16 - LEVI'S STORY

11.4K 921 9
                                        

16 – LEVI’S STORY

Kalau bisa diucapkan dengan lisan, kenapa harus dipendam?
Hidup bukan sinetron, yang kalau berucap di dalam hati bisa terdengar.

▫️▫️▫️

LIMA LIST memorable Levi telah terpenuhi. Tersisa dua list lagi yang akan mereka lakukan.  List memorable yang ditulis oleh Gerald. List keenam adalah olahraga. Entah bisa dikatakan olahraga atau tidak, karena mereka hanya akan mengunjungi dermaga di tepi pantai. 

Tadi malam Gerald mengirim Levi pesan, laki-laki itu akan menjemput ia pukul 15.00. Gerald menyeru Levi agar menggunakan pakaian olahraga. Jadilah sekarang Levi menggunakan pakaian semi-olahraga miliknya. Atasan yang berupa jaket berwarna hitam dengan aksen garis-garis merah pada bagian lengannya, juga celana berwarna dan bermotif sama. Ia memang sengaja menggunakan pakaian seperti ini.

Bagaimana mungkin, ia menggunakan pakaian olahraga pada umumnya? Mengunjungi dermaga pantai menggunakan pakaian olahraga seperti itu agaknya kurang cocok. Gerald benar-benar aneh. Apa mungkin cowok itu hanya mengerjai ia? Awas saja kalau sampai seperti itu!

Levi menatap diri sebentar pada kaca sebadan. Rambut panjangnya dikuncir satu. Tidak menggunakan polesan apa pun, hanya bedak tabur dan minyak bibir agar tidak kering. Baru saja ia ingin keluar kamar tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Levi tersenyum, mengetahui siapa orang yang barusan mengetuk pintu itu.

“Masuk, Pa.”

Pintu dibuka. Menampilkan sosok pria berusia diawal empat puluh tahun. Memiliki wajah khas Asia Timur yang kental. Dengan kedua bola mata berwarna cokelat serta bentuk mata menyerupai sebuah senyuman. Dia adalah Shanata Hideyoshi—ayah Levi. Hideyoshi memberi Levi kejutan dengan pulang lebih awal. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu biasanya pulang sebulan sekali, atau bahkan dua bulan sekali. Tapi karena pekerjaan yang lenggang, membuat Hideyoshi mencuri kesempatan ini untuk bisa pulang. Menemui dua wanita yang sangat dia cintai. Istrinya dan sang putri.

“Wah, kawaii .... anata wa kirei na. Putri Papa cantik sekali.” Hideyoshi memuji penampilan Levi sembari memeluk putrinya.

Arigatou gozaimasu.” Levi membalas pelukan sang ayah.

Hideyoshi mengecup pipi Levi dengan sayang. “Kamu mau ke mana?” Kini tangan Hideyoshi mulai mengelus sisi kepala putrinya penuh kasih.

“Maybe—kencan?” jawabnya dengan nada pelan. Hideyoshi belum mengetahui kalau putri kesayangan satu-satunya ini sudah memiliki pacar. Ada rasa takut di dalam hati Levi, jangan sampai sang ayah akan melarangnya berpacaran.

“Putri Papa punya pacar?” tanya Hideyoshi dengan nada tidak percaya.
Levi mengangguk pelan sebagai jawaban. Ia menggigit bibir dalam sebagai bentuk penyaluran dari rasa khawatir. Sang ayah begitu protektif dengannya. Jangan sampai sifat itu akan berdampak pada status ia dan Gerald saat ini. Hideyoshi tersenyum tulus, lalu mengecup pelan kening Levi. Ada rasa lega di dalam hati Levi ketika melihat respon ayahnya.

“Putri kecil Papa sudah besar ternyata. Kamu sudah besar, ya, Sayang?” ucap Hideyoshi lalu menjawil pelan hidung Levi.

Levi tertawa geli. Kadang ia masih dianggap anak kecil oleh sang ayah. “Jadi??”

“Jadi apa?” Hideyoshi balik bertanya.

“Papa setuju kalau Vi punya pacar? Papa nggak marah, kan, kalau Vi pacaran?”

D E T A K [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang