21 - THE LAST MEMORABLE

11.1K 862 16
                                        

21 – THE LAST MEMORABLE

Kamu harusnya sadar. Ada banyak hal yang kamu lupakan. Ada kecewa yang selalu kamu bicarakan. Seakan waktu berhenti berjalan. Terlalu banyak waktu yang kamu buang. Hanya untuk membicarakan kenangan.

▫️▫️▫️

SETELAH DARI rumah sakit, Levi dan Gerald pergi mencari tempat makan. Dan di sinilah mereka berada. Café bernuansa serba girly yang dipilih langsung oleh gadis—yang saat ini mengenakan sweeter putih polos berlengan panjang. Gerald sempat menolak diajak ke sini, karena café ini terlihat begitu feminim untuknya.

Bagaimana tidak, di setiap sudut ruangan—kursi, meja, bahkan sampai peralatan makan yang digunakan di tempat ini semuanya menggunakan warna pink. Tapi yang namanya, Shanata Levi Azzura selalu sukses membuat ia mengikuti apa maunya.

Gerald hanya memesan jus jeruk. Sambil meminum jus jeruknya ia memandang Levi yang terlihat begitu menyasau makanannya dengan lahap. Sudut bibir Gerald ikut terangkat. Gadis itu memesan soto ayam dan jus melon. Terlihat sedikit aneh, memesan soto ayam di café futuristik seperti ini. Ia bahkan sempat heran karena café ini menjual makanan itu. 

Jika kebanyakan orang memesan cake dengan bentuk hati atau berbagai macam karakter kartun terkenal untuk dipajang di sosial media mereka, gadis ini aneh sendiri dengan memesan soto ayam. Padahal mereka bisa saja makan di rumah makan lain yang menjual makanan seperti itu. Tapi kata Levi sudah lama ia ingin datang ke café ini, makanya memaksa Gerald agar mau menemaninya.

Gerald masih memperhatikan Levi. Mereka duduk saling berhadapan dengan meja sebagai penyekat. Café terlihat cukup ramai dikunjungi oleh remaja seusia mereka. Tentu saja karena hari ini adalah hari Minggu, hari di mana para remaja menghabiskan waktu bersama. Entah itu bersama teman ataupun pacar.

“Gue tahu gue cantik banget—jadi nggak usah lihatin gue kayak gitu terus kalii. Awas, nanti jatuh cinta sama gue,” ucap Levi di sela-sela makannya.

“Itu hipotesis dari mana?” balas Gerald. “Yang ada kalau memperhatikan orang yang lagi makan, hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Kembali merasa lapar atau tiba-tiba merasa kenyang. Bukan tiba-tiba jatuh cinta.”

“Ya, kan, konteksnya beda. Yang lo perhatikan sekarang itu gue, bukan makanannya. Jadi hipotesisnya bakalan lain, Gerald. Kalau lo konteksnya—uhuk, uhuk.” Perkataan Levi terhenti ketika tenggorokannya tiba-tiba mengeluarkan bunyi batuk akibat tersedak dengan makanannya sendiri.

Gerald dengan gesit menyodorkan minuman pada Levi. “Minum dulu!”
Levi meminum jus melonnya dengan cepat.

“Makanya kalau lagi makan itu mulutnya diam. Ditutup. Nggak usah banyak bicara!”

“Mana bisa gue makan kalau mulutnya diam dan ditutup? Gimana cara ngunyahnya kalau mulut gue diam? Aneh lo!” balas Levi, kembali memakan sotonya.

Gerald hanya geleng-geleng kepala, meminum kembali jus jeruknya. Ia kembali memperhatikan Levi. Sesekali, tersenyum simpul melihat Levi yang nampak risih makan dengan rambut yang terus menjuntai ke bawah. Di sela-sela makannya gadis itu harus berurusan dengan rambut dia yang terus jatuh ke depan, sehingga memalangi jalannya untuk makan. Gerald tersenyum geli melihat itu. Ia kemudian bangkit dari tempat duduknya.

Tanpa Levi sadari, cowok itu sudah duduk di sebelahnya. Gerald mengambil ikat rambut yang ada di atas meja. Ikat rambut itu adalah hadiah yang diberikan café untuk pembelian makanan dengan harga tertentu. Gerald kemudian mengumpulkan rambut Levi menjadi satu, lalu mulai mengikat rambut gadis itu menggunakan ikat rambut hadiah dari café tadi.

D E T A K [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang