"Ini serius?!" tanya Wina dengan ekspresi tak percaya.
Ayana masih shock dengan apa yang dialaminya barusan. Ia mengatur napas, "Lo aja kaget apalagi gue."
Mereka berdua masih larut dalam keterkejutan masing-masing. Dhanis yang melihatnya jadi ikut bingung. Padahal dia cuma iseng. Dia bohong soal setan yang dia bilang jelek banget. Dhanis cuma menakut-nakuti Wina yang memang dari sananya sudah penakut. Tapi, ia tidak menyangka jika Ayana yang terkenal pemberani dan maniak horor itu malah ikut-ikutan takut juga.
"Menurut lo, kenapa Bagas bisa komen di WhatsApp story gue?" tanya Ayana.
Wina mendengus. "Ya apalagi kalo bukan karena dia nyimpen nomor WhatsApp lo, Jamilah."
"Itu dia!" Ayana memukul paha Wina. "Kenapa dia bisa nyimpen nomor gue, gue tanya?" bisik Ayana gemas.
Wina memukul paha Ayana balik. "Ya mana gue tahu!"
Ayana mendengus panjang. Ia mengusap wajahnya kasar. Kenapa cobaan datang padanya secara bertubi-tubi? Kemarin, ia chat ke nomor Bagas yang dianggap nonaktif tapi nyatanya malah aktif. Tadi di perpus, ia bertemu Bagas yang sudah tahu namanya sekarang. Dan beberapa detik yang lalu, Bagas tahu identitas sekolahnya secara terang-terangan.
Ayana pusing. Ia sudah tak punya muka lagi di depan Bagas. Takut dianggap cewek aneh. Takut dianggap stalker kurang kerjaan. Mau mindah muka ke pantat, tapi mustahil dilakukan. Kalau mau operasi plastik Ayana tak punya uang. Mau bucin oppa-oppa saja cuma modal kuota.
"Tapi, ngapain dia nyimpen nomor lo, ya?" Wina mengetuk jari telunjuknya di dagu, kemudian matanya melotot lebar. "Jangan-jangan Bagas-"
"Jangan-jangan Bagas kenapa, Win?"
Ayana ikut melebarkan mata. Jantung Wina mendadak berkedut nyeri karena yang memotong kalimatnya tadi bukan suara Ayana.
Yura mendadak nongol ditengah-tengah mereka. "Hayo, lagi ngomongin Bagas, ya?"
Ayana susah menelan saliva. Cobaan apalagi ini? Mendadak Ayana jadi ingin bertemu Hary Potter. Terus mau minta disihir jadi sayur-sayuran. Jadi kangkung-kangkungan atau tomat-tomatan juga boleh.
Ayana mencubit paha Wina biar dia mempertanggungjawabkan kelakuannya. Wina menahan mengeluarkan umpatan karena cubitan Ayana yang sangat bar-bar. Setelah itu, meringis ke arah Yura. "Eh, Yura. Sejak kapan lo di situ?"
Yura mengangkat satu alis, "Baru, sih." lalu menarik sebuah kursi agar bisa duduk berdekatan dengan Wina dan Ayana. "Kalian lagi ghibahin Bagas, ya?" Yura mendecak. "Kok nggak ajak-ajak, sih?!"
Wina menggaruk dahi. "Haha. Enggak, kok. Nggak ada yang ghibah. Iya 'kan, Na?" sahut Wina sambil melotot ke arah Ayana meminta pembelaan yang dibalas anggukan cepat.
"Masa, sih?" Yura mengerutkan dahi. "Tapi, tadi kenapa lo sebut-sebut nama Bagas?"
Wina memutar otak mencari jawaban. "Enggak, ini gue lagi cerita ke Ayana soal Bima. Bima tadi cerita ke gue kalo semalem Bagas tiba-tiba numpang tidur di kamarnya. Bagas bilang AC kamarnya rusak. Terus si Bima nge-iya-in. Eh, besoknya pas Bima bangun tidur dan beresin kamar, sepreinya agak basah. Terus, gue berasumsi deh, kalo jangan-jangan Bagas kalo tidur ilernya banjir! Atau jangan-jangan Bagas masih suka ngompol! Gitu. Haha."
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Bagas! ✔
Novela JuvenilPetaka itu dimulai ketika Ayana iseng mengirim pesan ke kontak WhatsApp cowok yang ia taksir. -Oct, 2019 by auliadv All Rights Reserved
