05 – PERSIAPAN MENUJU GERBANG KEBAHAGIAAN SEMU
Memperjuangkan sesuatu yang tidak pasti itu percuma.
Ibaratnya, seperti mencoba menggenggam air dan udara. Sama-sama mustahil!
▫️▫️▫️
JANTUNG, MERUPAKAN organ pertama yang akan merespon ketika melihat orang yang kita suka. Hati, adalah organ yang tidak berpengaruh terhadap respon, namun selalu sukses mendatangkan luka. Sementara otak, merupakan organ yang paling sulit mengendalikan perasaan seseorang. Jangan lagi bertanya, mana di antara ketiganya yang paling sulit dielak. Maka jawabannya adalah otak. Karena dia tidak bisa memilih kepada siapa kita akan memikirkan seseorang. Ia akan membeku, meskipun orang itu berlaku dingin bahkan kasar terhadap kita. Yang dipikirkan tetaplah satu, ‘aku mencintai dia.’
Levi itu cantik. Gadis Indonesia yang mempunyai garis keturunan Jepang dari sang ayah. Ia memiliki bentuk wajah yang tidak terlalu bulat dengan pipi yang sedikit chubby—tapi itu merupakan daya tariknya. Memiliki bentuk mata yang indah. Ketika ia tersenyum matanya pun akan ikut tersenyum. Punya bibir yang cantik berwarna pink alami, dan jangan lupakan hidung kecil yang mancung. Levi mempunyai tinggi badan ideal untuk perempuan. 164 centimeter tinggi badannya, dengan berat badan 54 kilogram. Benar-benar ideal. Itulah yang membuat Levi merasa yakin, bisa masuk ke tim cheerleaders meskipun hanya seminggu.
Beruntungnya, Levi mempunyai Melinda sebagai kapten tim cheers. Sehingga ia tidak perlu repot-repot membujuk para anggota lain agar mau menerima dirinya.
Lebih dari itu, Levi semakin beruntung—salah satu posisi tim ada yang kosong karena cidera. Betapa beruntungnya Levi.
Tapi, apakah Levi akan tetap beruntung sampai di hari pertandingan nanti?
Oh, ayolah, menjadi anggota cheers terlebih seorang flyer dalam waktu satu minggu. Apakah itu mungkin?
Mari kita ikuti kisahnya.
“Vi, gue tanya sekali lagi, lo yakin tetap mau ikut?” tanya Davina. Saat ini Davina dan Melinda berada di kamar Levi. Hari ini kata Melinda ada latihan cheers maka Levi harus ikut untuk latihan.
“Kalau gue nggak salah hitung, ini udah jadi pertanyaan lo yang kedua puluh satu. Dan jawaban gue masih tetap sama. Ikut!” Levi tidak main-main dengan ucapannya.
“Tapi gue takut sama nyokap lo,Vi. Kalau nyokap lo tanya kita mau ke mana, terus gue harus jawab apa?”
Levi memutar bola matanya dengan jengah. “Tinggal jawab aja kita mau hangout apa susahnya, sih? Lagian ini juga hari Minggu, pasti Mama gue ngerti. Jadi lo tenang aja, cukup diam.” Levi memasukkan barang-barang keperluannya ke dalam tas.
“Melinda, kok, lo diam aja? Ngomong sesuatu, kek, ke teman lo yang satu ini.”
“Apalagi yang harus gue omongin? Lo, kan, tahu sendiri sekalinya Vi bilang iya, pasti iya. Nggak ada kata pengulangan,” jawab Melinda malas-malasan.
Levi merangkul bahu Davina. “Udah, deh, Sist. Lo nggak perlu khawatirin gue lagi. Percaya aja, gue bisa melakukan ini.”
Menghela napas pelan Davina memilih mengangguk pasrah. Tidak ada gunanya lagi membujuk sepupunya yang satu ini. Levi orangnya keras kepala. Sekalinya ia bilang A, maka itu yang akan ia lakukan, dan tidak ada kata bantahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
D E T A K [COMPLETE]
Fiksi RemajaShanata Levi Azzura punya segalanya, kasih sayang orangtua, hidup berkecukupan, dan kesempatan kedua dalam hidup setelah menerima donor jantung. Sepuluh tahun ia menunggu, sampai akhirnya ia bisa merasakan indahnya masa SMA. Hal yang selama ini hany...
![D E T A K [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/219604903-64-k706686.jpg)