03 - PENOLAKAN DAN BOLA BASKET

15K 1.1K 88
                                        

03 – PENOLAKAN DAN BOLA BASKET

Cinta dan obsesi itu berbeda. Tapi menurut aku itu sama.
Karena di balik dua kata tadi, aku sama-sama berusaha. Berusaha mendapatkan hati dia.

▫️▫️▫️

SETELAH MELINDA pergi untuk latihan cheers, tidak berapa lama kemudian Davina juga pergi menemui Carrel untuk melihat pacarnya itu latihan renang. Davina mengambil ekskul seni lukis, yang mana ekskul ini merupakan ekskul paling santai di DES. Makanya, daripada bosan di dalam kelas lebih baik Davina memilih pergi melihat Ayang-nya itu latihan renang. Davina sendiri sudah mengajak Levi untuk ikut bersamanya, tapi gadis itu menolak ajakan Davina. Biar bagaimanapun, di sana nanti pasti ia ujung-ujungnya hanya akan menjadi obat nyamuk. Daripada conge melihat orang pacaran lebih baik baginya sendirian di dalam kelas.

Dan di sinilah Levi berada, tersisa ia seorang diri di dalam kelas karena siswa lain sedang ikut ekskul. Levi belum memutuskan untuk mengambil ekskul apa. Mengingat orangtua ia—terlebih sang ayah yang masih ada di Jepang itu sangat melarang Levi untuk ikut ekskul yang dapat menguras tenaga putri kesayangannya ini.

Satu-satunya ekskul yang santai di DES hanya seni lukis. Tapi Levi sangat payah dalam hal menggambar. Jadi tidak mungkin baginya mengikuti ekskul itu. Kasihan nanti kanvas putih yang begitu polos itu akan tercemar dengan lukisan jeleknya. Pihak sekolah juga sudah diberitahu oleh orangtua Levi, kalau gadis itu tidak boleh mengikuti ekskul yang dapat membuatnya lelah.

Bosan sendiri di dalam kelas, Levi memutuskan untuk keluar. Berjalan-jalan di seputaran sekolah. Di luar kelas sangat ramai dengan siswa yang mengikuti ekskulnya masing-masing. Kaki Levi mendadak berhenti melangkah. Merasa jantungnya berdebar-debar tidak karuan lagi.

Levi berhenti untuk mengatur napasnya sejenak, dadanya tiba-tiba sesak usai melihat seseorang. Gadis itu memegang dadanya yang mengeluarkan bunyi dentum yang sangat keras. Apalagi yang membuat jantungnya berdebar-debar seperti ini, kalau bukan melihat Gerald yang baru saja lewat dan berbelok ke arah lapangan basket.

Sebelum laki-laki itu hilang dari pandangannya, Levi berteriak dengan keras. “HAY, CALON PACAR!”

Gerald berhenti melangkah. Tanpa menoleh pun ia sudah bisa menebak siapa cewek yang baru saja berteriak padanya ini. Siapa lagi siswi di sekolah ini yang suka sekali menyebutnya ‘calon pacar’ kalau bukan gadis aneh itu—Shanata Levi Azzura. Gerald benar-benar merasa geram.  Laki-laki itu hanya melihat Levi sekilas, lalu berjalan kembali menuju arah lapangan basket.

Melihat Gerald yang lagi-lagi cuek kepadanya membuat Levi merasa tertantang untuk mengikuti ke mana cowok itu pergi. Levi berlari mengikuti langkah cepat Gerald. Sampai posisinya sekarang berada tepat di hadapan cowok—dengan headband hitam yang bertengger tampan di kepalanya itu.

Gerald mengehela napas gusar. Menahan emosi kepada Levi—yang lagi-lagi menghalangi jalannya. “Minggir.”

Levi masih diam di tempatnya.

“Gue bilang minggir.”

Levi acuh saja.

“Lo budeg, ya? Gue bilang minggir!”

Levi tidak menghiraukan perkataan Gerald dan malah tersenyum manis kepadanya. Gerald bersumpah, kalau orang yang ada di depannya sekarang bukan seorang perempuan, maka ia pasti akan menendang Levi jauh-jauh dari hadapannya.

D E T A K [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang