Part 28

5.7K 277 6
                                        

Kara menelusupkan kepalanya di lipatan tangan yang di taruhnya di atas meja. Dengan terus merengek sambil misuh-misuh tidak jelas membuat teman-temannya yang berada di kelas itu mengerutkan kening.



"Bajingan! Brengsek! Sialan! Nyebelin! Dasar setan selatan!" Kara terus saja mengoceh dengan umpatan-umpatan yang keluar dari mulutnya.


Shasa yang sudah kepo ingin menjadi wartawan sesaat pun terpaksa mengurungkan niatnya. Melihat kondisi sahabatnya itu yang sudah mengoceh tak karuan.

Kara mengangkat wajahnya tak lupa dengan rengekan kecil yang keluar dari mulutnya. Ketika sudah menegakan tubuh pandangannya langsung tertuju pada teman-temannya yang sedang menggerubungi mejanya tak lupa tatapannya yang bermacam ekspresi.


Kara mengerutkan kening.  "Apa?" tanya Kara dengan rengekan.

Teman-temannya yang tersadar langsung memalingkan wajah pura-pura tak melihat. Kara mendengus dan kembali misuh-misuh. Teman-temannya yang sedang menontoninya ini kebanyakan adalah cewek, karena yang cowok entah pergi kemana terkhusus anggota DF di kelasnya.



Shasa yang jengah langsung bertanya. "Lo kenapa sih?"

Kara menoleh. "Jakett..." rengek Kara.


Shasa menatap curiga. "Lo punya hubungan sama dia yaa?" tuduh Shasa dengan mata yang memicing.



Kara mendelik kesal. "Apasih? Apa? Hubungan apa? Dia? Dia siapa?" ucap Kara kesal.


Shasa mengerjap saat mendapat semprotan kekesalan dari Kara. "Dari tadi perasaan hubungan, hubungan mulu yang diomongin. Hubungan sama siapa sih? Gue gak pahaamm?!" ucapnya menggebu di akhiri dengan rengekan.


Shasa menggaruk kepalanya jadi bingung sendiri. "Lo gak punya hubungan sama mereka?" tanya Shasa lagi.



Kara kembali mendelik. "NGGAK SHASA!!" teriak Kara frustasi, Shasa kini mengatupkan bibirnya.



Abel memutar bola matanya ikutan kesal. "Yaudah, terus masalahnya apa lagi Karamell?" geram Abel.


Kara dan Abel sudah baikan. Karena saat malam-malam Abel, Shasa dan Echa datang kerumah Kara. Meminta maaf dan menjelaskan semua kesalah pahaman mereka. Dengan penuh bujukan akhirnya Kara menerima perminta maafan mereka dengan syarat, tidak akan ada lagi rahasia di antara mereka. Dengan semangat ketiganya menyutujui hal itu.





"Abel..." rengek Kara. "Jaketnya mau dibakar.... huaaaa..." teriak Kara.




Teman sekelas Kara langsung meringis mendengarnya. Jika kalian ingin tahu kelas Kara ini MIPA 5 adalah kelas tersolid. Jika ada yang memiliki masalah maka mereka akan ramai-ramai membantu. Tapi, untuk kasus Kara kali ini, mereka memilih bungkam. Tidak mau ikut campur apalagi berurusan dengan bos gengnya sekolah.



Abel menggaruk kepalanya bingung. "Gimana ya?" ucapnya sambil berpikikir.




"Lo bantuin ngomong sama kak Laksa deh," saran Shasa, Abel langsung menendang kaki Shasa yang berada di bawah meja tak lupa dengan tatapan tajam yang cewek itu layangkan.




Shasa yang paham langsung melihat ke arah teman-temannya yang sedang mengerutkan kening. Shasa menoleh lagi pada Abel dan memberikan cengirannya.


"Maksud gue tuh, em.. minta bantuan Kak Laksa gitu," ucap Shasa meralat.


"Gue gak yakin Kak Laksa bisa, kan kelas 12 lagi sibuk persiapan UN," sahut Sabila sekertaris MIPA 5 angkat bicara.



My Annoying Boyfriend [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang