39 – I LOVE YOU WITH ALL MY HEART
TUBUH GERALD masih lunglai di atas lantai yang dingin. Perlahan ia mulai bangkit. Berjalan tertatih menuju ranjang yang ditiduri oleh Levi—yang tidak lagi bernyawa. Tangis pilu masih terdengar di ruangan serba putih itu.
Raina masih menghambur memeluk erat putrinya yang sudah tidak bernyawa lagi. Untuk terakhir kalinya Raina bisa memeluk putrinya di balik kain putih. Hideyoshi yang ada di samping sang istri tak kuasa menahan tangis. Sama seperti Raina, Hideyoshi pun merasakan kehilangan yang sangat mendalam.
“Mama sayang sama Vi. Vi akan selalu menjadi putri kecil buat Mama dan Papa,” ucap Raina menahan isakan. “Mama nggak menyangka, sekarang putri Mama benar-benar udah pergi tinggalin Mama. Vi bahagia di sana, ya? Doa Mama akan selalu bersama dengan Vi.”
Tangis Davina dan Melinda pecah seketika. Mengingat semua kenangan yang pernah mereka lakukan dengan Levi. Dari kecil Levi hanya memiliki mereka berdua sebagai teman. Masa-masa pahit yang gadis itu lalui. Di mana dia harus kuat bertahan hidup karena penyakitnya. Levi seperti menepis beban yang dia rasakan, kala menahan sakit yang menggerogoti tubuhnya dulu. Mereka berdua adalah saksinya. Semua kenangan itu mulai terbayang di kepala mereka. Di mana untuk pertama kalinya mereka bisa melihat senyum ceria di wajah Levi. Ketika untuk pertama kalinya dia bisa menginjakkan kaki di sekolah formal setelah sekian lama.
“Kenapa, Vi? Kenapa secepat ini lo pergi? Kita bertiga bahkan belum melakukan banyak hal. Dan secepat ini lo pergi ninggalin kita?” lirih Davina mengurai air mata.
Kini Levi telah benar-benar pergi meninggalkan mereka semua dengan kesedihan yang mendalam. Tidak ada lagi canda tawa yang akan gadis itu perlihatkan. Tidak ada lagi senyum yang mampu menghangatkan. Tidak ada lagi mata indah yang selalu memancarkan kebinaran. Semuanya tidak akan ada lagi. Semua keindahan itu telah pergi bersama dengan jiwa dan matanya yang telah tertutup rapat.
Dengan sekuat tenaga Gerald memberanikan diri mendekati Levi yang tidak bernyawa. Laki-laki itu berdiri tepat di samping Levi. Air matanya mulai jatuh tanpa isakan. “Lev .… lo beneran pergi?” ucapnya bergetar. “Kenapa? Gue bahkan belum bilang isi hati gue yang sebenarnya ke lo. Apa lo nggak mau kasih gue kesempatan? Apa lo—”
Ucapan Gerald terhenti. Ia tidak lagi mempunyai tenaga untuk bicara. Bibirnya terasa kelu untuk mengatakan kalimat perpisahan dengan Levi. Mata Gerald menatap gadis itu lagi. Tubuh Levi yang tidak bernyawa. “Lo mungkin bukan orang pertama yang buat gue jatuh cinta. Tapi lo …. adalah orang pertama yang berhasil buat gue menyerahkan seluruh isi hati gue buat lo, Lev.” Tangan Gerald bergerak mengusap lembut rambut Levi. Bibirnya mengatup rapat. Menahan isakan yang kapan saja akan pecah. Dengan tubuh gemetarnya, Gerald memberanikan diri menunduk. Mendekatkan wajahnya dengan gadis itu. Perlahan mata Gerald mulai terpejam, bersamaan dengan bibirnya yang mencium kening Levi.
Untuk terakhir kalinya, Gerald mencium gadis itu. Untuk terakhir kalinya, Gerald memberikan kecupan hangat tanda perpisahan dengannya. Dan untuk yang terakhir kalinya juga, Gerald mengatakan bahwa ia benar-benar menyesal.
Masih dengan jarak yang begitu dekat dengan Levi, Gerald mengucapkan kalimat terakhir kepada Levi yang tidak lagi berjiwa. “Sampai jumpa lagi, Lev …. I love you with all my heart. Lo akan selalu ada di dalam hati gue. Selamanya….”
Mungkin hanya sementara mereka bisa bersama. Gerald mungkin bisa melupakan Levi. Tapi kini ia baru menyadari satu hal. Bahwa gadis itu adalah hidup dan matinya. Bisakah ia melupakannya dengan cepat?
KAMU SEDANG MEMBACA
D E T A K [COMPLETE]
TeenfikceShanata Levi Azzura punya segalanya, kasih sayang orangtua, hidup berkecukupan, dan kesempatan kedua dalam hidup setelah menerima donor jantung. Sepuluh tahun ia menunggu, sampai akhirnya ia bisa merasakan indahnya masa SMA. Hal yang selama ini hany...
![D E T A K [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/219604903-64-k706686.jpg)