46 - DETAK

9.8K 752 117
                                        

46 – DETAK

Singkat. Aku ingin menjadi apa yang bisa membuatmu bertahan lebih lama, bahkan lebih dari selamanya.
Sehingga di antara kita tak akan ada kata seperti judul kalimat ini—singkat.
Bagian tersedih dari kehilangan seseorang, adalah ketika dia memilih berhenti bernapas. Memilih berhenti memastikan, aku baik-baik saja.
Jika segala hal mempunyai rasa, maka hanya ada satu pucuk yang akan menjadi puncak dari kebahagiaan.
Semuanya terjadi tanpa sengaja. Dalam satu detak jantung dan dalam sekejap, aku jatuh cinta.
Ya …. dalam satu detak jantung.

▫️▫️▫️

GENGGAMAN ERAT tidak pernah lepas. Laju dorongan stretcher menandakan bahwa tubuh laki-laki itu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Gerald kehilangan banyak darah. Bibirnya kian memucat. Air mata Levi terus menetes membanjiri wajahnya. Mengingat bagaimana Gerald yang memeluknya dengan erat. Melindunginya dari maut. Membuat dadanya berdenyut sakit.  Seluruh tubuhnya kian gemetar, melihat Gerald yang sudah tak sadarkan diri lagi. Tidak ada yang diperbolehkan masuk. Mereka semua menunggu di luar. Di balik pintu kaca dengan tulisan besar UGD, mereka hanya bisa mendoakan kondisi laki-laki itu dari luar.

“Vi, lo nggak apa-apa, kan?” tanya Davina khawatir. 

Davina dan Melinda datang menyusul ke rumah sakit setelah diberitahu Carrel apa yang terjadi dengan Levi. Selama di perjalan pemikiran mereka begitu kalut. Hampir saja Levi kehilangan nyawanya lagi dan mereka berdua baru mengetahui soal ini. Semuanya sudah jelas, Davina dan Melinda sudah mengetahui segala apa yang terjadi. Sumber masalah yang berasal dari Mawar—kembaran Melati. Davina memilih untuk belum memberitahu Raina mengenai hal ini. Tentang Levi yang baru saja disekap Mawar.

Levi tidak menjawab pertanyaan Davina dengan perkataan jelas. Hanya gelengan kecil yang mewakili pertanyaan sang sepupu. Namun sudah pasti mereka tahu, jika kondisi Levi saat ini tentu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Ada goresan luka di wajahnya dengan darah yang telah mengering, juga tangannya yang dipenuhi darah. Entah itu darah Gerald seorang atau bercampur dengan darah yang berasal dari tangannya akibat ulah Mawar.

Davina mengambil tangan Levi untuk digenggam. “Kita obatin luka lo dulu, ya?” Davina berujar pelan. Mengerti dengan keadaan Levi yang masih terguncang.

“Gue .... gue takut.…” ucap Levi gemetar. Davina dan Melinda langsung memeluk Levi bersamaan. Gadis itu mulai menangis lagi. Kali ini ia tidak dapat menahan tangisnya tanpa suara. “Gara-gara gue …. Gerald celaka.”

“Itu bukan gara-gara lo!” sahut Davina dengan cepat.

“Gerald pasti akan baik-baik aja.” Melinda mengusap lembut punggung Levi yang masih gemetar hebat. “Yang penting sekarang kita berdoa, agar kondisi Gerald baik-baik aja. Jangan nyalahin diri lo lagi, Vi.”

Levi mengangguk kuat. Ia masih belum bisa menahan tangisnya untuk berhenti. Meskipun mencoba untuk tetap tenang, tapi perasaannya berkata lain. Ia sangat takut terjadi hal buruk dengan Gerald. Sudah dua kali Gerald mempertaruhkan nyawa untuk menolongnya.

Sementara di sisi lain, Carrel dan Daffin tidak kalah cemas. Mereka berdua duduk dengan kedua tangan menumpu pada paha, serta kedua telapak tangan yang menutupi wajah keduanya. Mereka telah memberitahu Dama Haidar soal hal ini. Pria dengan status ayah Gerald tersebut tentu saja segera menyusul ke rumah sakit.

Tidak lama Dama datang dengan wajah khawatir. Di saat bersamaan, dokter yang memeriksa kondisi Gerald keluar dari ruangan pemeriksaan. Dama langsung mengampiri sang dokter. “Bagaimana kondisi anak saya, Dok?”
Semua orang mulai menatap dokter itu dengan gelisah.

D E T A K [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang