17 – NEW FRIENDS
Mengalah, bukan berarti kalah. Mundur, bukan berarti takut. Dan menyerah, bukan berarti akhir dari segalanya.
▫️▫️▫️
SENIN, ADALAH hari yang paling menjengkelkan bagi semua siswa. Hari di mana mereka harus berdiri di tengah lapangan untuk waktu yang lama. Membiarkan matahari memberikan kucuran keringat. Membasahi seragam dengan peluh yang dihasilkan. Tapi, tidak untuk hari ini. Mereka semua terselamatkan dari kegiatan rutinatas berdiri di lapangan pada hari Senin. Mendengarkan ceramah kepala sekolah yang selalu itu-itu saja di atas podium.
Hujan turun mulai sejak subuh. Membasahi Kota Metropolitan dengan segala kebisingannya. Langit tampak mendung. Saat cuaca seperti ini, merebahkan diri di atas ranjang akan menjadi pilihan yang paling utama. Menikmati desingan air hujan yang menghantam jendela. Sungguh kenikmatan sederhana yang mampu menggirangkan jiwa.
Tetapi sebagai pelajar—terlebih sebagai siswa SMA, keinginan seperti itu harus disimpan dulu rapat-rapat. Ini hari Senin, tidak ada kata libur untuk hari di mana seluruh aktifitas dimulai pada hari ini.
DES tidak terlihat sepi. Banyak para murid yang berdiri di depan kelas sambil melihat jutaan air yang dihasilkan oleh awan di langit. KBM hari ini ditiadakan. Guru-guru sedang mengikuti rapat untuk membahas festival yang sebentar lagi akan berlangsung. Sementara untuk semua siswa yang sudah ditunjuk mengikuti lomba O2SN dan FLS2SN pergi mempersiapkan diri.
Levi berjalan sendiri menyusuri gedung sekolah. Tujuannya adalah lab sains. Gadis itu diminta oleh kepala sekolah untuk mewakili DES mengikuti olimpiade sains. Lab sains terletak di sayap kiri gedung kelas sebelas. Butuh waktu sekitar lima menit untuk sampai ke sana. Levi berjalan dengan langkah santai. Tidak terburu-buru, karena ia merupakan siswi istimewa dalam lomba ini. Bising-bising Levi mendengar banyak siswa yang sedang membicarakan ia dan satu orang siswa lain lagi—yang merupakan siswa istimewa, yang ditunjuk mengikuti lomba ini. Mereka berdua bahkan ditunjuk langsung oleh kepala sekolah untuk mengikuti lomba itu. Olimpiade sains menjadi ikon dari lomba ini. Jadi DES sebisa mungkin harus memilih siswa yang benar-benar dapat memberikan tambahan piala untuk sekolah mereka.
“Pergi lo dari sini! Orang bodoh kayak lo nggak pantas ada di sini. Lo itu cuman bikin malu diri lo sendiri. Dasar benalu!”
Sekitar lima meter sebelum sampai di lab, Levi mendengar suara keributan. Tidak jauh dari arah lab terlihat banyak orang yang berkumpul di sana membentuk lingkaran. Seperti sedang menonton pertunjukkan yang menarik untuk dilihat.
“Orang bodoh kayak lo nggak usah sok-sokan mau deketin Izi! Orang bodoh kayak lo, pantasnya sama orang yang punya otak yang sama bodohnya dengan lo!”
Suara itu semakin meninggi. Suara hinaan yang keluar dari mulut seorang siswi itu memenuhi penjuru koridor lab. Semakin dekat Levi dengan arah keributan, matanya mulai menyipit. Alisnya saling menaut tajam. Melihat seorang siswi yang sedang dipermalukan itu sudah menundukkan kepala dalam-dalam. Dari celah orang-orang yang berkumpul, Levi semakin berusaha melihat siapa siswi itu. Hingga semakin dekat dengan mereka, matanya melebar dengan sempurna.
“Miu?”
Gadis yang sedang dipermalukan di depan banyak orang itu adalah Miu.
“Nama lo bahkan ada di urutan yang paling bawah. Zona merah. Jadi nggak usah menampakkan diri lo di tempat orang-orang pintar ini lagi!” Dia semakin mempermalukan Miu yang hanya diam tidak berani melawan. “Dan satu hal lagi—gue nggak sudi lo selalu panggil-panggil bokap gue dengan sebutan Papa!”
KAMU SEDANG MEMBACA
D E T A K [COMPLETE]
Novela JuvenilShanata Levi Azzura punya segalanya, kasih sayang orangtua, hidup berkecukupan, dan kesempatan kedua dalam hidup setelah menerima donor jantung. Sepuluh tahun ia menunggu, hingga akhirnya bisa merasakan indahnya masa SMA, hal yang selama ini hanya i...
![D E T A K [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/219604903-64-k706686.jpg)