Mentari kirana, atau kerap disapa Mentari. Ia bercermin memandang dirinya yang sudah siap mengenakan seragam sekolah. Dipandangnya pantulan dirinya dicermin, terdapat luka goresan yang cukup dalam dilengannya, ia segera mengambil cardigan pink, lalu memakainya.
Setelah dirasa cukup dengan penampilannya saat ini. Ia keluar dari kamar untuk turun ke lantai bawah.
Mentari berjalan menuju kamar mamahnya dilantai satu.
Saat pintu kamar dibuka, dilihat mamahnya masih tertidur.
Mentari memasuki kamar mamahnya. Ia mendekat ke ranjang yang sedang ditempati sang mamah.
"Ngapain kamu kesini?" Mentari menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan yang bernada dingin dari Tyas, mamahnya.
"Mentari mau pamit, Mah." jawab Mentari dengan nada lembut.
"Gak perlu, lebih baik kamu langsung pergi saja ke sekolah." usir Tyas, yang saat ini masih tertidur memunggungi Mentari.
"Mah--"
"Sudah saya bilang Kirana." Tyas menekan perkataannya.
Mentari tidak menyahut, ia langsung membalikan badan dan keluar dari kamar sang mamah.
Saat hendak menutup pintu, Mentari menyempatkan diri untuk menatap mamahnya, dengan tatapan sendu.
"Mah, Mentari pamit assalamualaikum." pamitnya, kemudian menutup rapat pintu kamar, Tyas.
Mentari melangkahkan kaki menuju sekolahnya.
🌞
Pagi pagi dilapangan sekolah SMA Bhakti sudah ramai dengan siswi-siswi SMA Bhakti, yang tengah terpekik menonton cogan cogan sekolahnya bermain basket.
Salah satu cowok tampan selalu berhasil menguasai bola, dan melemparkannya ke ring basket dan selalu berhasil masuk dengan sempurna. Membuat teriakan siswi siswi semakin terdengar nyaring meneriaki namanya.
"Ya Ampun Bintang, jago banget sih mainnya."
"Keren banget gewla couo gue."
"Masdep kuh, i'm here."
"Makin cool aja kekasihku."
Dan banyak lagi, perkataan siswi-siswi yang mampu membuat telinga Bintang sakit.
Ya, cowok tampan itu adalah Bintang, Bintang athalla.
Bintang menyelesaikan permainannya. Dia berjalan kepinggir lapangan menghampiri teman temannya yang ikut menontonnya tadi.
"Gila lo Bin, masih pagi udah main basket aja." ujar Rio saat Bintang berada didekatnya.
"Wajar elah, dia kan kapten basket." sahut cowok satunya, yang bernama Joan.
Bintang tidak menghiraukan perkataan teman temannya, ia duduk disamping Joan. dan mengambil handuk kecil yang berada ditasnya. Lalu mengelap keringatnya dengan handuk itu.
Hal itu, menjadi tontonan gratis bagi siswi-siswi disini.
Tiba tiba saja saat ia sedang sibuk mengelap keringat, seseorang duduk disampingnya.
"Pagi Bintang." sapa cewek itu dengan senyuman manis dibibirnya.
"Pagi juga Mentari." sahut Joan, yang berada di samping Bintang. Hal itu membuat senyuman Mentari pudar, berganti dengan wajah cemberut.
"Apasih lo, pengen banget disapa." ucapnya ketus.
"Masih mending dijawab." sahut Joan tak mau kalah.
Mentari tak menghiraukannya.
Ia kembali menatap Bintang dengan senyuman yang kembali terbit, lebih lebar dari yang awal.
"Bintang pasti haus kan habis main basket, nih mentari bawain air dingin." Mentari menyodorkan sebotol air dingin ke arah bintang. Namun Bintang hanya menatapnya, lalu berpaling dan mengambil minuman di dalam tas lalu meneguknya hingga sisa setengah.
"Sini buat gue aja Tar, dari pada mubadzir." ujar Rio, yang melihat raut sedih di wajah Mentari.
"Ih apasih, ini kan buat Bintang." sahut Mentari keukeuh meskipun air nya tak diterima Bintang.
"Bintang, capek gak?" tanya Mentari masih dengan nada ceria.
"ih Bintang, ko malah diem sih."
"Bintang keren banget tau main basketnya."
"..."
"Mentari jadi tambah suka sama Bintang." ujar Mentari, tanpa rasa malu menyatakan perasaanya kepada cowok yang sama sekali tidak peduli dengannya.
"Ri, Jo. Ayok cabut, bentar lagi bel masuk." Bintang berdiri meraih tasnya, lalu pergi meninggalkan teman temannya.
Mentari menatap Bintang yang ‛lagi-lagi' meninggalkannya.
Rio menatap mentari kasihan."sabar Tar, untuk kesekian kalinya lo diabaikan lagi sama tuh orang." ujar Rio mencoba menguatkan Mentari.
Mentari tersenyum kecut. "Udah biasa." ujarnya, lalu pergi dari tempat tadi.
Mengapa 'Kehidupan Mentari tidak seberuntung Bulan, yang memiliki Bintang disisinya.
Kapan dia bisa bahagia, dengan orang-orang yang dicintainya?
Entahlah, Mentari juga tidak tahu mengapa nasibnya tidak seberuntung Bulan.
Mungkin, tuhan punya cara lain untuk membuatnya bahagia.
Dan Mentari harus melewati prosesnya dahulu untuk mencapai kebahagiaan yang telah ditakdirkan tuhan untuknya.
Baiklah, Mentari tidak boleh menyerah. Dia akan melalui proses ini dengan sabar.
Dia akan berjuang, untuk mencapai kebahagiaannya.
Semangat!
....
Sorry kalau gak jelas gais😂
Iseng iseng aja ini, semoga aja pada suka yah.
Vomentnya atuh manteman😁❤.
Mohon maaf nih masih banyak typo atau salah nulis nama/ tempat dll🙏
Maklum, masih amatir. Hehe😅
Tolong bantu share cerita ini ke teman teman kalian ya gais! Makasiii😄
KAMU SEDANG MEMBACA
ASTROPHILE
FanfictionIni tentang Mentari yang mencoba menggapai sang Bintang. Akankah Ia berhasil meraih sang Bintang ? Ataukah ia menyerah dan memilih menatap Bintang dari kejauhan? ... "Kamu terlalu jauh tuk ku gapai." "Kamu, bintang yang nyata untukku." ... RANK 🏆 1...
