02 - PAKSAAN

18.4K 1.2K 109
                                        

02 – PAKSAAN

Aku juga bingung.
Yang aku tahu, setiap kali aku melihatnya, jantungku selalu berdebar.

▫️▫️▫️

DAVINA MENARIK Levi keluar dari kantin seusai menembak Gerald tiba-tiba. Sebagai sesama perempuan, Davina yang merasa malu dengan aksi memalukan sepupunya tadi. Davina tidak habis pikir, apa yang ada di otak cantik Levi. Sampai berani berujar kata sedemikian rupa kepada Gerald. Menembak cowok itu di depan banyak orang, dan langsung ditolak begitu saja.

Siapa yang tidak akan merasa malu? 
Tentu saja, tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Levi untuk menjadi trending topik hangat DES. Siswi baru yang tanpa ada rasa malu sedikit pun menembak Gerald di depan umum. Si cowok populer. Idola semua siswi DES. Si kapten basket berwajah tampan. 

Sekarang di sinilah mereka berada, taman sekolah yang tidak terlalu banyak siswa kunjungi karena letaknya yang lumayan jauh dari gedung. Davina masih menatap lekat Levi. Sesekali Davina menghela napas berat dan menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal. Masih tidak habis pikir dengan kelakuan sepupunya tadi. Tidak lama Melinda datang ke taman ini. Karena sudah diberitahu Davina agar segera menyusul mereka ke taman.

Davina pun mulai berbicara. Memberitahu kepada Melinda mengenai apa yang barusan terjadi. Levi yang secara tiba-tiba menembak Gerald.

“What?! Lo nembak Gerald—di kantin?” respon Melinda dengan rasa terkejut.

“Iya,” jawab Levi dengan santai.

“Lo aja yang denger di sini kaget, Nda, apalagi gue yang menyaksikannya secara langsung di tempat kejadian perkara. Lapar gue seketika langsung hilang tahu nggak,” ucap Davina, menyandarkan tubuhnya di bangku taman, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Lo kenapa bisa tiba-tiba nembak Gerald mendadak kayak gitu? Di kantin sekolah lagi. Jatuh cinta pandangan pertama sama dia?” tanya Melinda masih dengan ekspresi terkejutnya.

Dahi Levi berkerut tipis. Bibirnya dikatup rapat, matanya mulai menerawang ke atas, seolah sedang berpikir. “Mungkin?” jawab Levi sekenanya.

“Sumpah, ya, Vi. Selama ini gue nggak pernah percaya sama yang namanya cinta pada pandangan pertama. Tapi setelah lihat lo, gue baru percaya, ternyata mitos itu ada.”

“Gue masih heran, deh, sama lo, Vi. Lo kenapa bisa tiba-tiba nembak Gerald kayak tadi, sih? Gue yang malu, Vi. Astagaaa....” ujar Davina dramatis.

“Ya, gue nggak tahu. Yang jelas, waktu gue lihat Gerald untuk pertama kali tadi, jantung gue langsung berdebar-debar. Rasanya kayak mau lepas dari tempatnya. Dan nggak tahu dapat dorongan dari mana, gue langsung nembak Gerald di situ.”

Davina dan Melinda hanya geleng-geleng kepala, tidak percaya mendengar penjelasan dari Levi. Mereka berdua masih belum percaya dengan apa yang barusan dilakukan oleh sahabat mereka ini.

“Si Rapunzel yang akhirnya bisa keluar dari menara tahanannya, bisa tiba-tiba jadi kayak gini. Bar-bar juga, ya, lo ternyata,” ujar Melinda. Meskipun masih kaget, tapi tak urung membuatnya tertawa geli dengan sifat sang sahabat yang baru dia ketahui.

“Gue pikir, lo yang nggak pernah masuk sekolah formal bakal jadi anak yang pendiam. Ternyata .... asumsi gue salah,” sambung Davina.

D E T A K [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang