"Kenapa 75%?"
"Yang 25% nya bonus buat overkhusnudzon-an lo yang udah mengakar itu. Siapa tahu nanti lo mikirnya kalo Bagas emang baik ke semua orang."
"Ya, emang dia baik ke semua orang, kan?"
"Seriously, Na?! Lo beneran mikir kayak gitu?!" Wina menggeleng tak habis pikir. "Gue berenang ke Danau Toba juga nih, lama-lama!"
"Win, please—"
"Na, please! Ngapain sih, seorang cowok buang-buang waktu buat baik-baikin cewek, perhatian, care, kalo emang dia nggak ada perasaan sama sekali?!"
"Gue pernah lihat Bagas bantuin cewek bawa buku sampai perpus."
"Cuma bantuin bawa buku ke perpus doang, lo hitung?!" Wina menghela napas. Rasanya pengin ngunyah dinding!
"Coba lo bandingin dengan Bagas benerin motor lo, kasih lo minum, ngobatin tangan lo, anterin lo pulang, pegang tangan lo di perpus, ngusap kepala lo sambil bilang; Gue tunggu kado special dari lo, Ayana."
"Dia bahkan nggak nyuruh lo menjauh dari dia setelah dia tahu kalo lo yang ngirimin dia chat alay tempo hari. Dia bisa aja mikir kalo lo suka sama dia dan itu bisa bikin Yura cemburu kalo Yura tahu."
Wina mengibaskan tangan sambil menjauh. Kembali ke bangkunya. "Lo pikir sendiri, deh."
Ayana sudah berpikir. Sangat keras malahan. Namun yang terlintas di di benaknya adalah rasa takut.
Ia takut kalau semakin ia bersikap tak tahu diri dan berharap yang bukan-bukan, Ayana akan semakin jatuh sakit nanti.
*
Bagas: Nanti pas pulang ikut aku ke kafe di daerah Sudirman, ya? Kafenya sepupu jauh aku, tuh. Lagi ada grand opening.
Yura: Yah, maaf. Nggak bisa pulang bareng kamu:(
Bagas: Kenapa?
Yura: Lain kali, ya?😿
Yura: Nggak marah, kan?
Bagas: Ya udah, gpp.
Bagas membuang napasnya kasar. Ia sudah janji sama Jonathan—kakak sepupunya yang kerap disapa Bang Jo, kalau mau datang ke acara grand opening kafe barunya. Kalau berangkat sendiri, males banget. Bang Jo itu usil. Nanti Bagas dikatain ngenes, lagi. Kalau berangkat bareng Bang Bima... malah lebih males lagi. Dia pasti ngajak Wina. Gandengan. Terus nanti Bagas jadi nyamuk di belakang. Kan nggak banget!
Omong-omong soal Wina, Bagas jadi teringat Ayana. Mendadak ide muncul di atas kepalanya. Ada bohlam lampu menyala-nyala. Seketika ia memainkan ponsel.
Bagas: Hello, Ayana!
Bagas: It's me, Bagas.
Bagas tersenyum. Sengaja mengikuti cara Ayana memulai chat seperti tempo hari. Bagas meletakkan ponsel di atas meja, menunggu balasan Ayana. Kebetulan, Pak Hasan—guru Bahasa Indonesia sudah keluar kelas. Jadi, Bagas bisa bebas main ponsel sambil menunggu bel pulang.
5 menit
10 menit
15 menit
Belum ada balasan.
"Dia masih kelas kali, ya?" monolog Bagas sambil menyandarkan badannya di punggung kursi. Saat ponselnya bergetar, Bagas langsung melompat memeriksa.
@peninggibadantokcer mulai mengikuti anda
Ah, sial. Malah notif instagram.
*
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, Bagas! ✔
Teen FictionPetaka itu dimulai ketika Ayana iseng mengirim pesan ke kontak WhatsApp cowok yang ia taksir. -Oct, 2019 by auliadv All Rights Reserved
