24 - I'M PROMISE YOU

10.3K 869 17
                                        

24 – I’M PROMISE YOU

Lupakan semua keresahanmu. Kembalilah. Dan ingatlah selalu, kebahagiaan itu dibuat oleh kita sendiri. Bukan orang lain.

▫️▫️▫️

LEVI KELUAR dari kamar dan melihat ke lantai bawah. Di sana duduk laki-laki yang saat ini memakai pakaian santai. Kaos putih polos dipadukan dengan jaket kulit berwarna hitam yang menjadi pakaiannya malam ini. Ada debaran tersendiri yang sulit untuk dijelaskan. Debaran ini terasa satu-satu, tapi dalam tempo yang cepat. Membuat apa yang ingin diucapkan lenyap begitu saja. Pikiran seolah berayun di udara. Bagaikan gelombang longitudinal yang memiliki arah getaran yang sama dengan arah rambatan. Suara yang berbisik, sampai akhirnya berlabuh masuk ke dalam hati.

Malam ini Dama Haidar mengajak ia makan malam di rumahnya, jadi Gerald datang untuk menjemput Levi.

Gadis itu mulai turun. Satu persatu anak tangga mulai ditapaki olehnya. Setiap langkah dibarengi dengan detak jantung yang semakin memburu. Memang hal yang lazim kenapa ia merasakan hal ini. Berdekatan dengan orang yang kita suka, jantung adalah organ pertama yang akan meresponnya dengan cepat. Karena efek dari stimulasi adrenalin dapat memfokuskan perhatian hanya kepada orang yang membuat kita jatuh cinta.

Gerald yang sebelumnya duduk, berdiri ketika melihat Levi yang turun. Gadis itu memakai dress berwarna cokelat susu tanpa lengan sepanjang lutut dengan dalaman putih. Rambutnya diikat kuncir satu tapi masih menyisakan sedikit yang tergerai. Dengan ikat rambut pita sebagai pemanis. Membuat penampilan Levi malam ini terlihat semakin cantik. Seperti dua hari belakangan, rumah Levi tampak sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang berlalu lalang mengerjakan tugasnya masing-masing. Malam ini Raina lembur di butik karena masih harus mengejarkan beberapa baju pesanan orang.

“Hay….” sapa Levi, tepat saat kakinya menginjak anak tangga yang terakhir. Kedua tangannya memegangi tali slingbag dengan kaku. “Udah lama nunggu?” tanya Levi dengan sedikit gugup. Sebenarnya ini hanya pertanyaan basa-basi untuk menghilangkan rasa gugup.

Gerald hanya tersenyum lalu menggelengkan kepala. Laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya pada Levi. “Ayo.”

Sejenak Levi hanya diam melihat uluran tangan Gerald. Sempat terkejut, tapi kemudian ia meraih tangan Gerald dengan senyum yang masih ada. Mereka keluar dari rumah sambil bergandengan tangan. Sesekali ia mencuri lirikan pada Gerald. Sambil menyembunyikan senyumnya yang siap untuk mengembang.

“Nyokap lo ke mana?” tanya Gerald saat duduk di dalam mobil.

“Lembur di butik,” balas Levi, mengambil ponselnya dari dalam tas.

“Udah minta izin kalau mau ke rumah gue?” tanya Gerald lagi seraya memasang sabuk pengaman.

“Udah. Katanya pergi aja,” jawab Levi, tanpa melihat Gerald. Mata Levi masih fokus pada ponsel. Group chat-nya yang berisi Davina dan Melinda sangat ribut. Rentetan pertanyaan muncul ketika ia menceritakan kepada mereka berdua mengenai kejadian kemarin. Tepatnya di bianglala.

Gerald mendengkus, melihat Levi yang lagi-lagi melupakan satu hal. Memasang seatbelt. Ia mulai mendekatkan tubuhnya pada Levi. Gadis itu kaget ketika melihat Gerald yang tiba-tiba mendekatkan wajahnya. Levi menahan napas melihat wajah Gerald yang begitu dekat. Mata mereka saling temu. Jantungnya mulai bergemuruh. Pemikirannya mulai jalan-jalan ke arah yang tidak benar.

D E T A K [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang