Kamu percaya kan dengan kuasa Allah? Kalau Allah sudah bilang iya, seketika semua jadi mudah. Maka dari itu, carilah ridha Allah.
_MERINDU SURGA_
🍁🍁🍁
"Jangan lupa undangan buat aku yang eksklusif, secara aku jagain kamu bertahun-tahun. Memang benar ya kata orang, pacaran itu cuma jagain jodoh orang," cerocos Mas Elang.
Aku geleng-geleng kepala dengan laki satu ini. Udah pamit mau pulang tapi masih aja ngoceh nggak habis-habis. Tuh lihat aja si Tante sampai senyum-senyum nggak jelas.
"Si Elang mah nggak usah didengerin. Yang penting undangan buat Om dan Tante, jangan lupa ya," kata Tante Siti sambil memelukku.
"Kita nggak jadi besanan nggak papa ya Jeng," celetuk Bunda yang tiba-tiba muncul membawa kresek hitam yang aku tebak isinya makanan.
Bunda emang paling dermawan. Waktu kemarin aja, panen terong sampai semua tetangga dikasih. Kayaknya kalau disurvey bisa-bisa satu komplek masak terong semua.
Tante Siti melepas pelukannya lalu beralih ke Bunda. "Nggak papa Jeng, kita tetep bisa temenan kan?"
Aku sudah tidak menyimak lagi obrolan yang dibicarakan Bunda dan Tante Siti. Ayah dan Om Adam juga nggak tau ngomongin apa di deket kebun samping rumah.
"Besok-besok males deh kalau harus jagain jodoh orang."
Astaghfirullah, ternyata Mas Elang masih aja ngedumel. Hello, katanya ikhlas tapi kok ngedumel nggak jelas terus. "Gini ya yang katanya ikhlas?" sindirku.
Dia terkekeh sambil menggaruk lehernya yang kuyani tidak sedang gatal. "Bercanda. Semoga lancar sampai hari H ya."
"Aamiin, makasih Mas."
"Ya udah aku pulang, assalamu'alaikum," pamitnya yang langsung disusul Om Adam dan Tante Siti.
Baru saja berjalan beberapa langkah, Mas Elang menoleh ke arahku. "Dek, kamu beneran udah nggak ada rasa sama aku?"
Hih, gemes deh pengen ngelempar sandal. Aku menatapnya tajam yang langsung membuat dia berbalik arah. Tangannya membentuk simbol 'peace'.
"Hehehe, sia-sia nih Bu pakai batik ganteng gini."
"Yang salah kamu, terima nasib aja deh!" timpal Tante Siti yang disusul tawa Om Adam.
Emang ya orang satu itu dari dulu suka usil terus. Tapi itulah yang sering jadi hiburan untukku di kala sedang penat mikirin kerjaan.
Gimana ya nanti kalau sama Mas Azril?
Oh iya, aku belum cerita ya kalau seminggu yang lalu Mas Azril tiba-tiba datang melamarku. Setelah kunjungannya bersama Rayhan waktu itu, dia tidak datang lagi. Aku kira dia berhenti berjuang sampai di situ saja. Ternyata aku salah, diam-diam dia menemui orangtuaku di luar rumah.
Bahkan nggak tahu kenapa Bunda tiba-tiba setuju kalau aku melanjutkan ta'aruf dengan Mas Azril. Aku kagum dengan Mas Azril, dia ternyata membuktikan pesan yang ia tulis dalam secarik kertas itu.
Jangan khawatir, aku sedang berjuang
Melted rasanya kalau mengingatnya. Apalagi malam itu Mas Azril terlihat berwibawa mengenakan baju koko warna navy dilengkapi dengan kupluk warna senada. Dia tampak lebih muda, dia emang masih muda sih. Masih dua puluh enam tahun walau sebentar lagi memasuki angka dua puluh tujuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
MERINDU SURGA
Teen FictionKetika kamu meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberikan ganti yang lebih baik. Wafiq percaya itu. Sejak hidayah Allah menyapanya, ia mulai merindukan surga. Ujian demi ujian semakin menguatkannya. Hingga Allah hadirkan kembali f...
