41 - BELUM BERAKHIR

10.3K 814 48
                                        

41 – BELUM BERAKHIR

Ketika kamu dimaafkan, maka ingatlah satu hal. Bahwa tidak akan ada orang yang pernah menginginkan kejadian buruk yang sama terulang kembali untuk kedua kalinya. Sekalipun janji itu manis.

▫️▫️▫️

HARI DEMI hari berjalan. Setelah lebih dari tiga minggu absen dari sekolah, Levi telah bersekolah kembali. Hubungannya dengan Gerald pun semakin membaik. Mereka selalu terlihat bersama dan tidak menutupi hubungan keduanya. 

Hasil sidik jari Melati sudah keluar. Dan benar, sesuai rencana perempuan itu—dia bebas dari tuduhan sebagai dalang di balik insiden kebakaran laboratorium utama, yang hampir membuat nyawa Levi melayang. Pihak DES tidak bisa melakukan apa-apa. Karena pada korek api gas tidak terdapat sidik jari yang membuktikan bahwa Melati Anaya lah pelakunya. Akhirnya pihak sekolah memutuskan untuk menutup kasus kebakaran tersebut. Sampai ada bukti lain yang benar-benar mengarah pada insiden itu.

Suara berdengung yang berasal dari setiap sudut DES mulai terdengar. Suara jelah yang membuat seluruh muridnya mulai meninggalkan aktivitas belajar. Suara khas yang membuat seluruh murid merasa terpanggil untuk langsung menuju ke tempat favorit mereka. Apalagi kalau bukan kantin. Deretan stand makanan mulai dipenuhi oleh barisan rapi siswa-siswi yang sedang mengantre makanan.

“Tumben cuman berdua? Levi mana?” Pertanyaan itu muncul dari Carrel setelah Davina dan Melinda duduk di tempat yang sama dengan mereka.

“Di kelas. Katanya mau belajar dulu bareng Izi.” Davina mulai membuka pembungkus roti yang baru dibeli Carrel.

Jika sebelumnya Levi dan Izi selalu menggunakan lab sebagai tempat belajar, maka tidak untuk hari ini. Hampir merenggang nyawa di tempat praktik IPA itu membuat Levi merasa agak trauma. Sehingga ia tidak ingin bertemu dengan tempat itu dulu. Minimal untuk beberapa minggu ke depan.

“Kenapa nggak diajak ke kantin dulu?” Gerald menyahut.

Melinda yang baru saja hendak memasukkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulut, menghentikkan gerakan sendok itu di depan mulutnya. “Vi nolak. Katanya masih mau belajar materi olimpiade yang ketinggalan.”

Hampir tiga minggu dirawat di rumah sakit membuat Levi meninggalkan materi yang harus dikuasainya untuk olimpiade. Sementara lomba itu akan berlangsung lima hari lagi. Mempunyai otak yang cerdas tentu bukan masalah baginya. Gadis itu hanya perlu belajar sedikit untuk menguasai berbagi macam materi yang didominasi oleh angka-angka tersebut.

“Lo mau ke mana?” tanya Daffin, melihat Gerald berdiri dari tempat duduknya.

“Toilet,” jawab Gerald tanpa melihat si penanya. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan teman-temannya yang kini menatapnya dengan bingung.

“Hm …. ke toilet tapi bawa roti sama susu, ya?” celetuk Carrel.

Mereka berempat melihat Gerald yang berjalan menuju stand, lalu membeli beberapa bungkus roti dan susu kotak. Tanpa bertanya juga mereka berempat sudah bisa menebak, untuk siapa roti dan susu kotak itu.

“Udah jadi bucin dia,” ujar Daffin, tertawa geli.

“Gue pikir dia itu berengsek banget. Tapi ternyata Gerald bisa care juga, ya,” ujar Melinda, dengan mata yang masih memperhatikan Gerald yang telah berjalan keluar dari kantin.

D E T A K [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang