Aku menghampiri Par di kelasnya, “Ngapain, bahas buat besok apa?”
“Enggak.”
“Lha ngapain?”
“Teman-temanku yang cewek belum pada pulang. Aku nunggu kalau udah pada pulang terus pulang.”
“Oh.”
“Nanti kalau udah mau pulang aku ke kelasmu.”
“Ya deh.” Aku langsung meninggalkannya dan Par masuk ke dalam kelasnya.
Karena di dalam kelas itu sumpek banget jadi aku duduk di depan kelasku. Di sana ada kursi, tapi cuaca emang lagi panas-panasnya ya tetep aja panas dan gerah. Penting nggak di dalam kelas aja soalnya bau keringat yang campur-campur.
Setelah menunggu agak lama di luar kelas, aku masuk ke kelas mau ambil tas sama helm. Satu per satu teman sekelasku pada pulang. Saat aku keluar Par belum juga keluar. Tak lama kemudian Par keluar. Dan kita langsung OTW pulang.
Di jalan aku cerita seperti biasa dengan Par, ghibahin orang pula. soal Carrier Days besok juga. Kalau kelas Par dapet minuman juga tapi dawet. Kalau minuman itu paling mudah daripada makanan. Dari buatnya dan bahannya juga.
Sebelum pulang ke rumah, aku ajak par buat makan mi ayam di tempat biasa. Langganan mi ayam kita berdua. Aku sengaja tadi pagi nggak bawa bekal karena aku sudah tahu kalau nantinya akan pulang lebih awal dan aku juga punya rencana mau traktir Par. Mumpung masih ada uang, belum habis buat ini itu.
Kita sampai di halaman warung makan Pak Ngun. “Seperti biasa kan?” kataku sama Par.
“Ya terserah.”
“Oke. Cepetan ayok masuk.”
Aku dan Par masuk. Par langsung cari tempat duduk. Aku memesan makanannya. Habis itu di depan aku dan par ada yang duduk. Eh terus waktu mbak-mbak yang bersihin meja mau ke belakang orang itu bilang. “Mbak minumnya cepet.”
“Ya, Bu.”
Aku sama Par mah cuma diem aja. Nggak lama Ibuk-ibuk yang duduk di depanku sudah di buatin minum aja. Ngeselin banget padahal aku dulu lho yang pesan. Mungkin karena Ibuk itu bawa 2 anak SD, entah anaknya atau mungkin muridnya. Tapi kalau aku lihat-lihat itu kayak muridnya sih.
Wajahku banyak keringat, terus aku ambil tisu di meja belakang. Orang yang makan di belakang juga pas banget udah selesai makan. Aku mengambil tisu dan ku lap wajahku. Karena nggak enak kalau ngobrol sama Par ada orang di depan kita, jadi aku ajak Par untuk pindah di meja belakang.
Mbak-mbaknya kembali, membersihkan meja yang aku tempati. Karena aku sama Par belum dapat minum aku langsung bilang sama Mbaknya, “es jeruk dua Mbak!” dan Mbaknya langsung membuatkan minum untuk kita.
“Par besok berangkatnya bareng, kamu jemput aku di rumah ya?”
“Halah..!”
“Iya Par?”
“Emangnya kenapa Mbak Ann?”
“Karena besok adikku nggak berangkat sekolah.”
“Kan kalau adik nggak berangkat sekolah, motornya kamu yang pake.”
“Kalau iya, kan niatnya besok adik itu mau bolos sekolah karena ada pendidikan karakter di STM. Terus masak katanya lagi mau izin buat KTP coba. Padahal cuma tinggal ambil doang. Kalau aku mah tak suruh Bapak yang ambil.”
“Pendidikan karakter gimana?”
“Gini lo, kemarin sore dia bilang kau besok hari selasa itu nggak berangkat katanya mau dipolo. Kan gila, masak sekolah zaman sekarang masih main pukul sama anak orang kan enggak mungkin. Ternyata bukan dipolo tapi cuma di fisik doang. Ngomongnya itu lo suka dilebih-lebihkan kan ngeselin bikin emosi aja. Terus nggak jelas lagi.”

KAMU SEDANG MEMBACA
Aku dan Bully [SELESAI]
Novela JuvenilSiapa sih yang suka dibully? Yang jelas semua orang tidak mau dibully. Tapi kita hidup di circle, bahwa bully itu wajar. Wajar kalo kelebihan dan kekurangan seseorang pantas untuk dirundung. Perundungan yang amat menaikkan derajat si perundung, sert...