28 - TEPAT SATU BULAN

12.5K 938 34
                                        

28 – TEPAT SATU BULAN

Kamu mau tahu bagaimana kisah cintaku?
Seperti kopi tanpa gula. Pahit.

▫️▫️▫️

SETELAH MEMARKIRKAN mobilnya, Gerald mengajak Levi duduk di bangku kayu panjang yang berjarak sekitar lima meter dari sisi pantai. Langit masih gelap karena sang mentari belum menampakkan ronanya. Sesuai rencana kemarin, Gerald dan Levi hari ini datang ke pantai yang pernah mereka datangi untuk olahraga. Sekaligus menjadi tempat di mana Levi pernah membuka dan menceritakan semua kepedihan yang ia rasakan selama ini. 

Udara pagi hari yang cukup dingin membuat Levi memegang kedua sisi tangannya. Tidak heran kalau ia merasa dingin, ia tidak memakai jaket dan hanya mengenakan baju lengan panjang yang tidak tebal. 

“Dingin?” Gerald melihat Levi yang mulai memegangi kedua sisi siku tangannya.

“Lumayan,” jawab Levi sedikit bergetar karena udara dingin yang berhasil menembus kulitnya.

Gerald meraih kedua telapak tangan Levi. Memegangnya dan mengusapnya dengan lembut, memberi kehangatan di sana. Berharap agar Levi tidak merasa kedinginan lagi. “Gue nggak mau kasih jaket gue, karena gue juga merasa dingin. Siapa suruh lo nggak bawa jaket. Udah tahu kalau pagi pasti dingin, kan?” Gerald masih memegang kedua tangan Levi. Menggenggamnya begitu lembut. Sehingga kehangatan yang laki-laki itu berikan mampu membuatnya merasa nyaman dan hangat. Kehangatan ini bahkan terasa sampai ke dalam hatinya.

Levi tersenyum. “Iya, gue lupa.”

Tidak berselang lama cahaya matahari mulai muncul di atmosfer. Rona mentari itu perlahan-lahan mulai menampakkan keindahannya. Suara ombak yang terdengar masih tenang membuat suasana ini semakin terasa untuk dinikmati. Levi menarik kedua tangannya yang sebelumnya dipegang Gerald. Matanya mulai melihat ke arah terbitnya matahari. “Sunrise itu indah, ya? Dia selalu mampu membuat orang terpanah. Semua orang pasti akan selalu menunggu datangnya dia. Matahari emang beda. Hanya satu, terbit dari satu arah, tapi sinarnya mampu melingkupi segalanya.”

“Bukan hanya itu. Bahkan bunga yang mekar sekalipun, akan selalu menanti datangnya matahari,” sambung Gerald. Ikut memandang matahari yang sebentar lagi akan terbit.

Kicauan burung pun mulai terdengar dengan kompak. Membuat Levi memalingkan pandangannya ke atas langit. “Gue heran—kenapa, ya, burung bisa jadi makhluk yang paling konsisten? Selalu on time, datang tepat waktu. Padahal mereka nggak pernah mengenal waktu, apalagi bisa melihat jam. Tapi selalu datang bersamaan dengan hadirnya matahari.” Pandangan gadis itu mengarah ke atas langit. Melihat deretan burung yang terbang saling jejer. Saling berkicau satu sama lain, terdengar begitu melodius.

“Itu karena mereka pake insting.”

Levi tersenyum membalas ucapan Gerald. Laki-laki itu memang selalu bisa menjawab setiap perkataannya. “Gerald, kalau disuruh pilih, lo lebih pilih yang mana, sunrise atau sunset?”

Gerald menengok ke Levi sekilas, sebelum menjawab, “Ngapain harus memilih kalau bisa pilih keduanya?”

Levi memandang Gerald dengan tatapan yang hanya bisa diartikan oleh gadis itu sendiri. “Manusia sering kali dihadapkan oleh dua pilihan, Gerald. Mau nggak mau kita tetap harus memilih.”

Gerald tersadar dengan ucapan Levi. Sedetik kemudian ia mulai menatapnya. “Gue suka dua-duanya. Baik sunrise ataupun sunset punya keindahan masing-masing. Kalau lo sendiri lebih suka yang mana?”

D E T A K [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang