Bab 39

5.8K 578 38
                                        


"Mbak kenapa mukanya pucat gitu?" Clara memekik kaget saat melihat wajah pucat Prilly.

Aldo dan Kenanga juga serentak menoleh tentu dengan ekspresi wajah berbeda. Aldo tampak sama khawatirnya dengan Clara sedangkan Kenanga tersenyum lebar sepertinya dia benar-benar bahagia melihat kondisi Prilly saat ini.

Prilly tersenyum kecut melihat reaksi Ibu mertuanya. Apa yang salah sampai dirinya sebegitu dibenci oleh Ibu mertuanya ini? Apa karena sejak ada dirinya keperluan wanita itu jadi terhalang tapi rasanya tidak mungkin toh menurut cerita Ali dia masih rutin memberikan uang bulanan untuk Ibu dan Adiknya.

Hanya saja untuk berfoya-foya langkah Kenanga sudah terhenti karena Prilly sama sekali tidak memberikan akses untuk itu. Benar, Kenanga semakin membenci Prilly ketika semalam Ali memberitahu dirinya jika semua akses keuangan Ali berada di tangan Prilly.

Menurut Kenanga tindakan putra tirinya itu begitu bodoh. Kenapa harus Prilly jika ada yang berhak mengatur keuangan Ali adalah dirinya bukan Prilly.

"Mbak baik-baik aja cuma semalam Mbak muntah terus." Prilly ingin menarik kursi namun sudah terlebih dahulu dilakukan oleh Ali yang entah sejak kapan berada di belakang istrinya.

Prilly hanya melirik sekilas tanpa mengatakan apapun dia langsung mendaratkan bokongnya di sana. Dia sangat lemah hari ini bahkan berjalan saja dia nyaris seperti tertatih.

Ali menatap sendu istrinya, jika melihat bagaimana tak berdayanya Prilly rasanya sangat pantas untuk Prilly mengabaikan dirinya. Dia salah tidak seharusnya dia membiarkan istrinya yang lagi hamil muda itu sendirian semalam.

Ibunya juga tidak sakit parah semalam bahkan ketika tengah malam Ibunya bisa tidur dengan nyenyak meskipun tidak melepaskan tangan Ali, tapi jika dia berusaha mungkin setelah Ibunya tidur dia bisa menyelinap keluar dan kembali ke kamarnya.

"Mas jangan melamun!" Ali tersentak ketika suara Aldo memasuki gendang telinganya. "Iya kenapa Al?" tanya sedikit salah tingkah karena ketahuan melamun.

Semua menatap penuh minat pada Ali terkecuali Prilly yang lebih berminat pada secangkir teh hijau miliknya. Prilly benar-benar mengabaikan keberadaan suaminya. Mood-nya belum cukup baik saat ini.

"Aku mau ke gudang hari ini. Mas di rumah aja, kasihan Mbak Prilly kayaknya kurang sehat hari ini." Aldo melirik Prilly hingga semua menoleh menatap Prilly.

Prilly cuek saja malah dengan santainya dia melahap roti tawar untuk mengganjal perutnya. Prilly kehilangan selera terhadap makanan apapun kecuali roti tawar di hadapannya ini.

"Jangan terlalu dimanjain yang hamil bukan dia aja Clara juga hamil nggak manja kayak dia tuh."

"Ibu."

Ali dan Aldo serentak memperingati Ibunya. Kenanga menatap tajam putra-putranya yang terlihat begitu membela Prilly. Clara meringis pelan, suasana tenang berubah tegang dalam seketika.

'Ibu sih ngapain pakai nyeletuk begitu'

Clara memegang sendok di tangannya tapi tidak berniat lagi untuk melahap makanannya terlebih ketika Ibu mertuanya kembali melempar bom yang kali ini tidak hanya menyambar Ali maupun Aldo tapi Prilly juga.

"Silahkan kalau anak Ibu mau kerja! Aku tidak pernah melarang. Lagian yang hamil itu aku bukan Mas Ali."

Ali menatap istrinya dengan mata memohon supaya tidak menanggapi perkataan Ibunya. Namun Prilly tak perduli.

"Lancang kamu ya! Berani kamu jawab saya?!" Kenanga berdiri dengan cepat hingga kursinya terseret kebelakang suara gesekan kursi dan lantai pun terdengar cukup keras.

Prilly tidak gentar bahkan dengan berani dia menatap Ibu tiri Ali itu. Dia sudah cukup lelah dengan tubuhnya yang belum istirahat sejak semalam jadi salah besar jika Kenanga mencari masalah di saat kondisinya sedang tidak pas seperti ini.

"Bu tenanglah. Jangan seperti ini, Prilly sedang hamil Bu. Tolonglah." Ali ikut berkomentar menengahi ketegangan di antara istri dan Ibunya.

"Bu udahlah jangan cari masalah pagi-pagi. Kasihan Mbak Prilly lagi kurang sehat itu." Aldo ikut berbicara.

"Kalian semua jangan kurang ajar sama Ibu ya? Kalian itu anak Ibu harusnya kalian bela Ibu bukan perempuan ini!" Kenanga menunjuk ke arah Prilly dengan tatapan tajamnya.

"Sudahlah Bu. Aku lelah. Selamat pagi semua." Prilly kehilangan nafsu makannya hingga memilih beranjak dari sana.

"Sayang."

Prilly tidak menghiraukan panggilan suaminya. Yang dia butuhkan saat ini adalah tidur.

**

Ali menghela nafasnya setelah melihat istrinya menghilang di balik tembok menuju kamar mereka.

"Buk kenapa Ibu seperti ini? Mas sudah katakan jangan cari masalah Bu dengan Prilly, dia lagi hamil anak Ali. Kasihan dia Bu." Ali mengusap wajahnya. Dia benar-benar lelah dengan keadaan seperti ini.

Aldo menatap iba Kakaknya begitu pula dengan Clara. "Mas Ali bener Bu. Jangan terlalu mendrama Bu. Kasihan Mbak Prilly." Clara mengeluarkan pendapatnya.

"Diam kamu Clara! Kamu cuma numpang disini!" Kenanga menghardik Clara hingga menantunya itu mengkerut ketakutan.

"Ibu!!" Aldo kembali menegur Ibunya. Tangannya memeluk erat istrinya. "Jangan bentak Clara! Aldo nggak suka!"

Kenanga mendengus kesal. "Terus saja kalian bela wanita-wanita nggak berguna ini! Kalian anak durhaka! Tahunya cuma nyakitin hati Ibu aja."

"Buk. Ini bukan masalah nyakitin atau kami berniat durhaka sama Ibu tapi Bu, kami wajib menegur jika Ibu berbuat salah dan tindakan Ibu akhir-akhir ini benar-benar sudah di luar batas Bu." Aldo kembali mencerca Ibunya. Ali memilih diam, kepalanya nyaris pecah menghadapi Ibunya.

"Anak durhaka kamu Aldo!"

"Biarin Aldo durhaka! Allah juga tahu kali ini tujuan Aldo baik. Aldo memang biang masalah, tukang buat maksiat tapi kali ini Aldo benar-benar tulus menegur Ibu karena tindakan Ibu udah salah." Aldo tidak gentar menghadapi Ibunya. Toh seperti yang dia katakan, dia hanya ingin Ibunya sadar kalau tindakannya kali ini benar-benar salah.

Kenanga mendengus kesal sebelum beranjak meninggalkan meja makan. Dia sudah terlalu kesal menghadapi anak-anaknya yang menurutnya sudah begitu berani melawan dirinya.

Dan yang lebih membuatnya kesal adalah Ali yang memilih diam. Biasanya Ali paling didepan untuk membelanya. Benar-benar membawa pengaruh buruk Prilly itu!

Di meja makan Aldo terlihat menenangkan Clara yang entah sejak kapan sudah menangis. Ali menghela nafasnya, tidak hanya Prilly yang disakiti Ibunya tapi Clara juga.

Ali benar-benar pusing harus melakukan apa?

"Mas aku mohon maaf tapi aku akan terus melawan Ibu jika Ibu menyakiti hati istriku juga Mbak Prilly. Maaf kalau aku lancang menurutku Mas salah jika terus mengalah pada keegoisan Ibu yang ujung-ujungnya selalu menyakiti Mbak Prilly." Aldo menatap Ali dengan tatapan serius tidak terlihat sinar jahil di mata tajamnya.

Ali membisu. "Maaf tapi istri tanggung jawab kita Mas. Berbakti boleh tapi nyakitin hati istri jangan Mas. Bahagia istri itu tanggung jawab suami, aku yakin saat melamar Mbak Prilly, Mas Ali pasti menjanjikan kebahagiaan bukan?"

Dan seketika palu besar menghantam dada Ali hingga nyaris membuatnya tumbang.

Dia kembali salah langkah..

*****

Fix 4 X update hari ini..

Gimana seneng? Senang dong yaa..

Kabar baiknya, pdf cerita ini Insyaallah ready sebelum tanggal 1 yaaa..

Ayok bagi yang berminat ikut po masih ada waktu yaa harganya 45k setelah cerita ini ready harganya normal ya 50k..

Selamat malam minggu semuanya...

With You LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang