Ketika kamu meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberikan ganti yang lebih baik. Wafiq percaya itu. Sejak hidayah Allah menyapanya, ia mulai merindukan surga. Ujian demi ujian semakin menguatkannya. Hingga Allah hadirkan kembali f...
Aku sudah sering merasakan jantungku berdebar saat mendengar musik yang terlalu keras. Tapi ini bukan soal musik, ini soal kehadiranmu yang selalu muncul tiba-tiba.
-MERINDU SURGA-
🍁🍁🍁
"Wahai jantung, tenanglah," ujarku pada diri sendiri.
Kepalaku menoleh ke arah perginya sosok laki-laki yang sudah memberikan kaos kaki hitam yang kini melekat di kakiku. Setelah mataku tak mampu menangkap sosoknya, aku menatap kakiku yang berbalut kaos kaki hitam.
Ku gerak-gerakkan kakiku ke kanan dan ke kiri. Lalu ku ayunkan kakiku ke depan dan ke belakang, sungguh hatiku sangat berbunga. Bahkan ku rasakan pipiku memanas karena malu, tapi rasa bahagia lebih mendominasi.
"Pulang dulu yuk," ujarku pada diri sendiri.
Lagi-lagi aku tersenyum mengingat pesan yang tertulis di selembar kertas darinya. Apalagi dia menyerahkannya tanpa melihatku, sungguh dia benar-benar menjaga pandangannya. Aku semakin kagum dibuat olehnya. Laki-laki itu terlihat cuek tapi ternyata juga memiliki sisi lembut yang membuat hatiku meleleh.
"Apa-apaan sih aku senyum-senyum kayak orang gila?" ucapku lirih.
Kemudian tanganku naik ke atas lalu ku ketuk helmku beberapa kali. "Sadar, dia sudah punya istri."
Lagi-lagi kenyataan itulah yang membuat hatiku meringis kesakitan. Harapan itu memang terlalu manis, tapi begitu disandingkan dengan kenyataan---rasanya begitu menusuk.
Nggak boleh berharap!
🍁🍁🍁
"Hapus nggak ya? Tapi likenya banyak, sayang banget nih."
Tanganku terus menaikturunkan layar ponsel. Berselancar menjelajahi profil instagram yang mana masih dipenuhi beberapa fotoku dengan baground berbagai tempat wisata. Mulai dari kebun teh, hingga gunung yang pernah ku daki bersama teman-temanku beberapa waktu lalu.
Ah rasanya berat sekali ingin menghapus foto-foto kenangan ini, terlebih lagi kalau postingan fotonya banyak komen dan like. Berat banget mau hapusnya.
"Besok aja kali ya hapusnya?" kataku mencoba membatalkan keputusanku beberapa saat lalu. "Ah iya, besok aja deh nggak papa."
Jariku menekan tombol bawah kiri di aplikasi instagram, kemudian aku asyik melihat-lihat postingan akun yang aku ikuti. Kebanyakan foto selfie. Ah rasanya selfie itu sudah seperti makanan sehari-hari bagi perempuan.
Di antara banyaknya foto selfie, tanganku berhenti pada sebuah postingan akun dakwah. Lagi-lagi aku disadarkan akan bahayanya foto yang diupload di media sosial.
Entah itu facebook, instagram, ataupun akun sosial lainnya. Semua itu hanya akan menjadi investasi dosa di akhirat kelak, atau biasanya disebut sebagai dosa jariyah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bismillahirrahmanirrahim," ujarku mantap.
Setelah berkali-kali membaca postingan dakwah tentang bahayanya dosa jariyah setelah mati, akhirnya aku memantapkan hati untuk menghapus semua foto diriku. Kini di akun instagramku hanya tersisa enam foto---tentang quote, foto repost postingan yang menurutku penting dan beberapa foto dengan caption puisi karyaku.
Bahkan aku juga mengganti foto profil instagramku---yang dulunya berisi foto selfie kini ku ganti dengan foto al-qur'an. Masyaa Allah ternyata lega sekali setelah menghapus semua foto, rasanya seperti menemukan ketentraman hati.
Setelah selesai dengan aplikasi instagram, aku beralih membuka aplikasi WhatsApp. Tujuan utamaku adalah mengganti foto profil juga. Foto profil yang awalnya foto diriku meski dari belakang, ku ganti dengan foto bertuliskan 'inni akhafullah'.
Semoga ini bisa membantuku untuk menyempurnakan proses hijrahku. Mungkin awalnya berat, tapi aku percaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang luar biasa. Aku percaya itu.
🍁🍁🍁
Aku baru saja hendak menyeruput jus yang baru saja datang, tiba-tiba tanganku menyenggol penghapusku hingga jatuh. Aku melongo mengikuti arah penghapusku yang ternyata menggelinding dengan lincahnya. Hingga akhirnya berhenti di depan sepatu convers dengan perpaduan warna putih dan abu-abu.
"Penghapusnya dijaga, jangan sampai hilang," ujar laki-laki itu setelah menaruh penghapusku di atas meja tempatku duduk.
Baru saja aku hendak menatapnya dan mengucapkan terimakasih, dia sudah berlalu begitu saja. "Terimakasih," ucapku tanpa peduli dia mendengarnya atau tidak.
Hanya dengan menatap punggungnya saja hatiku sudah berdebar tak karuan. Rasanya sulit digambarkan dengan kata-kata. Yang pasti ada rasa bahagia tapi selalu saja diliputi rasa sesak mengingat laki-laki itu bukan milikku.
Mataku mulai berkaca-kaca, mencoba mencari harapan di dalam sikap baiknya. Tapi lagi-lagi hanya sesak yang bisa ku temukan.
"Mas Azril," desisku lirih.
Sudah hampir enam bulan aku tidak melihatnya, tapi kali ini lagi-lagi aku dipertemukan Allah dengan laki-laki yang masih bertahta di hatiku. Entah apa skenario yang sudah Allah siapkan hingga aku dipertemukan dengannya lagi.
Yang jelas aku percaya, Allah adalah sebaik-baik perencana.
Aku kembali melanjutkan rencanaku untuk menyeruput jus yang sudah melambai-lambai minta diminum. Kajian dimulai lima belas menit lagi, tapi Salwa tidak kunjung datang. Aku celingak-celinguk barangkali menemukan kedatangan Salwa dari arah tempat parkir sepeda motor.
Tapi bukan Salwa yang ku temukan, mataku malah menemukan sosok Mas Azril yang baru saja keluar dari mushola tempat kajian. Sepertinya dia baru saja shalat dhuha.
Sebelum dia menatap ke arahku, aku segera menunduk. Tiba-tiba bibirku tersenyum, ada rasa bahagia ketika melihatnya semakin dekat dengan Allah.
Mungkin seperti inilah yang dinamakan cinta dalam diam.
Diam-diam ikut bahagia ketika dia menjadi lebih baik. Diam-diam melihatnya saat dia tidak melihatku. Diam-diam ikut tersenyum saat melihat dirinya tersenyum bahagia. Bahkan diam-diam mendoakan kebaikan untuknya, meski bukan aku yang menjadi sosok penting dalam hidupnya.
Ya Allah, kenapa debaran ini masih ada? Masih berbunyi pada nada yang sama?
"Nggak boleh berharap, harus lupain dia," ujarku untuk kesekian kalinya.
🍁🍁🍁
Entah kenapa akhir-akhir ini jadi kurang produktif, kalau misal ceritanya makin geje maafkan ya 😭
Jazakumullahu khairan sudah membaca, memberi vote, dan komentar. Jangan lupa tinggalkan jejak di sini juga biar chapter selanjutnya lebih cepet upnya :')