Tadabur alam itu perlu, untuk mempertebal keimanan dan ketakwaan kita. Memahami tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah dengan melihat beragam ciptaan-Nya.
-MERINDU SURGA-
🍁🍁🍁
"Sepertinya Mas mulai mencintaimu." Mas Azril mengatakannya setelah melepaskan helmku. Wajahnya terlihat sumringah, apalagi di tambah senyum manisnya yang mulai sering ku lihat akhir-akhir ini. Aku ingat percakapanku tempo hari dengannya.
"Mas, kenapa Mas jarang senyum? Padahal kalau senyum kan makin," aku terdiam, sementara Mas Azril memicingkan matanya menunggu lanjutan ucapanku, "kelihatan lebih ganteng."
Waktu itu kami tengah duduk di pinggir kolam sembari menunggu Rayhan berenang. Ternyata dari kecil Mas Azril sudah mengajari Rayhan berenang.
Tangan kanannya menggapai pundakku, lalu ia menarikku mendekat. Senyumnya mengembang dibibirnya, "Jadi kamu mau bilang kalau Mas nggak ganteng?"
"Buk ... Bukan Mas," aku tergagap.
"Jadi Mas ganteng?"
Apaan sih Mas Azril. Ngotot banget ya pengen dibilang ganteng. Padahal tanpa aku bilang ganteng pun teman-teman di kantorku banyak yang kagum padanya. Tiba-tiba saja hatiku memanas mengingatnya.
"Jadi Mas ganteng?" ulangnya karena aku tidak segera menjawabnya.
"Hmm."
"Susah banget bilang iya." Mas Azril tertawa renyah, sementara tangannya masih bergerak lembut mengusap punggungku. "Bukankah sekarang kamu sering melihat Mas tersenyum?"
Aku mengangguk.
"Lalu apa masalahnya?" tanyanya lembut. Matanya menyiratkan kehangatan saat menatapku intens. Tatapan yang selalu membuat hatiku berdesir.
"Maksud Wafiq, sebelum kita menikah, Mas nggak pernah senyum. Kesannya kayak pelit senyum."
Mas Azril terkekeh lalu mengusap puncak kepalaku, "Kan Mas cuma mau senyum sama yang halal aja. Senyum sama yang halal kan berpahala?"
Itu katanya waktu itu. Sebenarnya aku masih ingin bertanya lebih lanjut, tapi kecupannya yang tiba-tiba mendarat di keningku seakan melenyapkan semua pertanyaan yang telah ku susun.
"Sayang, kamu ngelamun?"
Aku tergagap, pipiku terasa sedikit panas. Please, jangan merona. Masak iya, hanya karena mengingat saat Mas Azril mengecup kening saja pipiku bisa merona begini? Kan malu!
Sekarang kami tengah berada di depan rumah Mas Azril. Setelah tiga hari menginap di rumah keluargaku, akhirnya dia memboyongku langsung ke rumahnya. Rumah yang dia dapat dari hasil jerih payahnya sejak lulus kuliah. Rumah yang dia tempati bersama istrinya dulu, sebelum Rayhan lahir.
Tunggu, Mas Azril tadi memanggilku apa? Sayang? Ya Allah, jantungku rasanya mau meledak.
"Kok pipimu merah?"
"Hah?" Aku berjengit saat Mas Azril tiba-tiba menyentuh pipiku.
"Itu pipimu merah, sayang."
"Ehm, sayang?" Aku meliriknya melalui mata ayamku, sementara aku menunduk malu.
Mas Azril terkekeh, lalu ia geleng-geleng kepala. "Kamu baru dipanggil sayang aja udah langsung kayak udang rebus gitu mukanya."
"Apaan sih, nggak lucu."
Sesaat kemudian kurasakan gamisku ada yang menarik. "Sayang, tolong bukain helmnya Ray dong."
Mas Azril yang semula hendak membawa masuk helmku, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya saat mendengar suara Rayhan. Sementara aku sendiri tengah menahan tawa melihat ekspresi terkejutnya, meskipun aku sendiri juga terkejut.
KAMU SEDANG MEMBACA
MERINDU SURGA
Teen FictionKetika kamu meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberikan ganti yang lebih baik. Wafiq percaya itu. Sejak hidayah Allah menyapanya, ia mulai merindukan surga. Ujian demi ujian semakin menguatkannya. Hingga Allah hadirkan kembali f...
