."

Hyunjin merotasikan matanya malas. Dulu Jung Yura tidak seperti ini. Yura tidak sedingin dan setengil ini. Seakan-akan Hyunjin lah yang paling bersalah disini.

Mistake ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang