"Ketika kita sudah berserah kepada takdir Allah, di situlah kejadian-kejadian yang tidak terduga terjadi padamu."
***
Karena panjang, siapkan cemilan untuk menemani, ya. Jangan lupa tekan vote dan komen saat di akhir cerita, ya. Biar semangat publish extra part selanjutnya.
***
Seorang pemuda berwajah oriental baru saja tiba di King Abdul Aziz Airport, Jeddah. Tidak pernah terbayangkan kalau dia bisa menginjakkan kakinya di kota ini dengan usia yang masih terbilang muda. Dia menarik kopernya melewati pintu keluar bandara. Selanjutnya dia masih harus menempuh perjalanan dari Jeddah ke Madinah selama kurang lebih empat sampai enam jam untuk sampai ke hotel tempat di mana dia akan menginap selama di sini.
Dia tiba di Hotel Al Mukhtara, Madinah. Rasa lelah dan kantuk mulai menggelayutinya, ingin rasanya segera pergi tidur. Namun, seketika rasa itu langsung menguar dan berganti perasaan bahagia saat mengetahui bahwa letak hotel ini dekat dengan Masjid Nabawi. Dia bertekad untuk mengajak rombongannya shalat lima waktu di masjid itu. Pokoknya jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun.
"MasyaAllah, indah sekali pemandangannya," katanya saat membuka jendela hotel. Di luar sana menampilkan gedung-gedung tinggi yang merupakan hotel untuk tempat menginap jamaah haji dan umrah. Kerlip bintang di langit membuat pemandangan malam di Madinah menjadi semakin indah.
"Ente nggak mandi, Lang?" tanya Akbar, salah satu rombongan haji yang satu kamar dengan Elang. Ya, pemuda berwajah oriental yang berhasil menginjakkan kakinya di Madinah ini adalah Muhammad Elang Al Amin.
Dia satu kamar dengan empat orang jamaah, salah satunya adalah Akbar--teman kuliahnya. Kamarnya luas karena dilengkapi dengan ruang tamu kecil, dapur, dan kamar mandi. Tempat tidurnya juga empuk dilengkapi dengan seprei putih khas hotel yang membuat kamarnya semakin aesthetic.
"Mandi dong! Ane kan nungguin ente selesai," balas Elang seraya melepaskan pecinya. Sejak dari Indonesia dia selalu memakai peci putih yang dihiasi dengan bordir berwarna abu itu.
"Masih aja pakai peci itu, katanya mau move on?" Elang salah tingkah mendengar pertanyaan Akbar. Akbar tahu asal usul peci itu, dia juga tahu bagaimana kisah sahabatnya itu dengan si pemberi peci yang ternyata kandas di tengah jalan.
"Jangan salah paham, ane pakai peci ini karena memang ane--" lama Elang tidak meneruskan ucapannya. Dia masih sibuk mencari kata-kata yang tepat.
"Ente masih cinta sama dia? Astaghfirullah, dia kan udah jadi istri orang, Lang. Ente sadar, nggak sih?" cerocos Akbar karena Elang tidak kunjung melanjutkan ucapannya.
"No! Ane udah move on asal ente tau." Akbar manggut-manggut meremehkan mendengar Elang mengelak. Elang menghela napas, "Ane emang suka sama pecinya, tau sendiri kan kalau cowok udah suka sama sesuatu? Sebelum bener-bener rusak, bakalan masih dipakai." Elang terkekeh.
"Seriusly?" tanya Akbar tidak percaya.
Elang mengangguk, "Yes. Intinya sekarang, ane pakai peci ini karena emang nyaman sama ini dan tolong nggak usah bahas apapun tentang dia lagi. Ane udah move on!" tegas Elang.
"Oke oke," kata Akbar akhirnya. Dia memilih mengiyakan meskipun di dalam hatinya tidak percaya kalau sahabatnya itu sudah move on. Dia paham betul dengan sahabatnya, sekali Elang mencintai seseorang, maka akan sulit pula untuk melupakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MERINDU SURGA
Novela JuvenilKetika kamu meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberikan ganti yang lebih baik. Wafiq percaya itu. Sejak hidayah Allah menyapanya, ia mulai merindukan surga. Ujian demi ujian semakin menguatkannya. Hingga Allah hadirkan kembali f...
