"Ayah lembur ya, Bun?"
Kepala Ayana berputar ke belakang, melihat Bunda sedang mencuci piring bekas Nina makan sementara ia mengambil sebotol air mineral dingin di lemari es.
"Kayaknya sih, iya. Akhir-akhir ini Ayah emang sering lembur, kan?" Bunda membasuh tangannya dengan air bersih kemudian menatap Ayana yang ada di samping kirinya. "Ngapain tiba-tiba nanyain Ayah?"
Ayana menegak setengah gelas air putih sebelum menjawab. "Motor aku tadi sempat mogok di jalan, Bun. Pengen ngadu ke Ayah."
"Motor mogok kok ngadu ke Ayah bukannya ke bengkel," cibir Bunda membuat Ayana merengut. "Terus gimana ceritanya bisa mogok gitu?"
Ayana mendengus. "Nggak tahu. Di tengah perjalanan tiba-tiba aja mesinnya mati. Terus aku dorong. Tapi nggak nemu-nemu bengkel. Untungnya ketemu temen dan dia bantu benerin." Tepat di bagian kalimat terakhir Ayana tersenyum. Entah karena lega atau apa, rasanya menyenangkan jika mengingat ia bertemu teman yang dia bilang—bantuin benerin motornya yang mogok.
"Oh." Ayana melihat Bunda manggut-manggut mendengar ceritanya. Sementara Ayana mematung. Ia baru sadar kalau sudah menyunggingkan bibir ketika mengingat wajah cowok itu. Sisi batinnya yang lain mengatakan jika hal ini tidak benar. Terlebih memori tentang adegan di taman sekolah yang sepi itu terus-terusan berputar di kepalanya, seolah memborbardir Ayana dengan kenyataan yang menyakitkan dan mau tak mau harus diterima.
"Kak, kamu ke minimarket, ya? Belanja keperluan rumah. Itu sabun mandi sama sabun cuci udah pada mau habis. Sekalian beli cemilan buat Wina, sana. Masa ada temennya main nggak disuguhin."
Ayana mendecak, "Yaelah, Bun. Pakai acara mikirin suguhan buat Wina segala. Paling nanti dia delivery order."
"Ya tapi 'kan kamu tuan rumah. Dijamu, dong."
Ayana mendesah malas. Wina ini tamu kesayangan Bunda banget, memang. Kalau pulang dari liburan kemana pun pasti disempatkan main ke sini buat mengantar oleh-oleh. Liburan semester kemarin saja dia habis dari Bali dan balik-balik ke Jakarta main ke rumah Ayana sambil bawa segenggam paper bag yang isi barangnya tidak ada yang bisa dibilang murah untuk sekelas manusia macam Ayana yang mau beli sepatu baru saja harus menunggu sepatu lamanya rusak dulu. Ya, Wina memang se-royal itu.
Kadang kalau dia lagi waras dan baik hati, setiap bertamu ke rumah Ayana pasti bawa makanan banyak. Katanya biar Ayana tidak usah repot beli makanan lagi. Tapi, kalau sedang dalam mode tidak tahu diri, kulkas Ayana yang awalnya penuh dengan jejeran yogurt dan susu segar beserta puding manis dan buah-buahan bisa kosong momplong dalam seketika.
Ayana menerima beberapa lembar uang dan selembar kertas yang berisi daftar barang yang harus dia beli. Kemudian berjalan memasuki kamar, mengganti baju yang lebih sopan mengingat dia hanya mengenakan kaus belel dengan celana pendek saat ini.
"Anjir amat deh tuh anak mami! Sakit pilek aja caper!"
Ayana melirik Wina yang lagi uring-uringan di atas kasur miliknya, sementara ia mengenakan sweater merah gelap oversize yang sudah terlepas dari hanger. "Siapa yang caper?"
"Yura, lah! Siapa lagi?!"
Mendengarnya, gerakan tangan Ayana mendadak terhenti. "Bima bilang tuh anak sakit, jadi dinner nya dibatalin. Mamanya Bagas nggak mau kalau ada satu orang yang nggak ikut. Cih, pasti si Yura itu caper, deh! Emang spesialnya dia apa sih, sampai semua orang perhatian sama dia gitu?! Di sekolah, caper sama semua orang biar dikiranya dia cewek cantik yang ramah dan baik hati. Belum lagi di kelas caper sama Ednan biar bisa bolos jadwal piket! Belum puas juga, dia malah caper sama orang tuanya Bima sama Bagas! Emang dasar, jangan-jangan dia pakai pelet?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Bagas! ✔
Teen FictionPetaka itu dimulai ketika Ayana iseng mengirim pesan ke kontak WhatsApp cowok yang ia taksir. -Oct, 2019 by auliadv All Rights Reserved
