#31 kotak makan biru muda

10.4K 1.2K 30
                                        

Ayana mengusap rambut basahnya dengan handuk setelah keluar dari kamar mandi. Kemudian mengambil hairdryer dan mulai mengeringkan rambut.

Disela-sela kegiatannya, ia diam sambil memikirkan sesuatu. Kejadian singkat yang membuatnya berdebar. Ketika wajahnya dengan wajah cowok itu hanya berjarak satu setengah jengkal.

Hairdryer sudah Ayana letakkan dan kini ia mulai mematut dirinya di depan cermin. Menyisir rambutnya dan memakai krim wajah. Rutinitas sesudah mandi yang wajib dilakukan sebelum ia memutuskan untuk berpindah ke meja belajar.

Ayana meraih tas ranselnya lalu mengambil beberapa buku dan diletakkan di meja belajar. Teringat jika ia harus memeriksa kembali tugas Matematika Bu April sebelum dikumpulkan. Ada dua soal yang belum ia kerjakan. Dan disela-sela mengerjakan soal, pensilnya mendadak patah. Ia mengambil rautan pensil di laci meja. Tapi, tatapannya jatuh pada sebuah notes berwarna fuschia dengan drawing book di sampingnya.

Ayana mengambil benda itu. Benda yang selama ini mengisi waktu luangnya dengan menciptakan kegiatan menyenangkan, yaitu menggambar. Akhir-akhir ini, ia sudah jarang sekali melakukan kegiatan itu. Di samping harus giat belajar, Ayana merasa tak perlu melakukan itu lagi untuk menyalurkan perasaannya. Perasaan senang, perasaan suka. Sebab hampir setiap hari ia menemukan kegiatan menyenangkan lainnya. Bertemu dan mengobrol dengan Bagas, cowok yang dia suka. Dua hal yang tak pernah Ayana pikir mustahil terjadi dalam hidupnya. Hingga kenyataannya berbanding terbalik seperti sekarang.

Ayana menghela napas. Ia mengambil sebuah kotak bertuliskan 'barang tak terpakai' dan memasukkan dua benda itu ke dalamnya. Ayana harus segera membuang benda konyol ini. Dia sudah dewasa. Dia tak akan membuang waktunya untuk hal yang tak berguna. Untuk saat ini, tujuannya hanya satu. Membahagiakan Bunda dan Ayah.

*

Bagas menghentikan langkah dengan napas terengah. Melihat simpul tali sepatu yang terlepas, ia mengikatnya sejenak sebelum duduk di sebuah bangku panjang di depan rumah orang sambil meneguk air dalam botolnya.

Sepulang sekolah, seperti biasa Bagas selalu menyempatkan waktu sejenak untuk jogging sebentar di area komplek rumahnya. Soalnya kalau mau jongging pagi ya nggak mungkin. Ya kali dia lari dari rumah ke sekolah? Kecuali hari Sabtu dan Minggu, sih. Sama tanggal merah. Kalau mau jogging habis subuh nggak bisa. Dia harus bantuin Mama masak. Terdengar aneh ya, anak cowok bantuin mamanya masak? Tapi ya mau gimana, anak-anaknya Mama pada cowok semua. Keluarganya tak memakai jasa ART karena memang tak membutuhkan. Toh, Bagas juga bukan anak sultan. Rumahnya nggak gedong-gedong amat. Dan kebetulan di antara dua bersaudara itu memang Bagas yang jago masak. Kalau Bima bisanya cuma nyusahin orang. Untung dia jago benerin genteng bocor.

"Bima, hati-hati turunnya nanti jatuh."

Bagas mengernyit kala mendengar suara cewek memanggil nama abangnya. Saat menoleh ke belakang, ia melihat Bima turun dari atas genteng menggunakan tangga dengan seorang cewek di bawah memegangi tangganya.

"Makasih ya, udah mau bantu. Aku nggak tau lagi deh, harus gimana kalo nggak ada kamu."

Bima terkekeh, "Iya Mbak, santai aja. Kalo butuh bantuan saya lagi, langsung panggil aja ke rumah." Cewek itu tersenyum. "Saya pulang dulu ya, Mbak. Mau mandi, hehe."

"Oh, Iya-iya. Sekali lagi makasih, ya."

Bima menunjukkan jempol. Lalu berjalan menuju pagar dan membukanya.

"Mentang-mentang keahlian lo cuma benerin genteng, lo ambil profesi jadi tukang perbaikan genteng, ya?" celetuk Bagas. Membuat Bima agak terkejut karena melihat Bagas secara tiba-tiba.

"Enak aja mulut lo kalo ngomong." Bima kembali menutup pagar setelah keluar dari halaman rumah itu. "Tadi kucingnya dia manjat genteng, nggak bisa turun. Yaudah gue bantuin."

Hello, Bagas! ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang