06 – GERBANG KEBAHAGIAAN SEMU
Berjuang itu indah, namun tak mudah. Sering dibumbui keluh kesah jika tidak diwarnai dengan sabar. Muncul pengharapan yang kemudian patah.
Tujuannya hanya satu, tetap berjuang tanpa lelah.
▫️▫️▫️
HARI INI langit terlihat cerah, saking cerahnya sampai tidak terlihat ada awan yang membungkus langit. Levi berjalan dengan langkah kaki yang tak memburu. Rambut hitam legam miliknya yang diikat satu ikut melambai-lambai sesuai dengan irama langkah kaki dia. Sama halnya dengan langit pada pagi ini, suasana hatinya pun ikut bahagia tanpa celah. Mengingat kembali kejadian kemarin, apa yang Gerald katakan di depan banyak orang.
“Sekarang, lo pacar gue!”
Astaga, jantung Levi bahkan terus berdebar hanya karena mengingat hal itu. Ia merasa seperti ditembak oleh Gerald di depan banyak orang. Padahal Levi tahu sendiri, kalau itu hanya bagian dari taruhan mereka. Tapi Levi tidak peduli, karena mulai hari ini statusnya adalah ‘Pacar Gerald Xavier Haidar.’
Terus melangkah sambil mengingat kejadian kemarin di lapangan, di mana ia berhasil menjadi seorang flyer. Jika dipikir-pikir, Levi yang mempunyai akrofobia sangat mustahil baginya bisa naik sampai tingkatan ketiga pada saat melakukan arabesque. Ya, itu karena Levi fobia ketinggian. Tapi beruntungnya Levi mempunyai paman seorang dokter.
Benar, ayah Davina adalah seorang dokter—lebih tepatnya dokter psikiater. Sehari sebelum pertandingan, Davina memberikan obat penenang kepadanya untuk diminum sebelum mulainya pertandingan. Dan reaksi dari obat itu benar-benar manjur. Ia bisa menahan rasa takutnya terhadap ketinggian ketika tubuhnya diangkat oleh para base.
Kembali. Levi berjalan menyusuri koridor. Ia berniat untuk mampir dulu di loker miliknya. Ada barang yang sempat ia tinggalkan di dalam loker. Suasana koridor kelas sebelas belum ramai, mungkin karena waktu yang baru menunjukkan pukul 06.20—karena biasanya sekolah baru akan ramai mulai pukul 07.00.
Jangan bertanya kenapa gadis itu bisa datang lebih awal, karena ini memang jam datang Levi. Ia memang tipikal gadis yang sering bangun pagi. Biasanya sebelum masuk ke kelas, Levi akan menyempatkan diri untuk duduk-duduk santai di bangku taman depan. Sambil menikmati udara pagi yang segar di bawah pohon rindang. DES memang dikenal sebagai sekolah dengan ke-asriannya.
Setelah mengambil barangnya di loker, Levi memutuskan untuk mampir dulu ke toilet. Rasanya kantung kemihnya terasa penuh dan ingin segera di keluarkan. Setelah buang air kecil gadis itu mencuci tangannya di wastafel, sembari memperbaiki tatanan rambutnya di depan cermin yang berhadapan langsung dengan wastafel.
Levi memperhatikan dirinya pada pantulan kaca, ia tersenyum miring kemudian. “Gue cantik kayak gini malah ditolak terus sama si batu. Heran gue, selera dia emangnya kayak apa, sih?” Selesai dengan urusannya, Levi berniat untuk keluar dari toilet. Belum sempat ia membuka pintu, seseorang masuk dan mencegahnya untuk keluar.
“Jadi ini—parasitnya Gerald?” ujar siswi yang barusan masuk.
“Benar, Sya. Ini cewek yang sok-sokan ikutan cheers cuman buat dapatin perhatiannya Gerald.”
Levi kenal siapa siswi yang baru saja berbicara barusan. Dia adalah Sisil. Levi juga agak familiar dengan satu orang lagi yang datang bersama Sisil, karena beberapa kali ia pernah melihat gadis itu di lapangan indoor.
KAMU SEDANG MEMBACA
D E T A K [COMPLETE]
Teen FictionShanata Levi Azzura punya segalanya, kasih sayang orangtua, hidup berkecukupan, dan kesempatan kedua dalam hidup setelah menerima donor jantung. Sepuluh tahun ia menunggu, hingga akhirnya bisa merasakan indahnya masa SMA, hal yang selama ini hanya i...
![D E T A K [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/219604903-64-k706686.jpg)