Selama jam pelajaran berjalan, ponsel Yura terus-terusan berkedip. Menampilkan rentetan notifikasi pesan dari orang yang sama. Bagas, tak henti-hentinya mengiriminya pesan. Tapi, Yura abaikan. Pada akhirnya Yura menonaktifkan ponsel dan lebih memilih fokus pada pelajaran Bu April. Tak sepenuhnya fokus, sih. Mungkin lebih bisa dibilang hanya melihat ke arah papan bertuliskan angka dan rumus matematika dengan pandangan kosong. Jemarinya menari di atas kertas dan menghasilkan coretan abstrak sambil sesekali melirik teman sekelasnya yang sangat aktif sekali menjawab pertanyaan yang diajukan, dan ketika jawabannya benar Bu April memujinya habis-habisan. Yura kesal. Apa sih, bagusnya dia sampai membuat Bu April dan beberapa anak di kelas ini berdecak kagum? Dan lagi, apa sih yang Bagas lihat dari cewek ini? Jika dibandingkan dengan Yura, cewek ini jelas tidak ada apa-apanya. Seperti langit dan bumi.
Ayana, cewek itu mengangkat tangan lagi untuk menjawab soal dan sialnya jawabannya benar lagi. Semua orang menyoraki, dan Ayana tersenyum. Jenis senyum yang membuat Yura mendadak muak sekali. Kania benar. Dia emang suka cari perhatian.
"Ra, kantin kuy!"
Usai terdengar bunyi bel, Kania mencolek bahu Yura yang duduk di sebelahnya. Yura pikir, ia malas sekali kalau disuruh jalan-jalan mengingat mood-nya sedang buruk. Tapi kalau dipikir-pikir lagi akan lebih malas kalau lama-lama di sini. Pada akhirnya, Yura mengangguk, membawa serta kotak makan yang berisi makan siang yang dibuatkan Bi Aya dan mulai menduduki satu meja kosong di pojok kanan kantin.
"Kalo lo mau pesen gue nitip dong, Ra."
Yura melirik Kania malas. "Nggak pesen, tuh. Kan gue bawa bekal."
"Terus gue makannya gimana?"
"Pesen sendiri, lah."
Kania langsung cemberut. Di antara ketiga temannya, Kania memang yang paling manja dan nggak mau susah. Taunya cuma bikin snapgram, bikin tutorial make up buat konten youtube, selca, nge-tweet, dan sejenisnya. Kalau makan ke kantin, dia bisanya nitip sama Arin. Kebetulan Arin dan Fadia yang notabenenya salah dua dari sekian anggota paskibra sekolah dipanggil ke mabes (markas besar) untuk urusan kepaskibraan tentunya. Mau tak mau Kania akhirnya pergi juga.
"Sendirian aja kayak jomblo."
Yura urung memasukkan sesuap nasi goreng ke mulutnya dan malah mendongak melihat Bima yang sudah duduk sambil meletakkan es jeruk di atas meja.
"Bagas mana?" tanya Bima, membuat Yura memutar bola mata.
"Ngapain nanyain Bagas, sih?"
"Kan lo berdua udah kayak Upin-Ipin yang kemana-mana harus barengan. Betul betul betul?"
Yura mendengus.
"Terus, temen lo itu mana?" tanya Bima lagi. Kali ini, Yura sudah mengunyah nasi goreng lezat buatan Bi Aya. "Si Step," lanjut Bima membuat Yura mengernyit.
"Step siapa?"
"Stepgram."
Oh, Kania. "Lagi pesen."
"Ohh."
"Hmm."
Tidak ada percakapan di antara keduanya selama 30 detik. Selama itu pula, Bima sedang fokus menyedot es jeruk dengan rakus. Tapi tiba-tiba Yura dibuat kaget. "Kok kotak makan lo sama kayak kotak makan punya gue lagi?!"
"Hng?"
Bima mengeluarkan kotak makan biru muda dari tas hitam kecilnya. Benar-benar serupa dengan kotak makan milik Yura. Dan ketika dibuka Yura dibuat terkejut lagi karena isinya nasi goreng, sama seperti yang Yura makan sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Bagas! ✔
Novela JuvenilPetaka itu dimulai ketika Ayana iseng mengirim pesan ke kontak WhatsApp cowok yang ia taksir. -Oct, 2019 by auliadv All Rights Reserved
