04 – TANTANGAN DITERIMA
Saling cinta, belum tentu bisa saling memahami. Bersama? Belum tentu bertahan selamanya.
Kamu harus siap, jika semuanya berakhir. Karena perpisahan tidak mengenal waktu, kapan dia akan datang.
▫️▫️▫️
GERALD DUDUK di atas tempat tidur, melihat ponsel yang saat ini ada di tangan kanannya. Ia masih membaca pesan yang baru saja dikirim oleh gadis yang beberapa minggu ini terus saja mengejarnya. Tanpa lelah dan tanpa ada rasa malu sedikit pun. Meskipun sering ditolaknya.
Beberapa minggu dikejar Levi membuat Gerald merasa terusik. Seolah masa-masa tenangnya luntur begitu saja. Selama ini banyak siswi di sekolah yang sering mengejar Gerald. Tapi dari mereka semua tidak ada yang berani mengusik ketenangan cowok beralis tebal itu. Karena mereka semua tahu—Gerald Xavier Haidar tidak mau lagi didekati oleh perempuan.
Gerald menghela napas. Melempar ponsel tersebut ke tempat tidurnya. Laki-laki itu bangkit dari atas tempat tidur dan menuju ke ruangan kecil yang berada di dalam kamarnya. Gerald membuka pintu ruangan tersebut. Kemudian menekan saklar lampu yang ada dekat dengan pintu ruangan. Lampu cahaya mendominasi ruangan minimalis tersebut.
Di dalam ruangan minimalis ini terdapat beberapa kamera beserta lensanya. Berjejer rapi di atas meja yang telah dirancang sedemikian rupa. Di dalam ruangan ada dua nakas panjang yang saling berhadapan. Nakas sebelah kanan digunakan untuk meletakkan kamera dan berbagai jenis lensanya. Di sebelah kiri terdapat nakas yang di atasnya berjejer foto dengan berbagai macam ukuran. Sementara di ujung ruangan, terdapat satu foto berukuran besar. Gerald berdiri tepat di depan foto tersebut.
“Aku nggak tahu, apa yang ada di pikiran kamu sampai kamu tega melakukan hal ini ke aku. Tanpa penjelasan dan tanpa pemberitahuan kamu pergi gitu aja. Kamu bahkan udah janji bakal terus ada di samping aku. Kamu udah janji untuk membantu aku keluar dari masa kabung. Tapi kamu sendiri yang membuat aku semakin merasa terkabung dengan perginya kamu tanpa alasan. Aku marah sama kamu, tapi aku nggak bisa benci sama kamu. Kamu udah sukses buat aku jatuh cinta terlalu dalam sama kamu. Kamu ke mana, Mel?” Gerald bergumam lirih, sambil memandang foto di ruangan itu, yang seolah menjadi dasar kenapa ruangan ini bertahan.
“Yang pergi, biar saja pergi. Nggak usah diingat-ingat lagi.”
Terdengar suara bariton dari arah belakang Gerald. Gerald memutar badan, melihat orang itu. Gerald mengenali siapa orang ini, Dama Haidar—ayahnya. Dama merasa lelah dengan anak laki-laki satu-satunya itu, yang masih saja memikirkan orang yang ada di dalam foto tersebut.
“Setiap orang punya masa bertemu. Kalau masanya sudah habis, nggak ada manusia yang dapat merubahnya. Anggap saja, masa kamu dengan perempuan itu sudah habis. Mau kalian ada dalam jarak sedekat apa pun, kalau masa itu tidak ada lagi, kalian akan tetap berjauhan dan tidak akan pernah bertemu.” Dama mendekati sang putra yang masih berdiri dengan tatapan muram. “Papa tahu apa yang kamu rasakan. Setelah kepergian Mama kamu—memang benar perempuan itu yang berhasil hibur kamu. Tapi kamu tetap harus ingat, kelakuan dia yang tiba-tiba pergi tanpa alasan seperti ini.”
“Semuanya nggak semudah itu, Pa.”
“Kalau kamu kayak gini terus, kapan kamu akan berubah? Papa mau lihat kamu yang dulu. Papa rindu lihat Gerald yang dulu. Gerald yang selalu ceria dan punya sifat humble. Lupakan dia, Gerald.” Dama memegang pundak sebelah kanan Gerald kemudian menepuknya pelan. Setelah itu Dama keluar dari sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
D E T A K [COMPLETE]
Novela JuvenilShanata Levi Azzura punya segalanya, kasih sayang orangtua, hidup berkecukupan, dan kesempatan kedua dalam hidup setelah menerima donor jantung. Sepuluh tahun ia menunggu, hingga akhirnya bisa merasakan indahnya masa SMA, hal yang selama ini hanya i...
![D E T A K [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/219604903-64-k706686.jpg)