31# Perihal Sakit Hati

654 74 10
                                        

"Kita cuma punya dua pilihan setelah disakiti, memaafkan atau membenci. Tinggal kita mau pilih yang mana, semua punya konsekuensinya masing-masing."

- MERINDU SURGA -

🍁🍁🍁

Aku mengerjapkan mata saat pertama kali mataku kembali terbuka. Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, yang ku ingat terakhir kali adalah teriakan Mas Azril memanggilku.

"Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun juga sayang."

Aku tersenyum melihat Bunda ada di sampingku saat aku membuka mata. Sudah hampir sebulan aku belum mengunjunginya, selain karena pandemi ini aku juga sedang sibuk dengan project baru dari kantor. Meningkatkan penjualan dari website, aku dan rekanku harus belajar dari berbagai sumber di youtube yang notabene pakak bahasa inggris.

Mau tidak mau aku harus tetap belajar, meski sambil minta bantuan pada google translate. Jujur sih, sedikit banyak dengan adanya project ini aku bisa lebih banyak menguasai kosakata bahasa inggris.

"Bunda!!!" Aku langsung bangun dan memeluknya. Kangen banget.

Lama kami saling berpelukan, melepas rindu yang selama ini menghimpit namun kondisi tidak memungkinkan. Ah, aku jadi merasa bersalah. Harusnya aku yang mengunjungi Bunda, bukan malah Bunda yang mengunjungiku.

"Kamu kok bisa pingsan sih? Bunda sampai kaget, belum pernah-pernahnya kamu pingsan eh tahu-tahu dikabarin Azril kalau kamu nggak sadarkan diri."

Aku terkekeh mendengar ocehan Bunda yang menurutku menggemaskan. Aku rindu diomelin Bunda.

"Ditanya orangtua itu dijawab! Ini malah diketawain, mau jadi anak durhaka?"

Tangan Bunda sudah naik ke telingaku, kebiasaan kalau dulu aku bandel Bunda selalu menjewer telingaku. Nggak sakit sih, soalnya Bunda jewernya setengah-setengah. Saat aku tanya, katanya jewernya pakai hati. "Bunda jewernya masih setengah-setengah ya?" kekehku.

"Ini namanya jewer pakai hati." Selalu begitu jawabannya.

"Kalau pakai hati tuh dipeluk Bun, bukanya dijewer," kataku sembari melebarkan tanganku, minta dipeluk.

"Dasar. Udah jadi ibu masih aja manja," gerutunya. Namun, Bunda tetap memelukku. Nyaman sekali kalau udah dipeluk Bunda gini, bisa sampai ketiduran kalau gini terus.

"Jadi kenapa? Kamu isi ya?" berondong Bunda belum menyerah.

"Maunya, Bun. Hehehe."

"Banyakin berdoa ya, Bunda selalu mendoakan kamu kok."

Aku mengangguk setelah melepas pelukan Bunda. "Em... Mas Azril mana Bun?"

"Lagi masak. Katanya, mau buatin bubur buat kamu."

"Serius Bun? Mas Azril masak?" Pasalnya selama kami menikah, Mas Azril jarang ke dapur. Paling cuma bantu mengiris sayur aja, habis itu dia langsung menunggu di ruang tamu.

"Iya."

Tiba-tiba muncul sosok yang tengah kami bicarakan, dia muncul sembari membawa nampan. Disusul Rayhan di belakangnya yang membawa segelas susu cokelat.

MERINDU SURGACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang