22# Terletak Dalam Rasa Syukur

909 75 12
                                        

Hidup itu tidak selalu diliputi kebahagiaan, adakalanya sedih datang menyapa. Selama kamu pandai bersyukur, disitulah letak kebahagiaan yang sebenarnya.

- MERINDU SURGA -

🍁🍁🍁

Setelah hampir satu jam aku menikmati keindahan sunrise di Puncak Si Kunir ini, aku mengajak Mas Azril untuk turun. Kami sudah menyempatkan diri untuk berfoto berdua dan mengabadikan momen munculnya matahari dengan foto maupun video.

Rasa khawatir muncul ketika kami tidak menjumpai Rayhan dan Toni di puncak. Suasana yang sangat ramai menjadi penghalang penglihatan kami untuk melihat sekitar. Tidak menemukan gelagat dua orang ini, kami memutuskan turun dan menunggu di pos pertama tadi.

Selain kondisi angin di atas yang semakin kencang, tanganku juga sudah mulai membeku. Bahkan sarung tangan yang dibelikan Mas Azril saja tidak mampu menghangatkannya.

"Sini tangannya."

Aku langsung mengulurkan tanganku, lalu Mas Azril menggenggamnya dengan erat. Seketika itu juga rasa hangat mulai menjalar ke tubuhku. Akhirnya kami turun dengan saling bergandengan. Aku tidak bisa menyembunyikan senyum di balik maskerku saat Mas Azril dengan telaten menuntunku ketika kami melintasi bebatuan.

"Capek? Mau digendong nggak?"

Mataku membulat mendengar tawarannya. Mau sih digendong, tapi nggak di tempat umum begini juga, yang ada aku nanti malah jadi gunjingan para pengunjung lainnya. "Nggak, banyak orang, Mas," cicitku.

Dia terkekeh. "Berarti kalau nggak ada orang mau? Nanti kalau udah di rumah ya," ujarnya sambil mengerling nakal.

Aku bergidik geli, suami siapa sih?

Suara pepohonan yang tertiup angin sedikit membuatku ngeri. Menurutku suasananya sedikit mencekam karena kami tengah melewati hutan dengan pepohonan yang tinggi juga mengepung di samping-sampingnya. Untungnya kami turun bersamaan dengan pengunjung lain, jadi suasana yang tadinya sedikit mencekam kini mulai menghangat.

Kami menuruni jalan setapak dengan perlahan. Bau tanah basah yang terkena tetesan hujan mengingatkanku dengan suasana pedesaan di rumah. Sejauh apapun aku pergi, rumah selalu menjadi tempat yang paling ku rindukan.

"Eh, ada ukhti-ukthi di gunung."

Langkahku langsung terhenti begitu aku mendengar suara wanita yang berdiri tidak jauh dari tempatku dan Mas Azril berjalan. Kemudian aku mendengar salah satu temannya terkekeh setelah wanita tadi melontarkan ucapannya. Entah bagian mana yang lucu sehingga mereka bisa tertawa cekikikan begitu.

Ah iya, aku rasa mereka membicarakanku yang memakai gamis saat naik gunung. Memangnya apa yang salah? Selama si pemakai nyaman dan tidak mengganggu pengunjung lain harusnya tidak masalah kan?

Mau membiarkan kok tetap saja risih dengan pandangan mereka yang terang-terangan menatapku dengan tatapan aneh. Mau menegur kok tidak enak. Bukan apa-apa, takutnya pandangan mereka terhadap wanita yang sedang berusaha menutup aurat secara sempurna malah menjadi semakin buruk.

Baru saja aku mau beranjak, tapi tiba-tiba Mas Azril melepaskan genggamannya dan menghampiri kedua wanita itu. "Afwan Mbak, memangnya apa yang salah dengan wanita yang sedang belajar menutup aurat secara sempurna? Tidak bolehkah dia naik gunung untuk ikut mensyukuri keindahan alam yang Allah ciptakan?"

Kedua wanita itu kaget kemudian tertunduk diam.

"Kamu sih."

"Ih kamu yang mulai." Mereka saling menyalahkan. Kebiasaaan manusia itu ketika kepergok berbuat salah malah saling menyalahkan.

MERINDU SURGACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang