44 - YANG SEBENARNYA TERJADI

9.7K 742 43
                                        

44 – YANG SEBENARNYA TERJADI

Cinta yang sesungguhnya harusnya bisa menjadi hal yang sederhana. Bahagia dan indah. Bukannya menjadi hal yang menyakitkan.

▫️▫️▫️

BUNYI GETAR dari ponsel Levi menghentikan kegiatan yang mereka lakukan saat ini. Levi mengambil ponselnya, mengecek siapa yang baru saja mengirimkannya pesan singkat. Alisnya menaut bingung saat membaca isi pesan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal.  

Anonim: Temui gue di café seberang. Sekarang!

“Dari siapa?” Gerald melihat muka Levi yang bingung.

“Nggak tahu, nomor asing.” Levi hendak memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan tidak berniat membalas ataupun meladeni pesan itu. Pikir ia tidak dikenal lalu mengajak bertemu seperti ini. Kalau pun itu pesan dari kedua sahabatnya, Davina dan Melinda pasti akan mengetik nama mereka di akhir pesan. Sebelum ponsel Levi hendak ia masukkan kembali, tangan Gerald menahannya.

“Biar gue lihat.”

Levi membuka kembali pesan dari nomor yang tak dikenalinya itu, memperlihatkannya pada Gerald.

Gerald melihat pesan dari ponsel Levi. Dahinya agak berkerut tipis setelah membaca isi dari pesan Levi. Merasa ada yang janggal, Gerald membuka ponsel miliknya. Memastikan apakah nomor itu sama atau tidak. Ia seperti mengenali angka-angka nomor yang baru saja mengirim pesan pada pacarnya ini. “Vannesya?” Gerald mencocokan kembali nomor yang ada di ponselnya. Ia melihat bergantian ponsel miliknya dan milik Levi. “Ini nomor Vannesya,” kata Gerald setelah yakin kalau itu memang nomor HP Vannesya.

“Vannesya?” Levi bingung.

“Iya, itu nomor HP Vannesya.”

Levi melihat kembali ponselnya dengan wajah tak percaya. “Ngapain dia ngajak gue ketemu?” Tatapan Levi beralih ke Gerald. Ia memberi tatapan menilik kepada cowok itu. “Terus kenapa lo nyimpan nomornya Vannesya?”

Gerald tertawa geli melihat air muka pacarnya yang mulai berubah. Ia menepuk-nepuk pelan puncak kepala Levi dengan gemas. “Nggak usah mikir yang macam-macam dulu. Nanti gue jelasin.”

“Tapi kok—” Belum selesai Levi melanjutkan apa yang ingin ia tanyakan, ponselnya kembali berdering. Nomor baru yang Gerald katakan adalah nomor Vannesya.

“Lo kenapa lama benget, sih? Buruan ke sini, cepetan!”

Levi menjauhkan sedikit ponselnya dari telinga. Ia menatap ponsel itu dengan mulut ternganga. Tidak percaya. Apa-apaan, sih, gadis pirang ini? Tiba-tiba saja meneleponnya dengan ucapan yang sangat menyebalkan.

“Gue nggak ada urusan, ya, sama lo!”

“Denger, ya, apa yang mau gue katakan ke lo ini lebih penting. Daripada kelakuan lo berdua yang berani ciuman di lingkungan sekolah!”

Levi mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Antara malu dan emosi menjadi satu. Ia seolah mendapatkan skakmat. Astaga, bagaimana gadis pirang itu bisa tahu apa yang sedang mereka lakukan tadi? Ini benar-benar memalukan. Levi menyentuh wajahnya yang mulai memanas. Berdeham pelan guna menetralisir perasaannya. “Nggak usah ngada-nga—”

D E T A K [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang