09 - HIS FROZEN HEART

11.9K 949 4
                                        

09 – HIS FROZEN HEART

Dengan kamu yang masih mengingatnya, sudah cukup membuat aku terluka. Lantas, bagaimana jika dia hadir di tengah kebahagiaan kita saat ini?
Apakah aku harus mundur? Atau, bolehkah aku egois dengan bertahan di sisimu?

▫️▫️▫️

LEVI DAN Vannesya masih menjalankan hukuman. Berdiri di tengah lapangan sambil menghadap tiang bendera. Kalau mereka bisa prediksi, mereka sudah berdiri di sini sekitar empat puluh menit. Gadis berambut pirang yang berdiri di sampingnya ini dari tadi tidak berhenti mengoceh. Levi sampai geram mendengar semua ocehannya. Cukup matahari yang ada tepat di atas kepalanya yang membuat ia gerah—jangan lagi, gadis di sampingnya ini menambah daftar kegerahan Levi.

“Pokoknya ini semua gara-gara lo, gue jadi kena hukum!”

Levi hanya meliriknya sinis, tidak berniat untuk menanggapi ocehan Vannesya. Memangnya, salah siapa mereka berdua bisa berdiri di sini—di bawah teriknya matahari. Kalau saja Vannesya tidak mencari perkara dengan mencekal kakinya sampai terjatuh, Levi tidak mungkin membalas mendorong gadis itu. Dan sekarang, Vannesya malah menyalahkannya? Sialan memang!

Memilih mengabaikan, Levi melenggak menatap langit. Cahaya matahari yang ada di atas kepalanya saat ini membuat kepalanya berdenyut nyeri. Ia mengambil napas dalam-dalam, berusaha melipurkan rasa nyeri pada kepalanya yang semakin menjadi.

“Heh, lo kenapa diam aja? Pokoknya gue mau minta pertanggungjawaban dari lo!”

Astaga, kenapa orang di sebelahnya ini tidak berhenti untuk berkicau. Salah siapa mereka berada di sini? Kalau saja kepalanya tidak pusing, sudah bisa dipastikan, Vannesya akan merasakan akibatnya karena terlalu berisik.

“Mulut lo bisa diam nggak, sih, Cungkring? Nyeri telinga gue dari tadi dengar lo ngoceh! Dasar!” desis Levi, mulai hilang kesabaran dengan Vannesya. Ia bahkan mengabaikan rasa sakit pada kepalanya.

“Kurang ajar, lo ngatain gue cungkring?”

“Lo emang cungkring! Udah cungkring, berisik lagi!”

“Kurang ajar! Dasar pendek!” Vannesya mendorong Levi agak kuat, sampai membuat gadis itu jatuh ke lantai lapangan yang kasar.

Levi tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terjatuh karena kepalanya semakin pening. Ia tidak bisa menahannya lagi. Kepalanya terasa benar-benar pusing. Dan entah dari kapan hidungnya sudah mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Levi mendongak sembari memegang hidungnya yang terus mengeluarkan darah segar.

Sementara Vannesya terkejut saat melihat Levi yang mimisan. Saking kagetnya, Vannesya hanya bisa diam melihat Levi yang mulai kesakitan memegang dadanya. Napas Levi mulai tercekat. Ia memegang dadanya yang sekarang mulai terasa sesak. Para siswa yang sejak tadi memperhatikan mereka mulai datang mengerumuni gadis itu.

Davina dan Melinda ikut datang menghampirinya. “Vi, lo nggak apa-apa, kan?” Davina dan Melinda berucap khawatir. Davina membawa Levi bersandar pada dadanya. Sementara Melinda membantu Levi memberhentikan darah yang keluar dari hidung menggunakan sapu tangan.

“Permisi!” Gerald datang tergesa-gesa ke arah lapangan ketika melihat Levi jatuh. Ia bahkan tidak peduli dengan orang-orang sekitar yang menghalau jalannya menghampiri Levi.

D E T A K [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang