Kara sedang makan malam berdua dengan Rika Mamihnya, Papihnya sedang lembur dan Juno belum pulang.
Kara makan dengan nikmat berbeda dengan Rika yang tampak murung. Kara memperlambat kunyahannya saat memperhatikan ekspresi Mamihnya itu.
Kara mengernyit. "Mamih kenapa? Kucing tetangga mati lagi?" tanya Kara karena terakhir kali Rika murung karena kucing tetanggnya yang mati. Entahlah Mamihnya Kara itu memang ajaib.
"Bukan," jawab Rika menggeleng lesu.
Sambil terus menyuap Kara menyahut. "Apa sekarang yang punya kucingnya yang mati?" Rika yang mendengar langsung berdiri menjangkau Kara yang ada dihadapannya karena terhalang meja makan, lalu menggetok kepala anaknya itu menggunakan sendok.
"Sembarangan!" sentak Rika setelah kembali duduk. Kara memegangi kepalanya yang berdenyut.
"Yakan Kakak cuman nebak," bela Kara.
"Tebakan kamu kayak yang nyumpahin Mamahnya si Glen buat meninggal!" ucap Rika melotot.
"Ohh... yang punya kucing itu Mamahnya Glen. Mana Kara tahu kalo itu Bunda. Lagian yang nyumpahin itu bukan Kakak justru Mamih!" tunjuk Kara, Rika mendelik.
"Yang punya kucingkan bukan Bunda Rini. Tapi si Glen," ucap Rika membuat Kara tersedak minumannya karena terkejut.
"Apa? Sejak kapan si Glen pelihara kucing?" tanya Kara tak percaya.
"Ya mana Mamih tahu!" jawab Rika seadanya.
"Yaudah deh, Kara aja deh yang tadi nyumpahin," ucap Kara membuat Rika terkekeh.
Segitu tidak sukanya Kara pada Glen? Pikir Rika.
"Nah gitu dong ketawa ngapain mendung-mendung," ucap Kara membuat Rika kembali teringat sesuatu dan kembali muram. Kara menghela napasnya sesaat.
"Mamih kenapa sihh? Cerita sama Kakak! Papih selingkuh? Mamih tenang aja kalo emang Papih selingkuh nanti selingkuhannya Papih biar Kakak yang urus. Kakak cakar, Kakak jambak-jambak, Kakak—" ucapan Kara langsung di potong Rika karena anaknya itu semakin melantur.
"KAKAK IHH AMIT-AMIT!!" teriak Rika sambil memukul meja tiga kali.
"Ohh... salah lagi ya?" tanya Kara polos. "Lagian Mamih drama banget bikin orang penasaran aja."
Rika menopangkan dagu pada kedua tangannya. "Mamih ngerasa setelah kepulangannya Mamih dari Thailand itu, sikap Juno jadi aneh," ucap Rika sendu karena perubahan sikap Juno.
Meskipun Juno itu dingin tapi Rika masih bisa merasakan kehangatan dari anaknya itu. Tapi setelah pulang dari Thailand entah kenapa sikap Juno jadi berubah menjadi lebih dingin.
Pulang selalu larut, di ajak bicara jarang menyahut dan yang lebih anehnya lagi kini Rika tak melihat pertengkaran kecil dari kedua anaknya itu yang biasanya selalu terjadi setiap hari. Kini keduanya adik-kakak itu seolah tak saling mengenal. Ada apa sebenarnya?
Kara yang sedang mengunyah kerupuk langsung berhenti mengunyah menatap Rika yang memasang tampang sendu. "Emang dia aneh kan?!" timpal Kara kemudian kembali mengunyah kerupuk.
Jawaban Kara tak seperti yang Rika bayangkan. "Mamih serius Kara!" sentak Rika membuat Kara menghela napas. Kara memakan habis kerupuk di tangannya kemudian melipat tangannya di meja menatap Rika serius. "Oke Kara serius."
"Mamih juga akhir-akhir jarang liat kalian tengkar," ucap Rika.
Kara mengernyit tak paham. "Ya bagus dong!" jawab Kara cepat.
"Mamih kan yang selalu bilang, Adek Kakak tuh harus akur. Saat kita udah akur, Mamih malah kepikiran. Gimana sih?" Rika mengatupkan bibirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Annoying Boyfriend [END]
Teen Fiction( Sudah Tamat tapi ada baiknya di ramaikan dengan voment. ) Banyak cewek-cewek yang ingin memiliki hubungan dengan seorang Razelio Neftra Xiliks cowok tampan dan merupakan ketua geng besar sekolah. Namun, berbeda dengan cewek bernama Arnlytha Karame...
![My Annoying Boyfriend [END]](https://img.wattpad.com/cover/205015244-64-k46497.jpg)