40# Bahagia Denganmu

620 64 37
                                        

"Bersamamu aku kuat, taruslah bersamaku hingga maut memisahkan kita."

***

Mas Azril menepati janjinya, paginya kami memberitahu Rayhan kalau dia akan punya adik. Mau tahu bagaimana responnya? Tentu saja dia sangat bahagia, bahkan dia sampai melompat-lompat kegirangan.

"Seneng, Bang?" tanyaku. Mas Azril memicingkan mata padaku, mungkin dia bingung kenapa aku memanggil Rayhan dengan sebutan 'bang'.

"Kok Ummi manggil Ray dengan sebutan Bang?" Tuhkan bener!

Rayhan masih melompat-lompat. "Kan dia bakal jadi abangnya dedek yang masih di perut, Bi."

"Oh iya ya," Mas Azril meraih tangan Rayhan agar anak itu berhenti melompat-lompat. Lalu Mas Azril meminta Rayhan duduk di kursi sebelahnya. "Rayhan mau nggak kalau dipanggil Abang? Nanti dedeknya juga panggilnya gitu."

Dahi Rayhan mengernyit, "Abang itu apa, Bi?"

Aku terkikik geli melihat Mas Azril langsung memberikan kode padaku. "Kakak, Nak!"

"Oh kakak, tapi keren Abang sih. Rayhan mau dipanggil Abang," katanya lalu tersenyum padaku dan Mas Azril. Alhamdulillah, semoga nanti Rayhan bisa menjadi Abang yang baik untuk dedek bayi. Jadi penasaran, kira-kira si dedek laki apa perempuan ya?

Eh! Tiba-tiba ada yang mengusap perutku. Aku menunduk, ternyata Rayhan. "Dek, cepetan keluar dong! Abang udah nggak sabar mau gendong adek nih."

Aku mengulum senyum, "Masih lama, Bang. Ummi aja belum tahu adeknya udah umur berapa."

"Yah, bilangin adeknya biar cepetan gedhe, Bi!" Rayhan beralih menempel pada Mas Azril. Lalu Mas Azril membawanya duduk di pangkuannya. Rayhan malah menggerak-gerakkan kakinya ingin turun.

"Sini dulu!" kata Mas Azril menahannya. "Sabar, Bang! Abang inget kan yang pernah Abi bilang? Orang sabar itu...."

Rayhan mengangguk, "Disayang Allah."

"Pinter," puji Mas Azril. Aku ikut tersenyum, bangga punya anak pinter begitu. Dari dulu Rayhan memang suka bertanya, rasa ingin tahunya tinggi, jadi wajar kalau dia menjadi anak yang pintar dan mudah bergaul.

"Besok Ummi sama Abi mau ke dokter lihat dedeknya, Abang mau ikut?" tanyaku.

Rayhan mengangguk antusias, "Mau, Abang mau ikut lihat dedek!"

Aku mengangguk lalu mengusap kepalanya dengan lembut. Aku juga sudah tidak sabar ingin melihat anakku.

***

Ternyata usia kehamilanku sudah memasuki minggu ke empat, artinya kurang lebih delapan bulan lagi anakku akan lahir. Rasa haru langsung memenuhi rongga dadaku. Kuasa Allah sungguh besar, dari sel telur yang dibuahi nantinya akan menjadi bayi mungil yang menggemaskan.

Aku sudah tidak sabar ingin menggendongnya, menyusuinya, lalu bergantian dengan Mas Azril dan Rayhan untuk menjaganya. "Bi, seneng nggak?"

"Ya seneng dong, Mi. Masak lihat anak sendiri nggak seneng." Kali ini Mas Azril mengajakku naik mobil yang dibelinya beberapa bulan lalu saat corona mulai menyerang. Mas Azril ingin saat kami ke mana-mana jadi lebih aman.

"Kemarin kan--"

"Abi khilaf, tolong jangan diungkit lagi." Aku terkekeh mendengar permintaannya. Memang namanya perempuan, kejadian puluhan tahun lalu aja masih ingat. Apalagi yang baru kemarin. Sebagai istri yang baik akhirnya aku mengangguk.

MERINDU SURGACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang