38 – PERGI UNTUK KEMBALI
SUDAH SATU minggu Levi menutup matanya. Belum ada tanda-tanda kapan gadis itu akan bangun dari tidur panjang. Matanya masih beku untuk dibuka. Tangannya masih kaku untuk bergerak. Tidak ada tanda-tanda apa pun yang membuat nalurinya segera kembali pada raga. Tidak pernah absen, setiap hari semua orang terdekat Levi datang menjenguknya. Mengajaknya berbincang, meskipun tahu tidak akan pernah mendapat balasan apa pun darinya.
Lain dengan Levi yang masih setia menutup mata. Sudah satu minggu DES mencari tahu di balik insiden kebakaran laboratorium—yang merugikan pihak sekolah dan hampir merenggut nyawa salah satu siswinya itu. CCTV yang terletak di koridor jalan selatan kelas sebelas dan lorong penghubung antara laboratorium, memperlihatkan ada salah satu siswi yang dicurigai.
Melati Anaya. Siswi DES yang hampir empat bulan meninggalkan sekolah dan kini datang kembali. Di setiap CCTV yang ada di sekitar laboratorium, memperlihatkan dengan jelas Melati berjalan masuk ke lab sains utama. Waktu kedatangannya juga hanya berkisar beberapa menit sebelum kebakaran itu terjadi.
Kini gadis berambut panjang itu duduk di ruang kepala sekolah setelah dipanggil. Beberapa pertanyaan diberikan kepada perempuan itu. Melati menjawab semua pertanyaan yang diberikan padanya dengan sangat tenang. Sehingga tidak ada kecurigaan yang terlihat di mata kepala sekolah.
“Apa masih ada yang perlu saya jawab?” tanya Melati setelah menerima pertanyaan terakhir dari kepala sekolah.
Pria dengan wajah blasteran Jerman itu mengangguk samar kepadanya. Menandakan bahwa tidak ada lagi yang ingin kepala sekolah tanyakan kepada Melati. Diam-diam Melati bernapas dengan lega. Karena secerdas apa pun dia menutupi rasa gugup, tetap saja introgasi ini membuat dirinya merasa terganggu. Belum lagi dengan seluruh siswa DES yang dibuat gempar karena dia dipanggil kepala sekolah untuk diintrogasi mengenai insiden kebakaran laboratorium.
“Tidak ada lagi yang ingin saya tanyakan kepada kamu. Tapi—” Kepala sekolah menjeda ucapannya. Memberi perintah kepada Pak Kenni yang juga ada di ruangan itu untuk mengeluarkan korek api gas yang mereka temukan di lab sains. Pak Kenni meletakkan korek api gas berukuran sedang itu di atas meja. “Kamu harus melakukan sidik jari,” lanjut kepala sekolah.
Melati tersenyum samar menatap kepala sekolah. “Jadi, saya masih dituduh sebagai dalang dari kebakaran ini?” Melati masih mempertahankan sikap tenangnya.
“Semua orang yang dicurigai akan diperiksa. Dan hanya kamu yang masuk ke dalam laboratorium selain Levi dan Izi,” jelas Pak Kenni.
Melati tersenyum simpul seraya mengangukkan kepalanya. “Baik, saya akan melakukan sidik jari,” balas Melati dengan tenang.
Alat untuk melakukan sidik jari pun diletakkan di atas meja. Salah seorang wanita berjas putih dengan lambang khusus mulai melakukan sidik jari kepada Melati. Perempuan itu masih tampak santai ketika semua orang menatapnya. Tidak ada tanda-tanda ketakutan yang Melati perlihatkan. Seolah bukan dialah dalang di balik insiden kebakaran. Tidak membutuhkan waktu lama, sidik jari selesai. Hasil dari sidik jari Melati akan dibawa untuk diperiksa kecocokannya dengan sidik jari yang berada pada korek api gas yang ditemukan di lab sains utama. Tidak tanggung-tanggung, DES mendatangkan secara langsung orang-orang khusus untuk menyelidiki kasus ini.
“Apa saya sudah bisa keluar?” Melati bersuara tepat setelah sidik jari selesai dilakukan.
“Kamu boleh pergi,” balas kepala sekolah.
KAMU SEDANG MEMBACA
D E T A K [COMPLETE]
Roman pour AdolescentsShanata Levi Azzura punya segalanya, kasih sayang orangtua, hidup berkecukupan, dan kesempatan kedua dalam hidup setelah menerima donor jantung. Sepuluh tahun ia menunggu, sampai akhirnya ia bisa merasakan indahnya masa SMA. Hal yang selama ini hany...
![D E T A K [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/219604903-64-k706686.jpg)