Siap-siap ya baca part ini. Karena part ini mengandung-- *sensor biar penasaran😂
****
Maaf kalau selama ini aku selalu menyakiti kamu. Ini mungkin terlambat. Tapi, idzinkan aku untuk membalas perasaanmu.
****
Malam hari begitu terang. Bintang dan Bulan memancarkan sinar mereka ke bumi. Membuat suasana malam menjadi terang. Bintang sedari tadi hanya diam merenung didalam kamarnya. Raganya memang disini, tapi tidak fikirannya.
Terkadang Bintang merasa menjadi orang yang paling jahat bagi Mentari, Ia selalu saja menyakiti wanita itu. Dalam hati kecilnya, Ia sangat menyesal karna selalu mengabaikan gadis cantik itu.
Namun apakah membuka hati adalah keputusan yang salah? Apa Bintang terlambat menerima kedatangan Mentari dalam hidupnya?
Namun Bintang masih bimbang dengan keputusannya, Ia takut akan menyakiti gadis itu jika dia tau kalau Bintang akan dijodohkan dengan orang lain. Bintang harap Mentari tidak mengetahui hal itu. Bintang akan menolak permintaan Ayahnya untuk kali ini.
Tiba-tiba terlintas pemikiran untuk menghubungi gadis itu.
Bintang mengambil ponselnya dan membuka aplikasi chatting.
To Mentari :
P
Ia bingung harus memulai chat seperti apa. Tidak mungkin kan mengirim 'lagi apa sayang?' bisa-bisa Mentari ilfeel. Eh apa Mentari bisa Ilfeel padanya? Bisa jadi jika Bintang mengirim pesan seperti itu Mentari akan kegirangan membacanya.
Bintang tersenyum tipis ketika mengingat ekspresi Mentari jika berada didekatnya.
Bintang menunggu sampai sepuluh menit pun pesannya tak kunjung mendapat balasan. Tumben sekali Mentari tidak membalasnya.
Bintang memutuskan untuk menelepon gadis itu.
Panggilan pertama gadis itu me-reject panggilannya.
Tapi Bintang tak menyerah, sekali lagi Ia kembali menelepon.
Dua menit menunggu, akhirnya gadis itu mengangkat panggilannya.
🌞
Mentari berdecak ketika suara panggilan telepone membangunkan tidurnya.
"Ck, ganggu aja si Bella."
Ia menggapai ponselnya diatas nakas, dengan mata terpejam Mentari mengangkat panggilan itu.
"Huaahhh," Mentari menguap, "Apaan? Ganggu tidur aja."
"...."
"Ck, kok diem si Bell? Apaan si nelpon nelpon? Kangen gue lu ya? Kan besok kita ketemu Bell- Hatchim," Mentari menggosok hidungnya setelah bersin tadi. Jangan sampai Ia sakit, karena setelah ujian kelar Ia harus tampil diacara Pensi akhir tahun sekolahnya.
"Gak jelas banget si lo -Huaaahh," Mentari kembali menguap, "dahlah gue matiin telponnya."
"Ekhem,"
Terdengar suara deheman disebrang sana. Seketika Mentari membuka matanya lalu mengerjap. Sepertinya itu bukan suara Bella, Ia melihat layar ponselnya. Matanya membola ketika yang meneleponnya ternyata Bintang.
KAMU SEDANG MEMBACA
ASTROPHILE
FanfictionIni tentang Mentari yang mencoba menggapai sang Bintang. Akankah Ia berhasil meraih sang Bintang ? Ataukah ia menyerah dan memilih menatap Bintang dari kejauhan? ... "Kamu terlalu jauh tuk ku gapai." "Kamu, bintang yang nyata untukku." ... RANK 🏆 1...
