11# Memantaskan Diri

1.1K 81 2
                                        

Tidak ada ikhtiar menjemput jodoh yang lebih baik selain terus berusaha memantaskan diri.

-MERINDU SURGA-

🍁🍁🍁

"Kajian lagi?"

Aku mengangguk sebagai jawaban, sedang di depanku Mbak Anis hanya tersenyum. Di sela-sela kesibukanku merekap laporan marketing, aku mendongak melihat Mbak Anis yang kini menarik kursi di sampingku.

"Ikut yuk! Temanya bagus nih," ajakku pada Mbak Anis. Berharap kali ini dia kan mengiyakan.

"Apa?" Nah kan dia langsung tertarik, bahkan Mbak Anis sekarang duduknya lebih dekat denganku.

"How to be the best menantu of the world," jawabku lalu kembali menyelesaikan laporan ku.

"Nampol banget temanya, jadi pengen," katanya.

Begitu mendengar kata 'pengen' dari mulut Mbak Anis, aku kembali mendongak. Agak kaget sih soalnya udah berkali-kali dia aku ajakin tapi selalu aja menolak. "Ayo ikut!!"

Mataku berbinar penuh harap menatap Mbak Anis. Dia tampak berpikir sebentar, kemudian menggeleng.

"Ayolah Mbak, ustadznya ganteng lho," rayuku.

"Aku besok aja deh," ujarnya sambil meringis menunjukkan giginya yang putih.

Aku fokus menatap Mbak Anis dan untuk terus berusaha membuatnya berubah pikiran. "Besuk terus sih, tau nggak apa yang bikin sesuatu tertunda?"

Dia masih meringis, tapi tetap menjawab. "Apa?"

"Ya itu, besuk terus. Lama-lama nggak jadi," kataku yang langsung membuat Mbak Anis tertawa kecil.

"Iya maaf deh, lain kali beneran," ucapnya penuh sesal.

"Hmm, iya deh," balasku sedikit kecewa.

Aku kembali menatap deretan angka dalam laporan marketingku, nanti jam dua siang harus sudah selesai. Aku menghembuskan napas pelan lalu mulai fokus menyelesaikannya.

Sekarang hari-hariku lebih sering ku habiskan dengan bekerja dan datang ke kajian. Mulai dari kajian ustadz lokal sampai luar kota. Ternyata banyak sekali ilmu-ilmu Islam yang belum aku tahu. Termasuk ilmu pernikahan.

Awalnya aku mengira pernikahan itu hanya tentang menjalani hari-hari bersama setelah kata sah terucap. Hanya perlu persiapan lahir dan batin, tidak perlu belajar tetek bengeknya. Ternyata aku salah, banyak sekali hal yang perlu aku pelajari. Termasuk bekal ilmu agama.

Menikah itu bukan hanya tentang menjalani hari-hari bersama, tapi juga tentang bagaimana bersama-sama menggapai ridha Allah dalam pernikahan. Bagaimana membangun keluarga qur'ani yang berdasar dengan ilmu agama Allah.

"Aisyah, kamu dapat undangan nih," ujar Joko sambil menyerahkan beberapa undangan yang sudah rapih terbungkus plastik transparan.

Dahiku mengernyit mendengar panggilannya. Sejak aku memutuskan untuk memakai rok dan jilbab panjang, dia jadi sering memanggilku Aisyah. "Tiap kamu panggil Aisyah, bawaannya aku pengen bilang Aamiin," ujarku jujur.

Padahal sudah sejak tadi aku sudah mengaminkan dalam hati. Berharap aku bisa menjadi seperti Ibunda Aisyah radhiyallahu 'anha.

Kenapa dipanggil Ibunda? Karena kelak Ibunda Aisyah adalah ibunya orang-orang yang beriman.

"Perlu aku bantu nggak bilang aminnya?" tanya Joko lalu terkikik.

"Boleh Jok."

"Aamiin. Itu undangannya nitip buat Salwa ya? Di hari ini nggak masuk," jelasnya sambil menunjuk salah satu undangan.

MERINDU SURGACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang