Part 22

6.1K 289 2
                                        

Razel kini sedang berada di base camp DF, dengan anggota lain yang juga sedang berkumpul di sana.

Hingga salah satu anggota DF menghampiri Razel cowok bertubuh tinggi tegap berkulit hitam dan berambut klimis, dia Dero.


Dero menghampiri Razel dan mengatakan sesuatu. "Gue ada informasi baru Bos," ucap Dero saat sudah di hadapan Razel.

Razel menatap Dero begitu pun dengan anggota lain yag mendekat ingin mendengar.


"Eagle's udah ganti ketua," lanjut Dero, Razel menyandarkan punggungnya di sofa terlihat santai.


Anggota DF memandang Razel. "Terus?" tanya Razel meminta informasi lainnya.


Dero mengambil napas sejenak. ''Dia adik kelas Satria di SMA Garuda. Mungkin setelah ini kita akan dapet sambutan," ucap Dero penuh arti di akhir kalimat.


Razel mengangguk paham. "Gua rasa sambutannya akan cukup menarik mungkin?'' ucap Razel.


Anggota DF yang paham langsung berseru semangat. "Keknya bakalan seru nih!"

"Kita gak tahu kapan mereka bakal nyerang. Tapi gua harap kapan pun itu lu semua harus siap!" ucap Razel tegas.


***




Kara uring-uringan di kamarnya merasa bosan.

Bagaimana tidak bosan? Kara di rumah hanya sendiri. Juno entah pergi kemana orang tuanya belum pulang karena baru empat hari mereka ada di Thailand dan ketiga sahabatnya yang entah memang sibuk atau pura-pura sibuk, sehingga tidak bisa diajak pergi. Menyebalkan!



Sungguh Kara sangat-teramat butuh hiburan. Apalagi ini hari minggu, masa harus terus diam di rumah memangnya dirinya sedang dipingit sampai tak keluar rumah.

Kara memutuskan beranjak dan merapikan penampilannya. Dengan menggunakan celana jeans dan kaos putih dimasukan kedalam celana juga di padukan dengan jaket jeans dan sepatu berwarna putih, serta rambut yang diikat satu itu Kara berjalan menuruni tangga rumah berniat pergi mengilangkan suntuk.




Kara memutuskan untuk menaiki taksi karena pada jam dan hari seperti ini pasti sedang macet-macetnya. Ingatkan, Kara itu belum pandai menaiki mobil.
Kara tidak ingin mengambil resiko jika harus menabrak orang seperti waktu itu.


Dengan tanpa tujuan Kara menaiki taksi. "Kemana Mbak?" tanya supir taksi.


Kara terlihat berpikir. "Jalan aja dulu nanti saya beritahu," jawab Kara yang memang tak memiliki tujuan.


Supir itu mengangguk lalu mulai menjalankan mobilnya. Sedangkan Kara tengah berpikir akan kemana dirinya ini?

Memang hidup tanpa tujuan itu memusingkan, dan pada akhirnya Kara memutuskan untuk pergi ke mall saja, mungkin di sana Kara bisa menghilangkan kesuntukannya.


Setelah sampai, Kara kembali bingung untuk apa dirinya kemari? Sendirian pula? Berasa jomblo saja padahal kan Kara punya pacar, iyakan? Kara mengacak rambutnya frustasi. "Bodo amatlah gue kesini mau ngapain juga," setelah itu Kara berjalan melihat-lihat kawasan mall yang menurutnya sama sekali tak berubah saat terakhir kali dia melihat.






Saat Kara melewati toko perhiasan Kara jadi teringat ketika dirinya dan Razel membeli kalung di sana. Bukan, bukan untuknya melainkan untuk Jeslyn. Ah, mengingat kedua mahkluk menyebalkan itu membuat dirinya jadi kesal.



Sampai sekarang Kara tidak mengetahui apa motif Razel memberi Jeslyn kalung mahal itu. Bukankah aneh jika mereka hanya berteman tapi sampai di beri perhiasan mahal?

My Annoying Boyfriend [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang