Bagas sudah memikirkan semuanya. Tekadnya sudah bulat. Ia bakal menembak Ayana hari ini juga. Semua persiapan sudah dilakukan. Walau, ia sendiri pun tak yakin Ayana bakal menyukainya.
"Lo beneran bakal pakai cara itu?" tanya Yura.
Bagas mengangguk yakin. "Iya, keren banget, kan?"
Yura meringis. "Tapi kayaknya..., bakal norak banget, deh."
"Bodo amat. Pokoknya gue nggak bakal buang-buang waktu lagi. Gue bener-bener suka sama dia, dan dia harus tau itu."
Yura tertawa. Ia tak pernah melihat Bagas sesemangat ini. Setelah Pak Fatur mengatakan jam pelajaran olahraga sudah selesai dan semuanya bisa kembali ke kelas, Bagas langsung berlari menuju gerbang dan tersenyum setelah melihat kehadiran abang-abang good-jack yang datang tepat waktu dengan barang yang ia pesan. Sebelum sampai di lapangan, Bagas sempat bertemu Pak Satpam lalu menyapanya.
"Itu kembang buat apa, Mas? Nembak cewek?"
Bagas terkekeh. "Iya nih, Pak. Doain saya diterima, ya?"
Pak Satpam tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Aamiin, Mas!"
Bagas sampai di lapangan dengan jantung berdebar lumayan kencang. Baru kali ini dia melakukan hal gila seperti ini. Ia menghampiri Wina sambil menyembunyikan beberapa tangkai bunga di balik punggungnya. "Mana sepatunya?"
"Di balik pohon."
Bagas mengambil napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Semoga pernyataan cintanya kali ini diterima dengan tangan lebar. Do'akan ya, teman-teman!
"Lo cari ini?"
Ayana melotot, "Balikin."
"Nggak mau."
"Balikin, nggak?!"
"Nggak mau."
Tak mau menyerah begitu saja, Ayana berusaha mendapatkan sepatunya kembali. Kakinya terkadang berjinjit ketika Bagas membawa sepatunya tinggi-tinggi.
"Bakal gue balikin kalo lo mau jadi pacar gue."
"What the fuck are you talking about?"
Bagas menelan ludah. Ia sudah menduga kalau reaksinya bakal seperti ini. Tapi, sudah kepalang basah. Ya, kali nggak dilanjutin.
"Gue suka sama lo."
"Balikin sepatu gue, nggak?!" seru Ayana mengabaikan pernyataan Bagas tadi.
Semua orang jadi memusatkan atensinya pada mereka berdua. Mampus. Ayana benci jadi pusat perhatian. Kalau Ayana punya ilmu seperti Ibu Malin, ia bakal langsung mengutuk Bagas menjadi batu tanpa pikir panjang.
Ayana tidak mengerti dengan jalan pikiran cowok ini. Beberapa hari yang lalu ia ingkar janji, setelah itu minta maaf dan menghilang. Kemudian ia mendadak kembali datang dan menyatakan perasaan, lagi. Apa dia pikir perasaan Ayana ini sebegitu menyenangkannya untuk dipermainkan?
"Gue sama sekali nggak berniat mempermainkan perasaan siapapun."
Ayana membulatkan mata.
"Apa selama ini sikap gue belum cukup menunjukkan? Gue suka sama lo, Ayana."
"Gue pernah bilang suka ke lo. Bukannya bilang apa-apa, lo malah pergi gitu aja." Bagas menghela napas. "Gue pikir, mungkin gue terlalu cepat. Mungkin aja lo belum suka ke gue juga. Makanya, sampai sekarang, daripada bikin lo nggak nyaman dengan bahas hal yang kayak gitu, gue lebih biarin aja semuanya berjalan seperti biasa."
"Tapi, lo tau, Na?" Bagas memberi jeda pada kalimatnya. "Gue takut."
Ayana merasakan detak jantungnya semakin berdebar kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Bagas! ✔
Teen FictionPetaka itu dimulai ketika Ayana iseng mengirim pesan ke kontak WhatsApp cowok yang ia taksir. -Oct, 2019 by auliadv All Rights Reserved
