11 - CANDLE LIGHT DINNER

11K 1K 49
                                        

11 – CANDLE LIGHT DINNER

Segala sesuatu yang ditakdirkan menjadi milikmu tidak akan pernah hilang, sekalipun sempat lepas darimu dia akan tetap kembali. 
Begitu pun sebaliknya, sesuatu yang tidak ditakdirkan menjadi milikmu akan hilang, sekuat apa pun kamu menggenggam.

▫️▫️▫️

MALAM INI sesuai janji, Gerald akan menjemput Levi tepat jam tujuh malam. Sekarang gadis itu sudah siap dengan pakaiannya. Levi menatap dirinya pada cermin berukuran sebadan. Berkali-kali ia tersenyum ketika melihat pantulan dirinya di cermin itu. Ingin memuji diri sendiri cantik—tapi memang itu kenyataannya. Siapa pun yang melihat ia malam ini pasti akan mengatakan hal yang sama.

Malam ini Levi mengenakan dress yang dipilih langsung olehnya di butik Raina tadi pagi. Mempunyai ibu seorang desainer terkenal membuat Levi merasa beruntung. Ia jadi tidak perlu repot-repot mencari pakaian di luaran sana. Cukup memberitahu Raina—maka semua beres. 

Dress dengan model flounce menjadi pilihan Levi malam ini. Dress dengan kombinasi warna putih-hitam serta grey dengan aksen pita pada bagian pinggul. Dress sepanjang lutut ini terlihat begitu pas dan cocok di tubuhnya. Menampilkan bagian bahunya, tetapi jauh dari kesan seksi. Karena dress ini terlihat begitu girly untuk gadis remaja seperti ia.

Tidak lupa, ia memoles sedikit wajahnya menggunakan bedak tabur, memakai lipmate berwarna pink, serta eyeliner pada bagian mata. Ini memang merupakan dandanan Levi. Gadis itu tidak menyukai make up berlebihan. Sementara untuk rambut, Levi memilih untuk menggerainya. Ia hanya menggunakan bandana dengan tatanan bunga. Bandana berwarna putih gading itu begitu cocok dengan dress yang ia kenakan saat ini.

Penampilan Levi malam ini terlihat begitu cantik plus manis.

Levi berjalan menuju lantai bawah. Waktu telah menunjukkan pukul 18:45, artinya sebentar lagi Gerald akan datang menjemput. Rumah bergaya modern ini tampak sepi, hanya ada beberapa pelayan yang mengerjakan tugas mereka masing-masing. Sementara Raina belum pulang, karena masih ada beberapa urusan yang harus dia kerjakan di butik miliknya.

Bell rumah berbunyi. Seorang wanita paruh baya yang masih menggunakan celemek abu-abu bergegas membuka pintu. Levi mencegahnya. “Biar aku aja yang buka, Bi.” Pelayan itu mengangguk paham dan segera kembali menuju dapur.

Bibir Levi tak ada henti-hentinya tersenyum saat melangkah menuju pintu masuk. Karena Levi yakin, orang yang baru saja memencet bell barusan pasti Gerald. Dan terbukti, ketika ia membuka pintu berwarna putih dengan ukiran bunga rose tersebut, menampilkan sosok laki-laki bertubuh tinggi dengan sepasang alis yang tebal.

“Hay, Pacar,” sapa Levi dengan senyum mengembang.

Gerald hanya tersenyum samar. Memperhatikan penampilan Levi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Malam ini Levi terlihat sedikit berbeda dari penampilan dia sebelum-sebelumnya.

Levi tersenyum jemawa menyadari Gerald yang memperhatikan dirinya dengan intens.  “Gue cantik banget, ya, malam ini?”

“Lumayan,” jawab Gerald singkat. Tapi jauh di dalam hati cowok itu membenarkan ucapan Levi. Malam ini dia terlihat cantik.

“Sekali aja mengakui kalau gue cantik, susah banget, ya?” gerutu Levi, cemberut. Tidak suka dengan sikap Gerald yang terlampau santai, padahal ia sudah berdandan semaksimal mungkin malam ini.

D E T A K [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang