23 – TIBA-TIBA CINTA
Ketahuilah, jalan menuju kebahagiaan memang berat. Meskipun begitu, menyerah bukanlah pilihan.
▫️▫️▫️
LEVI MENATAP dirinya pada kaca. Menilai apakah pakaian yang dikenakannya saat ini sudah sesuai. Atasan off-shoulder berwarna hijau dipadukan dengan celana jeans. Tadi pagi Gerald mengirimkan ia pesan, cowok itu ingin mengajak ia pergi ke taman bermain. Satu hari tanggal merah selain hari Minggu yang jatuh pada hari ini membuat Levi menerima ajakan Gerald. Sebenarnya ia ingin pergi tadi pagi, namun Gerald masih ada urusan dengan tim basket. Memegang posisi sebagai kapten, membuat Gerald harus ikut dalam pertemuan itu. Jadilah mereka berdua pergi sore ini.
“Levi!”
Teriakan yang berasal dari arah bawah itu sudah bisa dipastikan adalah suara sang ibu. Menandakan bahwa Gerald sudah ada di bawah. Levi tahu hal itu. Gerald selalu mengabarinya lewat chat sebelum masuk rumah, agar tidak terlalu lama menunggu.
Levi memperhatikan dirinya sekali lagi lewat cermin. Ia tidak sabar untuk kencan hari ini.
***
“Sore-sore gini taman bermain buka?” Levi memulai percakapan setelah duduk di dalam mobil Gerald. Gadis itu langsung sadar memakai seatbelt-nya sendiri. Gerald tersenyum melihatnya karena tidak perlu lagi untuk menegur Levi kalau saja dia lupa memakai sabuk pengamannya.
“Buka,” jawab Gerald, mulai menyalakan mesin mobil.
“Emang iya?” tanya Levi lagi.
Gerald mendengkus. “Lo kalau gugup mending diam aja, deh. Pertanyaan lo itu aneh. Udah tahu ini tanggal merah. Pasti bukalah,” balas Gerald tak santai.
“Gue nggak gugup! Ngapain juga gue harus gugup?”
“Yaudah, makanya diem.”
Jawaban Gerald membuat Levi mencibirinya. Melontarkan pertanyaan barusan memang dilakukannya untuk menutupi rasa gugup. Mendadak ia merasa canggung dengan Gerald. Apalagi yang membuat ia canggung seperti ini kalau bukan masalah kejadian kemarin. Tidak bisa dikatakan masalah, karena dari kejadian kemarin, ia bisa tahu perasaan Gerald padanya sekarang.
Meskipun Gerald mengatakan kalau dia belum paham dengan perasaannya sendiri. Tapi mendengar laki-laki itu yang mulai merasa nyaman berada dekat dengannya, membuat Levi bahagia. Ia seperti mendapat sebuah harapan yang baru.
Suasana di dalam mobil benar-benar terasa aneh. Gerald hanya diam, Levi pun memilih untuk diam. Hanya ada suara yang berasal dari audio mobil yang terdengar. Menemani perjalanan mereka yang terasa gabir. Levi memiringkan kepalanya, menoleh pada Gerald yang sedang fokus menyetir. Mata cowok itu lurus-lurus ke depan tanpa berpaling. Entah Gerald juga merasa canggung sama sepertinya. Cowok itu memang sangat pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya. Dan itu menyebalkan, karena Levi jadi tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Gerald.
***
Setelah mengantre tiket cukup lama, akhirnya mereka masuk ke taman bermain. Ternyata memang benar, sore ini taman bermain sangat ramai dikunjungi orang-orang.
Gerald menoleh, menatap Levi. Melihat banyaknya orang membuat Gerald mengambil tangan Levi untuk digenggam. “Biar nggak ilang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
D E T A K [COMPLETE]
Teen FictionShanata Levi Azzura punya segalanya, kasih sayang orangtua, hidup berkecukupan, dan kesempatan kedua dalam hidup setelah menerima donor jantung. Sepuluh tahun ia menunggu, hingga akhirnya bisa merasakan indahnya masa SMA, hal yang selama ini hanya i...
![D E T A K [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/219604903-64-k706686.jpg)