42 – PERTEMUAN SINGKAT
RUMAH SEDERHANA dengan pagar berupa tatanan batu bata tanpa adanya pelapis semen atau bahan apa pun itu, dipenuhi dengan anak-anak kecil yang berlarian ke sana-ke mari sambil tertawa riang. Meskipun sumber yang menjadi tawa bahagia mereka hanyalah sebuah bola plastik berukuran sedang. Laki-laki itu—Gerald melihat mereka dengan senyum lurus. Anak-anak itu tampak sangat bahagia. Tak lama atensinya teralihkan ketika merasa bahunya ditepuk seseorang.
“Ayo masuk.”
Itu suara Dama Haidar yang mengajak anaknya untuk ikut masuk ke rumah sederhana ini. Rumah sederhana yang hanya terdapat satu set kursi sofa yang sudah ketinggalan zaman. Tidak terdapat perabotan mewah apa pun yang mencolok. Tepat di sisi kanan terdapat empat bilik atau ruangan yang saling berjejer. Gerald meyakini bilik itu adalah kamar dari anak-anak yang sedang bermain di luar.
“Terima kasih untuk bantuannya, Pak Dama. Bantuan ini akan sangat membantu kebutuhan anak-anak di sini.” Seorang wanita paruh baya dengan lipatan yang sudah tampak jelas pada bagian bawah matanya itu mulai berkaca-kaca.
“Saya akan menjadi donatur tetap di panti asuhan ini.” Dama memberikan selembar amplop persegi berwarna cokelat yang terdapat logo dengan tulisan D’ENTERTAINMENT pada bagian kanan atasnya. “Itu adalah sertifikat atas tanah panti asuhan ini. Saya sudah mengurus semuanya menjadi nama Ibu.”
Wanita itu ternganga tidak percaya dengan apa yang baru saja Dama katakan. Dengan tangan gemetarnya, dia membuka amplop persegi tersebut. Tidak lama tangisnya pecah, setelah membaca sendiri isi dari sertifikat yang memang sudah tercantum namanya sebagai pemilik.
“Jadi, Ibu tidak usah khawatir lagi. Karena sekarang tanah beserta bangunan ini sudah menjadi milik Ibu.”
“Terima kasih, Pak Dama. Terima kasih. Saya tidak bisa membalas perbuatan baik Bapak dengan apa-apa. Saya hanya bisa mendoakan, semoga istri Bapak bisa cepat sadar dari komanya.”
“Doa dari Ibu saja sudah menjadi hal yang sangat besar untuk saya dan anak saya,” balas Dama dengan senyum ramah. “Apa saya boleh melihat-lihat sekitar panti?”
“Tentu saja, Pak Dama. Mari.”
Ibu dari panti mulai mengajak Dama melihat-lihat sekitar rumah. Meskipun panti ini terlihat sangat sederhana, tapi suasana kekeluargaan di dalam rumah sederhana ini sangat terasa. Banyak anak-anak yang kurang beruntung karena dibuang oleh orangtua mereka harus dirawat dan besar di tempat ini. Gerald memilih untuk berjalan di sekitar panti sendiri. Laki-laki itu kembali ke halaman depan—di mana anak-anak panti sedang bermain. Tawa riang mereka masuk ke dalam relung hatinya. Dan satu hal yang Gerald dapati ketika ikut bersama ayahnya di tempat ini, adalah pelajaran hidup. Ia jadi merasa sangat bersyukur. Kekurangan yang tidak ia sukai waktu kecil mungkin menjadi sesuatu yang sangat mewah bagi anak-anak panti itu.
Gerald menoleh ke samping, menunduk. Seorang anak kecil berusia sekitar lima tahun tiba-tiba datang dan menarik-narik ujung bajunya. Ia berjongkok tepat di depan anak itu. “Hey.” Gerald menyentuh pipi cabinya. “Ada apa?” tanya Gerald dan anak itu hanya diam. “Ada yang ingin kamu katakan?” Sang anak masih tetap diam. Gerald menautkan alisnya dengan bingung karena tidak juga mendapat balasan dari anak ini. Tidak lama seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun datang menghampiri mereka.
“Dia tidak bisa bicara, Kak,” sahut anak itu.
Gerald mengangguk paham, memandang anak perempuan itu lagi. “Kamu mau bilang sesuatu?” Ia memperjelas gerakan mulutnya. Anak kecil itu mengangguk antusias. “Kamu mau bilang apa sama aku?”
KAMU SEDANG MEMBACA
D E T A K [COMPLETE]
Roman pour AdolescentsShanata Levi Azzura punya segalanya, kasih sayang orangtua, hidup berkecukupan, dan kesempatan kedua dalam hidup setelah menerima donor jantung. Sepuluh tahun ia menunggu, hingga akhirnya bisa merasakan indahnya masa SMA, hal yang selama ini hanya i...
![D E T A K [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/219604903-64-k706686.jpg)