42

409 17 1
                                    

"Dya."

Dhiya berbalik dan mendapati Santi sedang berdiri depan pintu kamarnya. Dhiya tersenyum lalu menghampiri sang Bunda.

"Udahh?" tanyanya.

Dhiya hanya mengangguk lalu tersenyum. Setelah itu mereka turun dan mendapati sang Ayah tengah membaca koran. Dhiya berbalik menghadap sang Bunda. Menatap dalam mata dan memperhatikan setiap detail wajah sang Bunda.

Dhiya tersenyum lalu memeluk sang Bunda begitu erat. Santi membalas pelukan itu sambil menahan tangis.
Mengusap punggung Dhiya yang mulai bergetar.

"Maafin Dya,kalau sering ngebantah ya Bun,sering moodyan tidak jelas,suka marah-marah ngak jelas sampe Bunda bingung harus gimana sama Dya." ucap Dhiya sambil menatap wajah Santi.

"Kamu jaga diri disana yahh." ucap Santi menatap Dhiya dari atas lalu mengusap kepala Dhiya.

"Iyaaa,nanti Dya bakalan sering telfon bunda kok." ucap Dhiya sambil tersenyum sambil menghampus air matanya.

Lalu Dya beralih ke Ayahnya. Dengan tersenyum Dya lalu memeluk sang Ayah dengan erat.

"Maafin Dya yang nakal ya yah,Dya tau pasti susah urusin Dya kan,Dya terlalu banyak permintaan tanpa tau bagaimana susahnya Ayah buat Dya,Dya yang terlalu suka nuntut ini itu." ucap Dya.

"Doakan Dya,semoga bisa cepat pulang."lanjutnya lalu melepas pelukannya.

"Kamu hati-hati disana,jaga diri dan sholat." ucap sang Ayah.

Dhiya tersenyum lalu mencium sebelah pipi Ayahnya. Hal yang jarang di lakukan karena menurutnya itu terlalu alay buat dilakukan. Namun Dhiya menyingkirkan semua itu dari sekarang.

Dhiya melihat sekali lagi rumah yang akan dia tinggalin. Menatap setiap detail rumah. Dhiya berjalan keluar di ikut sang Bunda dan Ayah. Dhiya berbalik menatap keduanya lalu tersenyum.

"Tunggu Dya pulang ya, Dya janji bakalan cepat pulang. Kalian jaga kesehatan ya." ucap Dya lalu memeluk kedua yang dengan otomatis air matanya pun jatuh.
Santi mengusap punggung Dhiya.

"Udah jangan nangis lagi." ucap Santi.

Dhiya melepas pelukan itu lalu menghapus air matanya. Lalu tersenyum. "Dya berangkat. Assalamualaikum." pamitnya lalu menyalim kedua tangan Bunda dan Ayahnya. Setelah itu masuk kedalam taksi yang sudah menunggu dirinya.

"Wa'alaikumsalam."jawab mereka bareng.

Dhiya menatap rumahnya sekali lagi lalu masuk kedalam taksi,Santi dan Suaminya hanya menatap kepergian putrinya.

Ayah Dya masuk kedalam rumah terlebih dahulu,saat Santi hendak masuk, tiba-tiba 2 mobil datang. Santi menyertikan keningnya bingung.

Alif keluar dari mobil di ikut dengan yang lain. Santi tersenyum melihat mereka.

"Assalamualaikum bun."

"Wa'alaikumsalam." jawab Santi.

"Bun,Dhiya masih adakan?" tanya Alif sambil melihat kearah dalam rumah.

"Dhiya baru aja pergi 10 menit yang lalu." ucap Santi

"HAH!!!!" kaget mereka.

"Yayaya....Bun,Yaudah Alif sama yang lain nyusul Dhiya takut ngak ketemu. Assalamualaikum." pamit Alif sambil menyalimi tangan Santi diikuti dengan yang lain.

"Wa'alaikumsalam hati-hati ya." ucap Santi.

Dhiya menatap keluar jendela dengan perasaan yang Dya pun tak mengerti. Ingatan Dhiya kembali berputar tentang bagaimana dirinya dan Alif bertemu, hingga Akhirnya selesai yang menjadi orang ke 3 lalu bertemu David dan kejadian sama terjadi. Dhiya tersenyum mengingat semua hal yang menyedihkan itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 15, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

WHERE MY HOME? (REVISI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang