27 - SHE IS BACK

10.8K 883 13
                                        

27 – SHE IS BACK

Cara aku mendapatkan kamu, mungkin berbeda dengan dia yang pernah mencintaimu dan sangat kamu cintai. Tapi satu hal yang pasti dan itu penting, aku tulus.

▫️▫️▫️

HARI INI DES dikejutkan dengan kehadiran Melati. Setelah hampir empat bulan menghilang tanpa kabar dan jejak, siswi yang dikenal sering mendapat bullyan itu tiba-tiba kembali bersekolah. Lebih dari itu, kedatangan Melati mengundang berbagai macam pertanyaan. Selain ke mana saja Melati selama ini—bagaimana dengan nasib hubungan Levi dan Gerald? Apa mungkin mereka berdua akan putus? Melihat hubungan Levi dan Gerald yang mulai membaik, membuat seluruh siswa yang ada di DES bertanya-tanya sekaligus merasa penasaran. Siapa yang akan dipilih oleh Gerald nanti?

“Lo nggak apa-apa, kan, Vi?” Pertanyaan barusan berasal dari Davina. Saat ini Levi, Davina dan Melinda ada di kantin sekolah.

Memang tidak bisa bohong, perasaan Levi sekarang sedang gamang. Semalam setelah kemunculan Melati tidak ada lagi pembicaraan khusus di antara Gerald dan ia. Laki-laki itu seolah bungkam. Kehadiran Melati yang tiba-tiba datang kembali membuat Gerald  tidak bisa berkata apa-apa.

“Entahlah,” balas Levi pelan. Menyembunyikan perasaan sakitnya saat ini. Gadis itu benar-benar menyukai Gerald. Dan melihat Gerald bersama dengan perempuan yang selama ini membuatnya susah membuka hati untuk orang lain, benar-benar membuat ia merasa takut. Takut kalau cowok itu akan cepat berpaling darinya.

Levi membuang mukanya ke arah lain. Tepat saat itu ia melihat Gerald berjalan masuk ke kantin. Baru saja ia ingin memanggil Gerald, niat itu terurungkan ketika ia melihat Melati berjalan bersama cowok itu. Ia menghela napas panjang dan menatap sakit kedua orang itu. Gerald dan Melati terlihat bahagia bersama.

“Lo kenapa, Vi?” tanya Melinda, melihat perubahan wajah Levi yang tampak getir.

Levi tidak menjawab. Matanya masih setia memperhatikan Gerald dan Melati yang sedang mengantre makanan. Tidak mendapat jawaban dari Levi, membuat Davina dan Melinda mengikuti ke mana arah pandang Levi. Pandangan mereka berdua tepat mengarah pada Gerald dan Melati. Davina dan Melinda hanya bisa menatap empatik sahabat mereka ini.

“Kenapa cuman dilihatin? Samperin dong, Vi.” Davina bersuara tidak suka. Seberarti apa pun Melati bagi Gerald, tidak seharusnya cowok itu berpaling begitu saja dari Levi. Apalagi setelah mendengar dan melihat sendiri, bagaimana perubahan sikap Gerald kepada Levi yang terkesan mulai mencintai gadis itu.

“Biarin aja.” Levi kembali fokus pada makanannya. Tapi seolah makanan yang ada di hadapan ia saat ini hanya sebuah kamuflase baginya, untuk menutupi rasa pedih yang mulai menjalar ke seluruh isi di hati ia. Begitu sakit. Melihat orang yang kita cintai terlihat bahagia dengan orang lain. Siapa yang hatinya tidak akan patah melihat hal itu?

“Yang barusan lo cuekin itu pacar lo. Secinta apa pun Gerald sama Melati, Gerald tetap hak lo. Karena lo masih pacar dia!” tukas Melinda. Gadis itu tidak suka dengan sikap Gerald.

Levi menggeleng samar. “Gue nggak ada hak—di saat hati dia masih milik orang lain.” Levi tersenyum miris ketika mengatakan hal barusan. “Dan pemilik hatinya udah kembali.”

“Terserah lo, deh, Vi,” celah Davina malas. Davina tidak suka dengan sikap Levi yang terkesan pasrah begitu saja. Di saat seharusnya dia mempertahankan haknya sebagai pacar. Lalu kenapa sekarang gadis itu merasa seolah-olah dialah yang menjadi perebut pacar orang di sini? Itu terdengar tidak adil.

D E T A K [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang