22

467 14 1
                                    

Dhiya mendengar suara mobil yang masuk di pekaraan rumah,Dhiya yakin itu orang tuanya,Dhiya lantas membuka hp untuk melihat jam dan ternyata jam 04:00. Dhiya kira sepulang orang tuanya masalah selesai, Ternyata tidak Ayah dan Bundanya kembali beraduh mulut lagi. Dhiya langsung diam menahan agar tidak menangis menahan sesak dihatinya.

Mengapa Tuhan begitu membencinya? Mengapa Tuhan tak perna membuat Dhiya tersenyum? Mengapa selalu ada air mata di setiap detik,menit didalam hidup Dhiya? Semua yang terjadi pada Dhiya selalu berakhir luka dan air mata.

Dhiya benci ini,Dhiya membenci hidupnya,bahkan ingin sekali rasanya Dhiya mengakhir ini semua. Segitu bencinya semesta pada dirinya. Harus berapa lama lagi Dhiya melewati ini semua. Dhiya lelah sungguh. Dhiya capek sungguh.

Dhiya langsung masuk kekamar mandi menguyur dirinya lalu berteriak keras,menjambak kembali rambutnya. Memukul kembali wajahnya dan kepalanya. Membenturkan kepalanya di tembok. Sungguh Dhiya hari ini benar-benar kacau.

***

"Dhiya,bangun sayang Dhiya." panggil Santi.

Santi yang hendak ingin membangunkan Dhiya,namun tak melihat Dhiya diatas kasur, Santi panik lantas pergi kekamar mandi saat mendengar suara keran air dan melihat Dhiya tertidur dengan air yang terus mengalir bersamaan dengar darah yang keluar dari pelipisnya, wajahnya pucat Santi langsung mematikan keran dan membangunkan Dhiya.

Dhiya mengeliat mendengar Santi memanggilnya. Dhiya membuka matanya melihat santi yang sudah rapi membuat Dhiya sedikit bingung. Santi membantu Dhiya berdiri,membawa Dhiya keatas kasur lalu mengambil baju untuk mengganti pakaian Dhiya. Setelah selesai.

"Dhiya Bunda sama Ayah mau pergi dulu ya." ucap Santi.

Dhiya menyeritkan keningnya bingung. "Mau kemana?" tanya Dhiya.

"Adalah pokoknya,nanti Bunda bawakan makanan." ucap Santi lalu keluar dari kamar Dhiya.

Setelah mendengar suara mobil keluar dari pekarangan rumah,Dhiya kembali teriak menghilang rasa sakit didada nya berharap semua ini cepat selesai namun mungkin semesta terlalu suka melihat air mata Dhiya. Dhiya mengambil pisau kecil dalam Lacinya lalu pergi kekamar mandi menyalahkan keran lalu menyayat tangan.

HISSSSS HISSSS!!!!!!

Hanya itu yang keluar dari mulut Dhiya. Setelah dirasa cukup Dhiya langsung mengambil kain untuk mengerinkan tangannya Dhiya sayat.

Hp Dhiya bunyi notif masuk dan ternyata itu dari David.

"Loh dimana?" tanya David.

"Dirumah kenapa?"

"Jalan yuk gabut banget nih gw...gw juga mau kenalin lo sama teman gw." ucap David. Membuat Dhiya menyeritkan keningnya.

"Yaudah kirimin aja alamatnya gw mau siap-siap dulu." balas Dhiya.

"Ok." Dhiya hanya melihat tanpa ada niat membalas.

Dhiya langsung menuju lemari mengambil jeans dan baju lengan panjang untuk menutup sayatannya. Setelah selesai memakai baju Dhiya menuju meja rias,memakai bedak
Baby lalu lipbam agar tidak terlihat pucat.

Setelah itu mengambil sendal yang senada lalu keluar dari kamar tak lupa dompet dan kunci motornya. Dhiya langsung memanaskan motornya dirasa cukup Dhiya pergi.
Sesampai dicafe yang di tentukan Dhiya langsung masuk melihat sekeliling dan melihat David di pojok cafe. Dhiya langsung menghampiri David.

"Hai." sapa Dhiya langsung duduk didepan David.

"Haii." balas David sambil mentapa bingung Dhiya.

"Dya,loh ngak sakit kan?"Tanya David.

WHERE MY HOME? (REVISI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang