43 – WHITERED ROSES
ARAH TANGGA lantai dua kelas sebelas mendadak ramai. Siswa yang masih ada di sekitar kelas, berbondong-bondong berlarian melihat apa yang sudah terjadi, setelah mendengar suara gaduh yang berasal dari arah tangga. Vannesya membekap mulutnya, melihat Mawar yang jatuh menggelinding di bawah sana. Antara senang dan shock menjadi satu. Senang karena perempuan gila itu yang belum sempat mendorongnya dari lantai dua. Dan shock karena Mawar yang jatuh mengenaskan. Semua siswa yang ada di sana menatap penuh penghakiman ke atas, di mana Vannesya masih berdiri.
Levi yang ternyata berada di ruang musik lantai dua ikut shock setelah melihat apa yang terjadi. Di bawah sana Mawar—atau yang sampai saat ini masih dikenal mereka dengan nama Melati—jatuh dan sudah tidak sadarkan diri. Gerald telah menggendong perempuan itu menuju rumah sakit. Laki-laki itu tadinya ingin menjemput Levi di ruang musik, malah dikejutkan dengan Mawar yang tiba-tiba jatuh dari tangga. Levi tidak mempermasalahkan Gerald yang masih terlihat begitu khawatir dengan perempuan itu. Gerald mengatakan masih ada rasa kasihan dengan Melati.
“Itu pasti Vannesya yang udah dorong Melati!”
Suara nyaring seorang siswa dari arah bawah menghilangkan rasa shock Vannesya. Vannesya menatap nyalang siswa tersebut. “Jaga, ya, mulut lo, Bangsat! Bukan gue yang udah dorong dia!”
“Pasti lo yang udah dorong Melati. Lo, kan, yang selama ini suka bully dia!”
“Bukan gue yang udah dorong dia! Dia jatuh sendiri!” Vannesya jelas tidak ingin disalahkan. Karena Mawar memang jatuh sendiri pada saat hendak mendorongnya dari dinding pembatas.
“Lo .… beneran dorong Melati?” tanya Levi yang kini berdiri di samping Vannesya.
Vannesya menoleh ke Levi dengan tatapan tajam. “Gue emang jahat, ya. Tapi gue nggak sejahat itu buat ngebunuh orang. Oh my god, I’m not crazy!” Dada Vannesya naik turun mendengar semua orang yang masih saling menyahut menuduh dirinya yang telah mendorong Mawar. Dia menatap mereka yang menuduhnya dengan bengis. Lalu beralih menatap Levi. “Kalau lo mau tahu—perempuan gila itu yang tadinya ingin bunuh gue!” desisnya, tak lama pergi dari tempat itu.
Levi masih bergeming di tempat. Ia tidak tahu harus percaya pada siapa. Setahunya Vannesya memang selalu membully perempuan itu dulu. Tapi jika dilihat, Melati yang sering mereka katakan sebagai gadis lembut itu sangat berbeda jauh dari pandangannya.
Perempuan itu …. seperti menyimpan banyak hal yang tidak diketahui oleh orang-orang.
Levi melihat ke arah bawah. Para murid mulai meninggalkan area tangga. Tatapannya beralih menatap ke atas. Tepat di antara ventilasi pintu ruangan seni lukis yang berada tidak jauh dari tangga menuju lantai tiga, terdapat CCTV. CCTV itu memang sedikit tersembunyi di balik ventilasi pintu. Jika tidak memperhatikannya dengan jelas, maka orang-orang tidak akan sadar jika di tempat itu diberi kamera pengintai, yang langsung menghadap ke arah tangga menuju lantai satu. Dan arahnya pas sekali dengan posisi Vannesya dan Mawar berdebat tadi.
Levi berjalan mendekati arah CCTV. Kepalanya melenggak. Memastikan apakah kamera itu masih aktif atau tidak. Lampu merah berkedip-kedip pada kamera tersebut. Penanda bahwa kamera pengintai itu masih aktif dan berfungsi dengan baik.
Levi menarik napas dalam-dalam, membuangnya dengan pelan. “Gue juga penasaran dengan gadis itu .... Melati?” gumamnya, melihat ke arah CCTV sekali lagi. Levi memutuskan untuk mencari tahu sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua—Vannesya dan Melati.
KAMU SEDANG MEMBACA
D E T A K [COMPLETE]
Novela JuvenilShanata Levi Azzura punya segalanya, kasih sayang orangtua, hidup berkecukupan, dan kesempatan kedua dalam hidup setelah menerima donor jantung. Sepuluh tahun ia menunggu, hingga akhirnya bisa merasakan indahnya masa SMA, hal yang selama ini hanya i...
![D E T A K [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/219604903-64-k706686.jpg)