22 – DANCING IN THE RAIN
10 Tahun yang Lalu….
ANAK BERUSIA enam tahun itu melintasi koridor rumah sakit. Ia duduk di atas kursi roda sambil didorong oleh baby sitter-nya. Di samping kanan anak itu ada seorang suster berseragam biru yang dari tadi mengikuti dia sambil membawa semangkuk bubur, yang sampai saat ini belum juga dimakan oleh sang anak. Terhitung sudah hampir satu bulan ia dirawat di rumah sakit ini.
“Stop!” perintah anak itu, menghentikan jalannya mereka. Matanya fokus pada taman bermain yang ada di samping rumah sakit. Taman bermain yang memang disediakan untuk anak-anak di sini agar tidak merasa bosan. “Aku mau ke situ,” ujarnya, sambil menunjuk ke arah taman.
“Nona, nggak boleh ke sana. Nanti Papa sama Mama Nona marah,” jawab baby sitter.
“Tapi aku mau ke sana.…” pintanya lagi dengan tatapan sendu.
“Levi boleh ke sana, asalkan Levi makan dulu. Habis itu minum obatnya, ya?” bujuk sang suster yang dari tadi mengikuti mereka.
Gadis kecil itu—Levi, mendongak melihat ke arah suster berseragam biru dengan tatapan hambar. “Aku nggak mau minum obat. Pahit!” tolak Levi sambil menutup mulutnya.
“Nona, harus mau minum obat biar cepat sembuh.” Baby sitter ikut membujuk.
Sementara Levi masih menatap hampa arah taman yang mulai banyak dipenuhi oleh anak-anak seusia dia.
“Levi, mau makan sedikit aja, ya? Biar cepat sembuh, habis itu bisa main sepuasnya di taman itu.” Suster masih membujuk.
“Suster, lihat mereka?” Levi melihat ke arah taman bermain. Bibir mungilnya tersenyum tipis. “Mereka bisa bermain sepuasnya—tanpa takut sakit, dan tanpa harus minum obat dulu,” jedanya menoleh, menatap baby sitter dan suster secara bergantian. “Tapi aku beda. Meskipun makan dan minum obat banyak sekalipun, aku tetap nggak boleh main bebas seperti mereka, kan?”
Nyaris hampir satu bulan Levi dirawat di rumah sakit. Ia harus mengikuti semua bentuk pengobatan seperti terapi dan lain-lain. Menghindari segala bentuk larangan yang dikatakan oleh dokter. Rutin harus minum obat dan tidak boleh merasa capek. Orangtuanya bahkan tidak mengizinkannya untuk bermain lagi seperti biasa. Aktifitasnya mulai dibatasi. Untuk sekolah, ia tidak diperbolehkan lagi. Sehingga dengan terpaksa ia harus mengikuti homeschooling di rumah sakit ini. Levi benar-benar rindu bermain bebas seperti mereka yang ada di taman itu.
Baby sitter dan suster itu bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan Levi. Mereka sama-sama menatap ke arah taman. Mereka bingung memikirkan jawaban yang masuk akal, sehingga bisa diterima oleh Levi kecil. Menghembuskan napas pelan, baby sitter memutuskan mendorong kursi roda kembali. Menuju kembali ke kamar Levi. Mungkin hal ini lebih baik agar Levi tidak bersedih lagi melihat anak-anak yang bermain di taman itu.
***
“Buburnya letakkan di atas nakas saja, Sus. Nanti saya yang menyuapi Nona,” ucap baby sitter, tepat pada saat mereka tiba di kamar rawat Levi. Suster itu mengangguk pelan dan meletakkan mangkuk bubur yang masih penuh di atas nakas, sebelum akhirnya keluar dari kamar Levi.
“TV-nya mau saya nyalakan, Non?” tanya baby sitter setelah membantu Levi naik ke atas brankar. Levi tidak menjawab dengan suara, anak itu hanya mengangguk pelan sebagai bentuk jawaban. Baby sitter mulai menyalakan TV. Kartun Cinderella yang ditayangkan cukup membuat perhatian Levi teralihkan. “Saya permisi ke toilet dulu, ya, Non.”
KAMU SEDANG MEMBACA
D E T A K [COMPLETE]
Teen FictionShanata Levi Azzura punya segalanya, kasih sayang orangtua, hidup berkecukupan, dan kesempatan kedua dalam hidup setelah menerima donor jantung. Sepuluh tahun ia menunggu, hingga akhirnya bisa merasakan indahnya masa SMA, hal yang selama ini hanya i...
![D E T A K [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/219604903-64-k706686.jpg)