Pagi ini bisa dikatakan pagi terburuk sepanjang sejarah bagi si tiga terkecil. Biasanya mereka akan bahagia sekali ketika hari minggu tiba, tapi tidak untuk kali ini. Tidak jika Aerin tidak ada.
"Hyung, menyerah sajalah." Namjoon menghela napasnya lelah. Matanya menyusuri satu persatu makanan yang tersaji di meja, akan tetapi hal itu tidak membuat hatinya senang.
Ia tidak mau menyakiti hati Yoongi karena mengatakan ini (walaupun hati Yoongi itu seperti batu dan sulit untuk disakiti). Dari pada makanan, hal-hal yang tersaji di meja lebih terlihat seperti pupuk organik.
Paham maksudnya, kan?
Yoongi tetap tidak mau mendengarkan keluhan apapun. Aneh juga, kemarin rasanya setengah mati lelah mengurusi bocah-bocah itu hingga membuatnya berjanji untuk membawa Aerin pulang. Tapi hari ini ketika matanya terbuka, janji itu terbang entah kemana.
Siapa juga yang butuh Aerin? Dia masih bisa mengatur semuanya sendiri. Bahkan pagi tadi saat Seokjin dan Jisoo pamit untuk pulang ke rumah mereka, Yoongi masih bisa menyunggingkan sebuah senyuman (re: bibir yang hanya berbentuk garis).
"Hyung, sepertinya tanaman di belakang rumah lebih membutuhkan ini." Hoseok ambil suara. Bagaimanapun juga dia ini manusia, memerlukan makanan empat sehat lima sempurna. Lebih baik dia delivery saja dari pada memakan masakan Yoongi.
"Seokjin hyung akan kembali lusa, hyung tahu kan kalau Aerin harus kembali. Kalau tidak hyung juga akan ditendang keluar."
Yoongi tampak tak takut dengan perkataan Namjoon. Dengan wajah datarnya, ia menata peralatan makan di meja. "Aku membuat kesepakatan dengan Seokjin hyung." Ucapnya.
Mereka yang mendengar perkataan Yoongi menunjukkan reaksi yang berbeda. Namjoon terkejut, tapi masih tercover dengan sikap tenangnya, Hoseok terkejut yang overdosis, sedangkan para bocah kelihatan tidak perduli karena memiliki pembicaraan mereka sendiri.
"Psst! Ini aman dimakan tidak?"
"Tidak tau, sepertinya lebih enak roti kadarluarsa punya noona."
"Kita akan keracunan lagi? Huhu, perut kookie masih sakit."
"Makan atau tidak, ya?"
"Kita kabur saja."
"Bagaimana kalau telpon Seokjinie? Minta masakin makanan yang lebih enak."
"Seokjinie kan baru pergi."
"Yang ini terlihat seperti cacing yang sedang bermain di dalam tanah."
"Wah iya! Lucu juga ya."
Seperti itulah kira-kira percakapan mereka yang kalau dilanjutkan tidak ada habisnya.
"Jika aku bisa membuat kalian senang, Aerin tidak perlu kembali."
Kalimat Yoongi seolah menjawab rasa penasaran Namjoon dan Hoseok. Hoseok langsung saja meledakkan tawa. Namjoon ingin ikut-ikutan tapi sekali lagi ia tidak ingin menyakiti hati Yoongi.
"Senang seperti apa? Membuat kami senang tidak semudah itu, apalagi untuk mereka." respon Namjoon sambil menunjuk Jungkook, Taehyung dan Jimin.
Yoongi mengerutkan alisnya. Ia tidak setuju dengan perkataan Namjoon. Memang dia orang yang paling menakutkan untuk mereka, tapi membuat mereka senang adalah hal termudah yang ada di dunia (Selain tidur tentunya).
"Jungkook, kalau Hyungie berikan rubik baru senang tidak?"
Jungkook segera menjawab dengan senyuman yang merekah. "Senang sekali Hyungie! Kookie mau rubik yang besar!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hyungie
Fiksi PenggemarAda tiga monster kecil, satu monster receh, satu monster bernapas api, satu monster penghancur, dan satu monster berotak separuh. Jika disuruh memilih satu, siapa yang akan kalian pilih untuk diasuh? 2019, Chocooky_
