Di sebuah ruangan yang tak lebih dari tiga meter persegi itu, aku terus belajar dan belajar untuk menyusul ketertinggalanku. Awalnya itu susah banget, apalagi aku yang dulu sama sekali tidak suka membaca antara terpaksa dan harus terus rajin dan rajin membaca, mengerjakan soal-soal, mereview pelajaran tadi siang. Semua kulakukan dengan sungguh - sungguh tentunya. Yang paling mengejutkankku ialah kedua orangtuaku yang begitu senang dengan kemajuan ku ini. Walaupun masalah sebenarnya yang kualami tetap ku pendam sendiri rapat - rapat.
Selama satu semester aku mengisi separuh lebih otakku dengan belajar, bahkan ada ekstra wajib di sekolah yang tidak kuikuti. Bisa dibilang selama satu semester aku membolos ekstra pramuka. Seingat ku, kurasa aku hanya berangkat satu atau dua kali dan selepas itu, aku tak pernah menampakkan batang hidungku. Sampai-sampai aku sering kena semprot sama murid dikelasku. Walaupun mereka pada kesal padaku, tapi setidaknya mereka masih dan selalu mengingatkanku untuk berangkat. Aku yakin mereka juga diminta oleh pembina untuk membujukku. Yah, aku selalu membuat alasan supaya aku tidak berangkat pramuka. Malas saja gitu, ketemu kakak kelas yang badannya pada gede-gede. Serasa kecil banget aku tuh. Bukan itu sebenarnya alasanku. Cuma sifat pengecutku ini sungguh mengganggu. Aku malu kalau harus bertemu dengan mantan teman sekelasku dulu. Apa bedanya saat hari biasa. Tentu saja bedalah. Intinya aku tidak mau dan aku tidak mau menjelaskannya lebih lanjut.
Saat penerimaan rapor untuk semester pertama, sesuatu yang tak pernah aku capai akhirnya aku mencapainya dengan usahaku sendiri tentunya. Aku mendapat ranking dua. Peringkat yang tak mengejutkanku karena aku masih haus, padahal sedikit lagi menjadi nomor satu. Aku nggak menyangka akan mendapatkan huruf ‘C’ di raporku yaitu di keterampilan pramuka.
Jika akademikku bagus dan di atas rata - rata, haruskan satu ekstra menghambat untuk menjadi nomor satu. Hem.. ya begitu, waktu itu aku ikut saat penerimaan rapor dan aku melihat banyak ekspresi teman sekelasku. Oke, ini rahasia jangan bilang siapa-siapa! Ekspresinya Riri, kalian harus tahu Riri! Dia itu tukang gosip dan dia benci aku. Dia kesal dengan pencapaiannya karena dia berada di peringkat empat. Aku menggusur posisinya, posisi tiga besar yang selalu ia dapatkan setiap semester.
Beginilah cara mendapat musuh dengan mengusik pencapaian seseorang. Apakah aku harus merasa bersalah dan meminta maaf? Lantas aku meminta maaf karena apa? Apa mungkin karena dia tidak lagi di peringkat tiga besar. Kenapa? Kenapa itu menjadi masalahku? Jika mau mendapat peringkat ya harusnya lebih giat belajar lagi, bukan malah semakin menyebarkan fitnah padaku.
Semester dua dimulai, waktu itu di taman depan kelas aku, Banu, Riri, Tara, dan Pras. Mereka sedang membicarakan soal pencapaian peringkat yang mereka capai dari kelas satu. Sialnya aku terjebak dalam lingkaran anak - anak yang membenci kekalahan. Aku tidak begitu dekat dengan Riri apalagi Tara, Banu dan Pras. Empat anak itu selalu bersaing dalam mendapatkan peringkat di kelas. Ya mereka itu termasuk anak yang tergolong pintar waktu itu.
“Dulu waktu kelas satu aku rangking satu terus,” kata Pras dengan sombong. Badannya yang ceking itu mulai membuat gerakan - gerakan seperti mengejekku. Aneh, kenapa aku?
“Halah.. apa! Waktu kelas dua kan aku yang dapet ranking satu bukannya kamu!” kata Riri tak mau kalah.
“Kan cuma sekali itu aja. Waktu itu kan aku kejar-kejaran ranking sama Tara dan Banu,” sinis Pras ke Riri. Bulu kudukku mulai berdiri. Suasana macam apa ini? Begitu mencekam dengan tekanan mereka berdua yang beradu argumen.
“Emang sekarang kamu ranking berapa?” tanya Tara.
“Rangking tujuh,” jawab Pras. Diam sejenak, sambil melihat kearahku, “sebelum ada kamu, yang ranking tiga besar itu kami tahu. Ranking satu saja pada kejar - kejaran dari aku terus Riri terus Tara. Iya nggak Ban?” serasa tersindir aku. Aku senyum dan diam. Aku tak tahu mau kutanggapi seperti apa. Karena ku tahu mereka sedang kesal denganku.
“Hem iya,” tanggapan singkat dari Banu.
Riri memberi seringai padaku, dia merasa puas. Mungkin dengan itu akan menurunkan semangatku dan membuat Riri kembali keperingkat sebelumnya. Dari kecil saja sudah nyebelin itu orang. Gedenya juga sama nyebelinnya. Mau tahu gimana si Riri itu nyebelinnya waktu remaja, pokoknya nyebelin banget. Tapi aku ingin menceritakan dia saat di sekolah dasar, yang jelas Riri sangat cengeng dan suka ngatain aku cengeng, waktu aku nangis saat di katain suka sama si Reza. Padahal lebih cengengan dia tahu. Dibilang aku dalam seminggu bisa nangis sekali, tapi Riri sehari saja bisa lebih. Bukan bermaksud membesar - besarkannya, aku berbicara faktanya. Biasanya aku menangis karena sudah tidak tahan dengan ejekan mereka. Riri sekali di ejek sudah menangis, sekali di ganggu menangis, tersenggol sedikitpun menangis, kalah mainpun menangis. Walaupun anak itu benci kekalahan apapun itu, tapi dia tak mau berusaha dengan usahanya sendiri. Kalian tahu kan apa maksudku! Dia akan menggunakan segala cara agar mendapatkan apa yang ia mau.
Ngapain juga aku ngurusin hidup orang lain, padahal mereka juga nggak peduli padaku. Aku peduli dengan mereka, aku rela juga dikatain mereka karena tujuanku satu yaitu punya teman. Aku nggak akan marah dan menangis lagi cuma dikatain aku sudah kuat dan tidak cengeng lagi. Gimana, sebuah pencapaian yang sangat luar bisa bukan? Bukan semudah membalikkan telapak tangan, berkali - kali terjatuh berkali - kalipun aku bangkit. Ini baru dimulai bukan?
Si Riri iri denganku, aku mendapat perhatian lebih oleh teman-teman cowok dan cewek. Ah bahagianya, tapi Riri nggak suka. Menurutnya aku merebut apa yang dia punya. Lalu masalah ya buatku?
Aku duduk di bangku paling belakang dan sendiri. Di bangku depanku, tempat duduk Riri dan Tara. Aku tahu alasan Riri duduk sebangku dengan Tara? Ya karena si Tara itu pintarlah, apalagi? Kalau nggak pinter mana mungkin si Riri mau duduk sebangku sama Tara. Banyak yang suka dengan Tara termasuk aku juga suka dengannya. Tara itu cewek ya, jangan pada salah paham. Gimana nggak pada suka, orangnya baik terus pinter kalau ngomong itu halus banget, terus sama ini suaranya itu kecil jadi keliatan imut-imut gitu. Seru deh orangnya, lain kali kalian harus kenalan deh sama dia.
Lagi ngerjain tugas yang diberikan sama guru, Riri tengok ke belakang. Memangnya salah ya? Kan sama juga soal yang dikasih, malahan soalnya ditulis di papan tulis. Kalau cuma sekadar tengok aku nggak apa-apa, tapi sambil ngasih tatapan tajam dan tersenyum kecut seperti itu, bukannya itu lebih dari ngeselin. Aku diam saja dan lanjut menyalin soal. Tidak ada niatan meladeninya. Biarin saja, toh orangnya memang ngeselin. Waktu itu aku bersikap biasa kepada setiap orang yang ada di kelas. Ya aku memang biasanya begitukan! Mau gimana lagi?
Kesel sama orang itu boleh tapi jangan keseringan. Walaupun aku suka sebel dan kesel sama si Riri tapi itu hanya berlaku saat dia ngasih pandangan jelek terhadapku. Untuk yang lain sih kita biasa temenan kaya ya temenan gitu layaknya teman sekelas sambil ngobrol-ngobrol, ketawa - ketiwi. Iya kalik kalau sampai nggak ngobrol, memangnya betah? Dia saja paling sering membual mana mungkin diam sejenak, kecuali jam pelajaran.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Aku dan Bully [SELESAI]
Teen FictionSiapa sih yang suka dibully? Yang jelas semua orang tidak mau dibully. Tapi kita hidup di circle, bahwa bully itu wajar. Wajar kalo kelebihan dan kekurangan seseorang pantas untuk dirundung. Perundungan yang amat menaikkan derajat si perundung, sert...
![Aku dan Bully [SELESAI]](https://img.wattpad.com/cover/179173795-64-k337033.jpg)